Minggu, 12 Mei 2013

Thailand #5 : Farewell, TGIF!


Thanks God It’s Friday! Yeah..this is our last day visiting Thanakorn Vegetable Oil Products Factory. It’s quite sad reminded all of people there were really kinds and respect to us. If there’s a chance to working with them, I’m really happy to take it for granted. Hehe. Anyway, di hari terakhir ini, kami mempresentasikan mengenai dokumen yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi halal. Dalam sesi ini, terlihat beberapa kali miss-understanding according to our different pronounciation in english, but because of Mr. Thanakorn can speak better than others, so we can run smoothly. Hari ini kami banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, berdiskusi dan berbincang soal kelengkapan dokumen yang wajib dibuat. Kami keluar hanya ketika makan siang, untungnya hanya di kantin, sehingga tidak menyita banyak waktu. Makan siang terakhir kami adalah Tum Yam dan ditutup dengan ubi manis yang diselimuti dengan kuah santan encer. Mungkin namanya sticky sweet cassava with coconut milk, mungkin. Kemudian, setelah makan siang, kami lanjutkan sisa-sisa perjuangan kami menjelaskan segala hal tentang halal hingga pukul 17.00 pun kami mengakhirinya dengan closing meeting tanpa manajemen karena mungkin karena terlalu sore dan manajemen sudah pulang. But, no problems. Yang penting adalah kami telah mentransfer semua informasi yang dibutuhkan kepada pihak Thanakorn sehingga mudah-mudahan memudahkan dalam melengkapi sistem halal yang wajib diimplementasikan. Di hari terakhir ini, kami disuguhi dengan farewell kecil-kecilan seperti Ibu Mulyorini kemarin. Penyerahan souvenir Thai Silk dengan titel Jim Thompson pada plastic bagnya menjadi kenang-kenangan yang mungkin pertama dan terakhir kalinya dalam hidup saya, berkunjung ke Thanakorn. Lalu, sesi foto-foto wajib pun dimulai. It’s nice to captured all of memory with them which looked into this picture below :
See you, team!
Usai farewell dan foto bersama, saya dan partner diantar untuk pulang oleh Mr. Thanakorn. Karena kami memang berniat untuk pindah hotel dan check-in di Bangkok, maka kami pun sudah siap dengan koper 24 inch dan alamat hotel yang direkomendasikan. Dalam mobil, kami banyak bercerita tentang perbandingan kondisi kehidupan kaum urban Indonesia dan Thailand, kehidupan masing-masing, binatang peliharaan, makanan, hobi, lagu, film, dan sebagainya. Mr. Thanakorn ini tipikal orang yang ramah, lembut, dan senang bercerita. Klop sekali dengan saya dan partner. Mr. Thanakorn bercerita bahwa dia sudah menikah, belum memiliki anak, punya binatang peliharaan yaitu 3 anjing dengan nama Ko, Ki, dan Mina. Ko berarti berandalan laki-laki, Ki berarti berandalan perempuan, dan Mina berarti lucu dan imut. Odd names, I think, hehe. Kemudian, kami pun saling bertanya tentang arti nama masing-maisng. Dengan rasa penasaran menggelora, saya bertanya tentang nama Thanakorn Boonbundarnsuk yang terasa janggal di lidah saya, orang Indonesia. Is he the owner of Thanakorn Vegetable Oil Product Factory? Nope, he doesn’t. He said that in Thailand, so many people named Thanakorn. Thanakorn means hands, to make money, of course. Boonbondarnsuk means blessing and happy. So, maybe his parents wanted him to be a man who has hands to makes money with blessing and happiness thru his life. What a great name!
Lalu lintas yang memang agak padat pun tak terasa karena ditemani dengan saling bercerita satu sama lain. Pukul 19.30 sampailah kami di restoran Thailand yang sulit disebut namanya. Kami pun banyak memesan tom yam seafood, ayam, dan sayuran karena I’m prohibited to eat pork of course. Tanpa terasa, dua jam sudah kami bercengkrama dengan alunan cerita yang terekam indah di memori. Karena sama-sama senang bercerita, rasanya ingin bertemu dan bercerita lagi. Entah mengapa saya sudah merasa kami dapat langsung dekat dalam menyelami cerita masing-masing. Lucu memang, selalu ketika dirasa sudah dekat sebagai teman, entah mengapa saat itu pula harus berpisah tanpa tahu kapan dapat bertemu kembali. Walaupun jarak umur kami berbeda sekitar 15 tahun, namun gaya bercerita beliau masih sama seperti kebanyakan anak muda, ceplas-ceplos dan apa adanya.
Bye, Color Living Hotel

Welcome to Florida Hotel
Tak terasa, waktunya kami untuk check-in ke Florida Hotel Bangkok. Lokasinya di Petchburi Road, persis dibawah BTS Station Phaya Thai. Sangat strategis untuk memenuhi agenda esok hari. Harga kamarnya 1100 Baht permalam, sekitar Rp. 385.000,-. Setelah kami berpamitan untuk berpisah, kami pun diantar bell-boy untuk menempati kamar kami. Begitu masuk, surprisingly, berbeda jauh dengan hotel sebelumnya. Interiornya jadul banget sehingga saya pun dejavu tentang kamar tersebut. Kamar itu mengingatkan saya dengan kamar di rumah mbah saya. Semua serba kayu , gordennya bermotif bunga jadul, AC-nya berukuran besar dan diletakkan dilantai, serta tv-nya pun masih tv cembung 14 inch. Hahaha. 1100 Baht memang sangat murah dengan lokasi sestrategis ini. Ya sudahlah, kita tinggalkan kenyamanan, fokus pada agenda esok hari yang pastinya akan sangat seru dan membuat koper terisi penuh. Let’s do some rest to recharge our energy for tomorrow’s journey. Can’t wait!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?