Minggu, 08 Maret 2015

Twenty-Five-Plus

Gelegar suara di pagi hari, yang mirip rentetan senapan pasukan Jepang kala membantai prajurit militer Indonesia pada peristiwa Palagan, membangunkanku dari kebebasan bermimpi sesuka hati. Bukan untuk menceracaui perkara bangun pagi yang membuat tubuh bugar atau kewajiban menunaikan ibadah pagi, namun persoalan hidup. Kira-kira begini bunyinya : “Selamat ulang tahun, Ka! Semoga cepat dapat jodoh yang seiman, setia, baik, tanggung jawab, bla bla bla bla. Pokoknya yang penting cepet nikah aja. Udah dua puluh lima tahun, loh. Jangan ketuaan nikahnya, nanti kasihan anaknya, udah pensiun tapi belum lulus anaknya. Bla bla bla bla” Sudah? Belum ternyata. Masih ada wejangan berlebihan lainnya. “Kamu tuh cepet kenalin pacarmu ke Ibu dan Bapak, biar nanti bisa ditimbang-timbang bibit, bebet dan bobot (sekalian saja babat dan bubut, biar lengkap, Bu!)” Menghela nafas dan mendinginkan kepala sambil meringis menahan asam lambung yang ikut memuai. Itu reaksiku. Memadamkan api memang harus dengan air, tapi daripada mencari air yang nun jauh di kamar mandi, alangkah lebih praktisnya kalau diberi gas saja. Duuuuut. Ritual pribadi pagi dimulai, diselingi nasihat yang lebih terdengar sebagai makian.

                Sadar atau tidak, dari kecil kita sudah dibiasakan untuk menjadi tertekan dalam kenyataan. Sebagai contoh, penekanan terhadap kata “nilai” atau “pahala” menjadi poin utama dalam memerintah kaum yang lebih rendah, baik dari segi usia maupun status, untuk menurutinya. Misalnya saja, seorang anak diperintahkan oleh sang guru untuk belajar rajin di rumah agar besok bisa mendapat nilai tinggi dan lulus ujian dengan baik, lalu masuk ke sekolah dengan ranking tinggi, lalu bisa melanjutkan kuliah ke universitas ternama dan kalau perlu hingga luar negeri, lalu bisa diterima di perusahaan bonafid agar mendapatkan jabatan dan gaji tinggi, lalu bisa berkarir hingga top management, dan masih banyak lalu lainnya. Di satu sisi, terdapat santri yang diperintah oleh ustadz untuk menunaikan shalat tepat waktu dan mengaji banyak-banyak dengan alasan agar mendapat pahala berlimpah ruah serta jaminan masuk surga. Bila dielaborasi, terdapat irisan antara keduanya, yaitu kuantifikasi dari nilai serta pahala yang diutamakan di atas tujuan aktivitas itu sendiri. Bila demikian, maka kesimpulannya, kita harus rajin belajar agar mendapatkan jabatan dan gaji tinggi ; kita wajib melakukan shalat tepat waktu dan rajin mengaji agar masuk surga. Joki, praktik sogok, hingga iuran wajib majelis pun terpaksa dilakukan untuk menunaikan warisan ajaran tersebut. Nah, akhirnya permukaan saja yang dipikirkan, kedalamannya malah dilupakan. Terang saja banyak orang yang mendewakan angka daripada makna, lha wong dari kecil sudah dibiasakan meneropong dari sudut materi dibandingkan esensi.

                Saya ingat perbincangan saya dengan seorang teman mengenai fase kehidupan. Kala kita sudah lulus dari universitas dan mulai meniti karir, di saat itulah kita dihadapkan pada kenyataan bahwa fase kehidupan harus dilakukan sesuai pakemnya,  masa bermain – masa belajar hingga lulus – masa bekerja – masa menikah – masa tua – masa kematian. Semua fase tersebut berhubungan dengan usia manusia. Seolah-olah,  kita sebagai manusia harus dengan patuh menaati semua fase tersebut tanpa jeda. Bila berbeda, maka kau akan diintimidasi dan dipaksa untuk kembali ke jalan yang –menurut kebanyakan- lurus. Tanpa disadari, alam bawah sadar kita telah ditekan untuk meyakini dan menjalani fase tersebut dengan sebenar-benarnya, tanpa tahu esensi yang terkandung di tiap prosesnya. Buat saya itu mengerikan. Maka, saya pribadi tidak sepenuhnya sepakat dengan fase tersebut, sampai saya menemukan esensi dibaliknya.

                Setali tiga uang dengan kritik tentang perkawinan yang ditulis dengan apik oleh Mbak Ayu Utami. Dalam salah satu bab pada novel Si Parasit Lajang, terdapat paragraf : Namun, di negeri ini dan di gerbong ini perkawinan masih merupakan angka nol, sebuah titik netral. Tidak kawin adalah minus. Tak ada satu pun di sini yang akan bertanya kepada seorang usia tigapuluh yang kawin, “Lho! Kenapa sudah menikah?” Sebaliknya, mereka selalu bertanya pada saya kenapa saya masih lajang. Dan jika saya jawab saya ini memang tidak kawin, mereka menyahut dengan nada kasihan, “Jangan begitu, ah. Bukan tidak tetapi belum.” Ini pula yang saya (mungkin kalian) alami saat bercengkrama dengan orang lain baik sebaya atau yang lebih tua. Alih-alih berbincang tentang sesuatu yang netral seperti kuliner, liburan, atau hiburan, malah urusan privasi yang digali hingga ke akarnya. Niatnya sih (menurut mereka) baik. Hanya ingin mengingatkan dan kalau perlu menolong hingga dapat jodoh (yang mereka harapkan), lalu menikah dan hidup bahagia (versi mereka, yang dipenuhi muatan materialistis dibanding substansi). Padahal, apa untungnya bagi mereka kalau saya menikah atau belum atau tidak? Paling hanya makan-makan di pesta resepsi, foto selfie, dan souvenir yang didapatkan. Ah, saya jadi ingat perkataan seorang anak kepada ibunya di sebuah pesta pernikahan, “Bu, pengantinnya udah tua ya? Koq gak kaya yang kemarin, lebih cantik. Kata Ibu, pengantinnya masih muda.” Lagi-lagi perkara alam bawah sadar yang sudah ditekan dari sejak dini untuk mengutamakan angka daripada makna, materi dibandingkan esensi.

                Saat berbicara perihal pernikahan, pasti tidak terlepas dari stigma “berkeluarga”. Jadi, kalau kita menikah, berarti kita akan beranak, berkeluarga, dan bertambah banyak. Dalam Si Parasit Lajang, dikatakan begini : “Jadi, apa sebenarnya “berkeluarga” itu? Kenapa orang-orang begitu kepingin melakukannya , padahal setelahnya mereka berubah jadi budak “tanggung jawab”? Kecuali para milyarder, orang-orang akan terjebak pada rutinitas kota yang mengerikan. Bangun di pagi buta. Sarapan seadanya atau tidak samasekali. Berangkat. Terjerumus dalam kemacetan. Atau berjejal-jejal dalam kendaraan umum. Menghisap karbonmonoksida dan segala polusi. Bekerja di kantor atau di manapun. Menjilat bos. Bersabar pada anak buah yang tolol. Makan siang. Memprospek orang sehingga lupa persahabatan. Berdesakan lagi dalam perjalanan pulang. Tiba di rumah lewat jam sembilan. Dapat secuil waktu melihat anak. Terlalu penat untuk bercinta dengan suami atau istri sendiri. (Lalu sebagian mulai bercinta dengan suami atau istri orang). Tidur dengan televisi berbunyi. Bangun subuh lagi. Begitu setiap hari kerja. Pada hari libur, tetap terjerumus dalam kemacetan. Kali ini mereka tidak menuju kantor melainkan menuju mal. Berduyun-duyun manusia tak punya hiburan selain membawa anak-anak pergi ke mal. Setelah beberapa tahun, sebagian bercerai. Betapa mengerikan hidup seperti itu. Tapi semua itu menjadi berharga sebab orang melakukannya demi tanggung jawab kepada anak-anak. Tapi, kenapa juga harus membikin anak-anak jika anak-anak itu juga akan terjerumus ke dalam rutinitas yang semakin mengerikan semakin banyak manusia dan anak-anak? Dan kenapa kawin kalau berpikir toh bisa bercerai? Mungkin saya terlalu pesimistis. Saya melihat lingkatan setan. Karena itu, saya mau menepi dari arus lingkaran ini untuk memiliki waktu bagi diri sendiri merenungkan apa sebetulnya yang terjadi. Sekarang, di tepi yang tenang saya bisa menonton arus rutinitas manusia sambil berpikir-pikir. Sebetulnya janji apa yang ditawarkan oleh perkawinan ya? Janji surga?”

                Esensi yang kerap ditinggalkan menjadi alasan mendasar yang harus dibereskan. Seringkali, kita terjebak pada kebiasaan orang-orang terdahulu tanpa melihat relevansi pada zaman sekarang. Alih-alih menjadikan usia sebagai alasan untuk mencari jodoh dan memutuskan menikah tanpa perencanaan yang matang, lebih bijak apabila kita memaknai tujuan dari pernikahan itu sendiri, tanpa repot-repot mengurusi privasi orang lain. Menikah itu, kan pilihan dan hak tiap orang. Seperti (lagi-lagi) saya kutip paragraf dari Si Parasit Lajang (saya memang fansnya Mbak Ayu :D) : “Jadi, kita memang tidak bisa melarang orang untuk menikah. Tapi kita juga harus tahu bahwa ada ada orang-orang yang tidak cocok untuk menikah. Nah. Karena kita tidak boleh melarang, maka untuk membatasi pernikahan dari orang yang tidak kapabel, sebaiknya kita juga tidak mewajibkan semua orang menikah. Dengan demikian, biarlah orang belajar menyadari sendiri apakah dia sanggup atau tidak mengemban tugas mulia itu. Sementara itu, untuk menjalankan perkawinan dibutuhkan komitmen seumur hidup dan kapasitas-kapasitas lain yang, jika ditotal, lebih berat daripada memecahkan masalah logika. Tapi pendek cerita, untuk menjaga sakralitas perkawinan, sebaiknya perkawinan memang tidak dipaksakan kepada semua orang.” Saya kira, bila tiap orang bisa memahami bahwa keputusan perkawinan adalah perkara kesetiaan pada manusia, bukan hanya pada lawan jenis, maka keseimbangan antara jiwa dan raga pribadi dan orang lain serta hal-hal eksternal lainnya dapat terjalin dengan harmonis, tanpa ekses atau reduksi. 

Pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kesadaran. Bukan paksaan. (A, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?