Minggu, 29 September 2013

ke MEDAN (ku kembali) #2



“..Gile ini pemandangan ajib amat!..” –di suatu pagi di roof-top

Menara air Tirtanadi, Medan (from roof top)
         Pagi di Medan tak seperti biasanya. Suhu pagi ini terasa demikian dingin. Mungkin hujan atau ac yang kelewat rendah. Entah, yang pasti adzan subuh di Medan lebih siang dibandingkan Jakarta. Pukul setengah 6, adzan subuh baru berkumandang. Seperti perjanjian sebelumnya, saya harus sudah siap dijemput pukul 7 pagi. Itu artinya saya harus sarapan di awal waktu, yaitu sekitar pukul 6. Dengan langkah gontai saya menuju kamar mandi walau mata sepertinya masih lima watt dan hangatnya selimut menggoda iman untuk beranjak bangun dari peraduan. Tak sampai satu jam, saya sudah siap dengan kupon sarapan yang berlokasi di puncak hotel alias Roof-Top. Saya pernah sekali sarapan di roof-top hotel Hermes ini. Suasananya memang menggiurkan untuk berlama-lama menghirup atmosfer pagi nan segar. Sayangnya, saat itu suasana terlalu ramai sehingga spot tempat duduk yang oke sudah diambil orang. Bagaimana dengan pagi ini? Mari kita lihat.
         Saya adalah tamu pertama yang datang ke Sirocco, nama roof-top restaurant ini, sehingga saya bebas memilih tempat duduk dengan pemandangan yang diinginkan. Sayang, hujan ternyata telah duluan datang. Tempat duduk idaman basah kuyup tersiram derasnya hujan dini hari. Namun, itu tak melunturkan niat saya untuk menyambangi tempat duduk strategis tepat menghadap ke arah pusat kota. Pemandangan setelah hujan memang berbeda dibandingkan dengan cuaca cerah. Terasa lebih segar karena paduan tetesan air yang membias terkena cahaya lampu dan mentari pagi yang perlahan muncul malu-malu. Sambil menghirup aroma teh panas, saya mencoba membayangkan. Apabila malam menjelang, beratapkan langit kelam nan cerah berpadu lampu gedung dan kendaraan lalu lalang, ditemani dengan musik syahdu, menciptakan suasana romantis apalagi ditemani oleh sang pacar. Sungguh, dunia benar-benar milik berdua. =p Menu yang ditawarkan di restoran ini memang terbilang biasa saja. Yang dijual disini adalah suasana hangat dan romantisnya. Walau harganya tak bisa dibilang irit, bila tempatnya membuat hati terbang ke langit, pasangan kasmaran mana yang bisa menolaknya? Hihi.
           Rencananya, malam kedua saya akan dihabiskan dengan wisata kuliner kembali dengan teman lama. Namun, karena kesibukan dia yang memuncak, akhirnya saya memutuskan untuk memenuhi hasrat perut sendiri. Dengan bermodalkan google map dan ingatan sekenanya, saya nekad menyetop taksi dan mengarahkannya ke jalan sekip untuk membeli lempo atau dodol durian favorit keluarga. Kemudian, dengan taksi yang sama, saya pergi ke kedai mie aceh yang menurut orang sih terkenal di kota Medan ini. Namanya Mie Aceh Titi Bobrok yang berlokasi di Jalan Setia Budi. Jaraknya lumayan jauh juga sih, tapi demi menuntaskan nafsu kuliner, sejauh apapun asal masih di Medan, saya jabanin! Hehe. Menu yang saya pesan kali ini adalah mie aceh kepiting dan roti cane kari. Ketika pesanan datang, wow..banyak sekali porsinya. Lupakan diet, bersiap melebarkan usus untuk mencerna suap demi suap hasil kuliner malam ini. Aroma rempah mie aceh sungguh menggoda lidah untuk tak berhenti bergoyang. Penampakan kepiting dan posisi peletakkannya di piring agak sedikit menakutkan untuk saya, namun marilah kita coba mungkin daging yang disajikan berlimpah, who knows? Saya pun mencoba mengeksekusi sang kepiting. Karena tidak disediakan alat pemecah kulit, maka apa boleh buat, dengan bantuan gigi geraham saya coba untuk memecahkan kulit yang sangat keras sampai-sampai timbul suara ‘KRAAK’ lumayan keras. Untuk mencoba menu yang satu ini, saya sarankan untuk tidak makan dengan pacar, karena level jaim akan langsung turun drastis ke level nol atau minus. Ilfil deh, masih mending, coba kalau sampai menyebabkan putus, kan ga elit banget. Hehe. Mie aceh selalu disajikan dengan acar timun, potongan jeruk limo, dan kerupuk singkong. Mungkin sebagai penyeimbang bumbu mie aceh yang hot ‘n spicy. Menu mie aceh telah habis disikat, nah sekarang giliran roti canenya. Rasa roti canenya biasa saja sih. Kuah karinya pun terlalu encer. Yah maklum saja, harganya 6 ribu rupiah, porsinya lumayan jumbo namun karena nafsu lebih besar daripada kapasitas perut, maka saya putuskan untuk membungkusnya untuk teman ngopi besok pagi. Harga yang saya bayar untuk seporsi mie aceh kepiting adalah 9 ribu rupiah saja ditambah roti cane 6 ribu dan teh tong 2 ribu. Makan malam murah meriah, 17 ribu sudah berlimpah ruah, coba kalau dibandingkan Jakarta, mie aceh plus plus mana dapet 17 ribu? Thanks God It’s MEDAN! =D 
          Setelah kenyang berkuliner, saya pun memutuskan untuk mencari taksi untuk pulang. 15 menit sampai hampir 30 menit saya menunggu, tak ada taksi satu pun yang lewat. Akhirnya, setengah nekad, saya menyetop becak motor alias bentor. Tadinya mau langsung ke hotel, tapi takut kejauhan, saya putar haluan ke Supermarket Berastagi yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto seberang hotel Grand Elite, tempat saya menginap tempo hari. Sebenarnya, di kawasan hotel Grand Elite ini banyak yang berjualan mie aceh. Rasanya pun tak jauh dari Mie Aceh Titi Bobrok dan yang pasti harganya lebih murah. Seporsi mie aceh dengan topping daging kambing dibanderol dengan harga 6 ribu saja. Namun, porsinya sih ¾ kali Mie Aceh Titi Bobrok, porsi paling pas untuk perut saya. Nah, perjalanan malam-malam naik bentor adalah pengalaman pertama saya selama ke Medan. Sendiri pula. Untung saja abang pengemudinya termasuk yang jujur dan baik, kalau tidak waduh, bisa terjadi adegan penculikan hingga perampokan apalagi jalanan Medan di atas jam 9 itu termasuk sepi dibandingkan Jabodetabek. Makanya, hati-hati kalau di Medan malam-malam dan sendirian. It’s better for you to go by taxi than Bentor for sure. Sampai di Supermarket Berastagi, saya langsung menuju ke bagian produk jajanan lokal. Saya mencari Keripik Singkong Balado khas Padang merk Christine Hakim. Sayangnya, saya kurang beruntung. Tak ada satu pun stock disana. Supermarket Berastagi ini terkenal dengan buah-buahannya yang beragam dibanding supermarket lain serta produk impor dari Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga Amrik pun berjejer dijajakan. Kalau dari harga sih ya sama sajalah. Sebut saja coklat Hersey’s harganya 90 ribuan hingga 200 ribuan. Relatif mahal, tapi lengkap. Itulah alasannya semakin malam supermarket ini semakin ramai saja.
           Pukul 21.30, saya beranjak pulang. Dengan harap-harap cemas, saya menunggu taksi tepat di depan Supermarket. Masa sih supermarket segede ini ga ada taksi yang ngetem? Eh ternyata pertanyaan hati kecil saya itu salah besar. Setengah jam saya menunggu, tak ada satu pun taksi yang lewat. Akhirnya, ada seorang pria yang berbaik hati untuk mencarikan taksi untuk saya. Lucky me, 10 menit menunggu, taksi bergambar burung biru pun menghampiri. Walaupun Medan di malam hari lumayan sepi dan saya dihantui berita tak sedap tentang kejahatan di malam hari, namun saya bersyukur perjalanan saya tak dinodai kenyataan pahit. Thanks to every nice guy who contibuted my night out =)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?