Selasa, 24 Februari 2015

Sebuah Jejak yang (Hampir) Terlupakan #2

Sebuah peristiwa pasti akan mengristal menjadi sejarah, apapun itu.
            Jejak sejarah warga Cina di Jakarta kami lanjutkan ke kawasan niaga Pasar Pagi Asemka. Tempat ini dahulunya adalah kawasan pecinan seperti halnya Glodok. Banyak rumah langgam Cina dengan ciri toko di lantai bawah dan rumah tinggal di lantai atas. Biasanya, terdapat cermin yang digantung di depan bagian depan bangunan. Fungsinya adalah sebagai penolak bala dan pengusir roh jahat. Atap rumah bergaya Cina pun memiliki dua tipe sesuai strata sosialnya, yaitu tipe tapal kuda di ujung kiri dan kanan atap dan tipe ekor burung phoenix yang lancip di kedua ujung atapnya. Kami menemukan satu rumah bergaya atap tapal kuda dan satu rumah yang lebih mirip kuil bergaya atap ekor burung phoenix. Usut punya usut, tipe bangunan kedua itu adalah milik keluarga Souw yang beralamat di Jl. Patekoan (kini Jl. Perniagaan). Konon, nama Patekoan berarti 8 buah teko/poci (pat te-koan) atau versi lain mengatakan delapan orang pendekar. Di daerah ini pernah tinggal seorang Kapiten Cina Gan Djie (1663-1675). Istrinya yang berjiwa sosial karena setiap hari menyediakan 8 buah teko berisi air teh untuk diminum untuk khalayak ramai yang keletihan dan kehausan di perjalanan. Angka 8 sengaja dipilih sebab angka ini memiliki konotasi baik/hoki. Jl. Patekoan ini kemudian berubah menjadi Jl. Perniagaan karena dianggap oleh rezim Orde Baru sebagai kawasan bisnis/niaga.
Tipikal Rumah Cina (dua-tiga lantai dengan cermin di bagian depan)
            Bangunan keluarga Souw masih dipertahankan keasliannya. Konon, keluarga Souw merupakan keluarga kaya raya. Salah satu yang terkenal adalah kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Mereka tak hanya kaya, namun berjiwa sosial. Tjong mendirikan sekolah bagi anak-anak bumiputera di tanah miliknya, membantu orang miskin, menyumbangkan makanan dan bahan bangunan ketika terjadi kebakaran di daerah sekitarnya. Karena jasanya, pemerintah Belanda memberikan gelar Luitenant Titulair (kehormatan) pada Mei 1877. Namanya juga tercantum sebagai donor pada pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang pada tahun 1875 dan Kelenteng Kim Tek le Batavia pada tahun 1890. Adiknya, Keng, diangkat menjadi Luitenant der Chineezen di Tangerang pada tahun 1884.
Bangunan Keluarga Souw di Jl. Patekoan (kini Jl. Perniagaan)
            Menyusuri Jl. Perniagaan, terdapat sebuah gedung sekolah bertitelkan SMAN 19 Jakarta. Dahulu, gedung ini bernama Gedung Tiong Hoa Hwee Koan yang menjadi saksi berdirinya organisasi Tionghoa ‘modern’ di Batavia yaitu Tiong Hoa Hwee Koan/THHK (Perhimpunan Tionghoa) pada 17 Maret 1900. Pada tahun berikutnya, THHK mendirikan sekolah modern pertama yang disebut Tiong Hoa Hak Tong/THHT, disusul dengan pembukaan cabang lain di seluruh Hindia Belanda. Berdirinya sekolah-sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa di Batavia terhadap pemerintah Belanda yang selama itu tidak pernah memberikan pendidikan kepada anak-anak Tionghoa. Akibat perkembangan THHK yang sangat pesat, pemerintah Belanda yang khawatir anak-anak Tionghoa akan tersedot semua ke THHK, mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS) yaitu sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Pada tahun 1965, THHK ditutup oleh rezim Orde Baru dan diambil alih pemerintah menjadi SMAN 19 Jakarta.
Tiong Hoa Hak Tong (kini SMAN 19 Jakarta)
            Beranjak menuju ke sebuah jalan kecil, terpampanglah spanduk bertuliskan Vihara Dharma Bakti di Jl. Kemenangan III (dahulu Jl. Toasebio). Pada jalan ini, terdapat Kelenteng Toa Se Bio yang berarti kelenteng duta besar. Konon, kelenteng ini dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiotha, Provinsi Hokkian yang dipersembahkan kepada Cheng-Goa Cin-Kun yang merupakan dewata khas daerah tersebut. Hingar bingar Imlek terasa sangat kental di sini. Paduan warna merah dengan aksen naga pun menyambut kami yang penasaran. Wangi hio bercampur api dari lilin melahirkan fatamorgana di udara. Aku pun masuk dan mendapati sebuah hio-louw untuk menancapkan hio atau dupa lidi berangka 1751 pada ruang altar utama. Hio-louw ini merupakan objek berangka tahun tertua kedua setelah meja sembahyang berangka tahun 1724 di Kelenteng Kim Tek Le.


Tampak Depan Kelenteng Toa Se Bio 
            Tak jauh dari Kelenteng Tao Se Bio, terdapat Gereja Santa Maria de Fatima yang merupakan gereja katolik. Konon, gedung ini pernah menjadi kediaman Letnan Tionghoa yang bernama Tjioe. Setelah Tiongkok jatuh ke Partai Komunis tahun 1949, serombongan rohaniawan katolik ordo Jesuit terpaksa meninggalkan Tiongkok. Sebagian pindah ke Jakarta. Gedung ini kebetulan dijual oleh pemiliknya dan dibeli oleh mereka yang selanjutnya dijadikan gereja. Salah satu keistimewaan gedung ini adalah adanya inskripsi dalam aksara Tionghoa. Di bagian bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya tang terdahulu yaitu Kabupaten Lam-oa, Karesidenan Coan-ciu. Inskripsi lain di bagian atap adalah bok siu khong leng yang artinya rezeki, umur panjang, kesehatan, dan ketentraman yang merpakan dambaan setiap orang. Pada altar gereja, terdapat asimiliasi budaya Cina yang tergambar dari warna, tulisan, dan bentuk furnitur. Menurut Pastur, karena sebagian besar umat yang beribadah adalah warga keturunan Cina sehingga ibadah dwi-bahasa Mandarin dan Indonesia-lah yang digunakan. Gereja ini tampak terawat dengan baik tanpa menghilangkan keasliannya. Dari sini, bisa terlihat bahwa kepedulian dalam melestarikan sejarah sebanding dengan usaha yang dilakukan agar tetap mempertahankan kekunoan dari kekinian.
Tampak Depan Gereja Santa Maria de Fatima
             Perjalanan dilanjutkan menuju Kelenteng Kim Tek Le yang merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Didirikan pada tahun 1650 oleh Letnan Tionghoa Kwee Hoean dan diberi nama Koan-Im Teng atau Paviliun Koan-Im (Dewi Welas Asih). Konon dari istilah Koan-Im Teng inilah kemudian timbul istilah kelenteng yang berarti “kuil Tionghoa”. Pada tahun 1740, kelenteng ini turut dirusak dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh orang Belanda. Hanya sebuah meja sembahyang berangka tahun 1724 yang tersisa dari peristiwa tahun 1740 dan merupakan objek tertua yang diketemukan di Jakarta saat itu. Pada tahun 1755, Kapitein der Chineezen Oeij Tjhie (menduduki jabatan tersebut 1750-1756) menamakan kelenteng yang dirusak dan kemudian dipugar kembali dengan nama Kim Tek Le atau Kelenteng Kebajikan Mas. Kim Tek Le telah dua kali mengalami pemugaran besar pada tahun 1846 dan 1890, sebagaimana tertera pada dua prasasti di dinding kiri dan kanan bangunan utama kelenteng ini. Pada pemugaran tahun 1890, atap kelenteng yang sebelumnya terdiri dari tiga petak diubah menjadi seperti sekarang ini, yakni tiga petak menyambung menjadi satu.


(Lanjut Ke Bagian Tiga)

*Credit Information : Booklet KHI versi Chinatown Journey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?