Minggu, 29 September 2013

ke MEDAN (ku kembali) #1



Menyadur salah satu lirik lagu lawas yang telah disesuaikan, maka judul diatas pun dipilih untuk mengabadikan salah satu momen berharga dalam hidup, menginjakkan kaki ke sebuah ibukota di pulau seberang. Sebenarnya, sudah beberapa kali dalam sejarah hidup, saya ditugaskan ke unit di Medan, namun ini adalah kali pertama saya pergi sendiri. Awalnya, memang agak takut karena saya belum terlalu familiar dengan lingkungannya yang sangat berbeda dengan keseharian saya, namun dengan modal nekad, semua dapat ditanggulangi dengan baik, bahkan mengguratkan sebuah catatan pribadi baru, unforgettable moment in life.
Seperti biasa, saat matahari belum menampakkan diri, saya sudah bertengger manis dalam bus damri. 2 jam sebelum jadwal boarding, saya sudah menapakkan kaki di bandara kebanggaan ibukota. Ditemani dengan bubur dan sebuah buku, saya menunggu waktu. Lebih baik menunggu daripada terlambat, apalagi ini tidak main-main, bila telat sedikit rusaklah simpanan sebelanga ditambah interogasi kalau tagihannya ingin diganti. Hehe.
Tengah hari, saya pun sampai di bandara terbaru kepunyaan orang Sumatera Utara, Bandara International Kualanamu. Desain yang minimalis dipadu dengan sentuhan arsitektur ala negeri tetangga membuat bandara ini lebih kinclong dibandingkan dengan bandara Soetta. Namun, sayangnya, tidak seperti Polonia, di Kualanamu ini saya belum menemukan motif ukiran-ukiran khas batak di sudut dan gerbang bandaranya. Padahal, motif ukiran batak inilah yang saya nantikan. Ada unsur magis yang menghipnotis tatkala saya memandangnya. Entahlah, mungkin saya jatuh cinta. Mungkin.
Saya menginap di sebuah hotel di Jalan Pemuda no. 22. Namanya Hermes Palace. Lokasinya tepat di depan nasi goreng Jalan Pemuda, di seberang restoran Marimar, di sebelah toko kue C&F, di belakang supermarket Berastagi 2, dan tak jauh dari jalan Wajir yang terkenal dengan kulinernya. Hotel Hermes ini merupakan hotel bintang 3 yang sangat terjangkau harganya. Untuk kamar standar (single bed/double bed – non jendela) harganya berkisar antara Rp. 380.000 – 450.000. Untuk kamar deluxe (single bed/double bed – ada jendela) harganya berkisar antara Rp.550.000 keatas. Untuk lebih jelasnya silakan kunjungi websitenya. Dari namanya saja sudah tergambar sebuah suasana eksklusif ala desain tas berkelas. Namun, ternyata di Medan, penamaan ala barat merupakan sebuah kebiasaan tersendiri. Sebut saja Cambrige atau Karibia. Walaupun kalau saya sih, lebih suka penamaan hotel ala Indonesia. Bukannya sok nasionalis, tapi ya memang begitu kenyataannya, mau gimana lagi? Hehe. Sebelumnya, saya sudah pernah menginap disini, bedanya dulu ada teman, sekarang ya sendirian. Tapi tak mengurangi semangat dalam memaksimalkan kesempatan di Medan, apalagi kalau bukan jalan-jalan dan berkuliner-ria, hehe.
Nah, pada hari pertama ini secara tak sengaja saya menghubungi teman kuliah saya yang sedang ditugaskan di Medan. Dan, voila! Dia ternyata bisa menemani saya berkuliner sekaligus reuni kecil-kecilan. Teman saya ini benama Akbar, seorang konsultan SAP di sebuah perusahaan swasta. Tanpa banyak kata, kami langsung meluncur ke Seafood Wajir yang berada tak jauh dari belakang hotel saya. Ini kali pertama saya mencicipi seafood yang konon terkenal di Medan. Kami memesan ikan kakap cabe ijo, udang telur asin, dan kangkung belacan. Ini dia penampakannya :
Kakap Cabe Ijo

Kangkung Belacan

Udang Telur Asin

Dari segi rasa memang sangat meggugah selera. Ikannya manis, udangnya gurih, dan kangkungnya terasi sekali. Tak kecewa saya menginap di Hermes Palace. Hari pertama saja sudah membuat mood melambung tinggi, apalagi hari berikutnya? Plus, ditemani seorang teman lama, bercerita mengenai kehidupan pasca kuliah. Sebuah pembincangan yang selalu hangat untuk dibicarakan dan disimak. Terlebih karena hidup selalu menawarkan berjuta pilihan dengan akhir yang tak dapat ditebak. Sekali kita melabuhkan sebuah pilihan, ada saja kejutan yang tercipta di dalamnya, tanpa kita meminta apalagi berharap. Seperti Akbar. Karena pekerjaannya bersifat project-based, maka ia pun harus rela hidup jauh dari keluarga dan beradaptasi terus dengan lingkungan baru baik dalam tim maupun perusahaan kliennya. Namun, dari semua konsekuensi tersebut banyak bonus yang terselip di dalamnya. Travelling around Indonesia, exploring new atmosphere, and trying more signature culinaries. Buat saya sih, itu sangat amat cukup. Jalan-jalan, berkuliner, berkenalan dengan teman baru, plus menjepret tiap momen menjadi hal yang sangat indah dalam hidup. Secara tak langsung, membuat kita jadi tambah dewasa dan tambah berpikir simpel namun strategik. Bagaimana beradaptasi dengan hal yang tidak kita bayangkan sebelumnya dengan tetap menuntaskan perjalanan sesuai rencana? Travelling can answer them all.
Seafood Wajir dan teman lama adalah jawaban atas kesendirian di Medan. Maklumlah, untuk saat ini, rekan kerja tak suka bila diajak ngebolang untuk kulineran. Jadi, sendiri adalah bonus takdir yang tak boleh disia-siakan. Hehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?