Minggu, 12 Mei 2013

Thailand #4 : Plant Visit


Hari ini adalah hari dimana kami harus menyelesaikan semua rencana kunjungan kami selama di Thailand ini sendiri, tanpa bantuan Ibu Mulyorini. Okay, taking a deep breath first. Walaupun kami merasa our english wasn’t as fluent as it should, but just be confident, tried our best, and let God do the rest. Hari ini kami berencana untuk visit plant untuk memahami proses produksi dan prosedur yang melingkupinya. Lagi-lagi karena masalah bahasa Thailand yang sangat tidak kami mengerti, maka semua prosedur harus diterjemahkan terlebih dahulu dalam bahasa inggris sehingga kami dapat mengerti secara general. Namun, karena Ms. Wantanee yang menjadi person in charge prosedur dan quality manual tidak terlalu fasih berbahasa inggris, maka ia seringkali mendiskusikan pilihan kata untuk menjelaskan kepada kami. Ya, sepertinya kami harus saling mengerti, karena kami sama-sama tidak menggunakan bahasa inggris dalam keseharian sehingga agak kagok juga. Itulah tantangannya. Just staying cool and did the best.
            Setengah hari dihabiskan dengan menjelaskan prosedur. Yeah, banyak hal yang membaut kami miss understanding. Salah satunya adalah mengenai vacuum. Ms. Wantanee and friends menjelaskan tentang vacuum dengan logat Thailand. She pronounced vacuum with “we-kaam”. Saya dan rekan pun agak tercengang sekaligus merenung, “we-kaam” apa maksudnya? Kami pun mengasumsikan “we-kaam” sebagai “wet-come” dan mencoba memverifikasi kepada beliau. Ternyata, tet-tot! Asumsi kami salah besar. Akhirnya, beliau menuliskan “we-kaam” yang ia maksud yaitu vacuum. Oh My Godness! Karena perbedaan pengucapan menyebabkan perbedaan arti yang kami maksud. Jadi, kami berkesimpulan bahwa orang Thailand itu, “v” dibaca “w” dan “u” selalu dibaca “a”. Maka, kami pun harus pasang telinga baik-baik dan mencerna tiap kata yang mereka ucapkan. Jangan-jangan beda pengucapan lagi. Inilah tantangan sebenarnya. Hahaha.
Setengah hari berikutnya dihabiskan untuk menjelaskan proses langsung ke lapangan. Proses produksinya lumayan panjang karena Thanakorn ini mengimpor bahan baku berupa seed/biji kedelai dan bunga matahari, lalu diekstraksi menjadi crude oil, lalu barulah dimurnikan hingga menjadi Refined Bleached Deodorized Soya Bean Oil/ Sunflower Oil dengan by products berupa lesitin dan pellet untuk bahan pakan ternak. Walaupun tidak semua proses kami sambangi, namun sebagian besar proses dijelaskan oleh Ms. Wantanee. Beliau mengajak kami ke refinery section. Disini ada teknologi baru yang diklaim menjadi teknologi paling mutakhir diantara pabrik minyak kedelai lain dan Thanakorn adalah satu-satunya pabrik yang memiliki teknologi ini. Ice Condencing System (ICS) adalah high-end technology yang berhubungan dengan proses deodorisasi minyak sehingga menghasilkan minyak dengan 0% trans fatty acid (asam lemak trans) yang tidak baik baik tubuh. Proses ICS ini pada dasarnya menggunakan teknik vakum dimana es yang berada dalam tangki yang berhubungan dengan tangki deodorisasi sedikit demi sedikit meleleh berubah menjadi gas vakum dan mendinginkan minyak di dalam deodorisasi sehingga suhu di dalam deodorisasi tidak terlalu tinggi yang dapat menyebabkan ikatan karbon di minyak putus dan berubah menjadi trans-fat. Prinsip ICS ini mengikuti prinsip hukum fisika yaitu PV = NRT dimana tekanan dan volume berbanding lurus dengan temperatur. Demikianlah teknologi yang menggunakan prinsip vakum menjadi jawaban dalam meningkatkan kualitas sesuai target pasar. Walaupun agak sedikit technically dalam menjelaskan dan saya pun tak terlalu paham dengan semua rumus yang diutarakan oleh Ms. Wantanee, namun prinsip dan rahasia resepnya sudah dibagi ke kami. Lumayanlah untuk menambah pengetahuan. Kemudian, perjalanan berlanjut ke proses filling. Semua proses dijalankan oleh mesin dan robot secara otomatis. Karyawan yang bekerja pun sangat minimalis dan berfungsi untuk mengontrol jalannya otomatisasi mesin dan penyetingan awal. I was really amazed with kinds of robotic system thru filling line. The robot was like hands of Dr. Otto who changed into Dr. Octopus in Spiderman movies. So, the yield of filling section are higher than manual working and all of them are hands-free yet food safety required. That’s why the line run very fast as the customer ordered the products. Great technology, wish it’ll be implemented in Indonesia so. Terakhir, kami melihat laboratorium yang baru didirikan setahun belakangan. Laboratoriumnya sangat rapi dan bersih, dengan interior seperti lab-lab penelitian negeri Barat, khas sekali. Alat-alat pengujian pun kebanyakan otomatis sehingga mempercepat jalannya pengujian yang dilakukan. R&D section pun dikhususkan hanya untuk penelitian saja. Hal ini tercermin dari supervisor R&D yang merupakan seseorang dengan gelar doktoral, lulusan salah satu universitas di Bangkok jurusan material sciences. Sang Doctor terlihat masih muda, saya taksir berumur di awal 30an, dan ia masih fresh-graduates, belum pernah bekerja sama sekali. Wow. Sangat jarang bahkan tidak pernah saya temui orang seperti dia di Indonesia. Bila ingin bersekolah hingga jenjang doktoral, maka kebanyakan mengambil profesi sebagai dosen di perguruan tinggi atau menjadi peneliti di lembaga pemerintahan atau swasta. But, it’s broaden my information about chance to study as higher as we can. Karena hari sudah semakin sore, maka kami menutuskan untuk mengakhiri plant visit hari itu. Kemudian, kami meminta supir untuk mengantar kami ke Tesco Lotus, supermarket asal Inggris yang terkenal di Bangkok, untuk membeli oleh-oleh makanan. And here we were, with kinds of seasoning, peanuts snacks, and so on. Then, we closed our day with dinner in KFC (again). We surveyed all of restaurant and there’s Mc Donalds. But, unfortunately, Mc Donalds sold pork, so I can’t eat them all. KFC was the best place to eat, but Indonesian KFC always be the winner of tastyness. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?