Minggu, 27 Januari 2013

Instanisasi, do you?


“..Ketika dunia ini telah berubah menjadi instan, maka kemustahilan sekejap menjelma jadi kemungkinan
         Topik tentang Instan memang paling pas dibahas di senja hari menjelang malam ketika perut sedang keroncongan atau di pagi hari ketika tubuh perlu asupan zat pembangkit energi untuk menghadapi panjangnya hari. Mie Instan. Kopi Instan. Kebiasaan kaum urban, ya seperti saya ini. Hidup dipacu dengan waktu yang disekat dengan target yang padat. Makanan dan minuman instan yang diperkaya oleh gula sederhana, vitamin, mineral, perasa, pewarna, dan zat tambahan lainnya menjadi jalan keluar dalam pemenuhan asupan gizi tubuh. Tanpa sadar, makanan dan minuman instan yang sedang menjadi trend dunia modern tersebut layaknya musuh dalam selimut, manis di bibir, meringis di akhir. Apalagi apabila dikonsumsi terlalu sering bisa mengakibatkan penyakit kronis seperti kanker. Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Kalau belum kejadian, ya tak henti mulut ini mengecap mie instan di sela-sela makan siang.
        Disadari atau tidak, kita, kaum yang hidup di era teknologi modern dan perdagangan bebas, dikelilingi oleh segala kemudahan dalam memenuhi kebutuhan dari primer hingga tersier. Setiap hari kita dimanjakan oleh berbagai produk instan yang dijual baik di pasar tradisional hingga supermarket ternama. Tak hanya makanan dan minuman, produk perawatan tubuh hingga kendaraan pun dapat dimiliki dengan mudah dan cepat. Instanisasi telah menyebar bagai virus, menelusup ke sendi-sendi kehidupan, mengalir hingga ke nadi. Instanisasi adalah sebuah proses perubahan dari sistem manual ke sesuatu yang mudah/instan. Dalam pembentukan proses untuk menjadi instan, setidaknya diperlukan beberapa langkah yang membentuk suatu lingkaran berkesinambungan yang saya sebut sebagai cyclo-instant. Ada 5 hal yang mendasari terbentuknya cyclo-instant :
Input adalah asupan, baik kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Input ini merupakan cikal bakal terjadinya instanisasi. Input dimulai ketika adanya persuasi dari pihak eksternal seperti produsen brand product tertentu yang mempenetrasi pasar sehingga mau tak mau mempengaruhi dan memikat pola pikir konsumen. Dari sini, konsumen mulai memilih akan tertarik atau tidak dengan produk tersebut yang didasari oleh selera/kesukaan, kelebihan produk tersebut dari berbagai sisi, inovasi baik komposisi maupun kemasan yang ditawarkan, serta harganya. Setelah pola pikir terbentuk, maka konsumen pun penasaran ingin mencobanya. Trial dan Error pun dilakukan untuk menentukan tingkat penerimaan konsumen terhadap keseluruhan produk tersebut. Hasilnya bisa baik, bisa pula sebaliknya, tergantung penilaian konsumen secara subjektif. Apabila konsumen tertarik untuk kenal lebih jauh dengan produk tersebut, maka dapat dikatakan konsumen sudah menggantungkan pilihannya. Pada tahap tersebut, terdapat kecenderungan untuk membeli berkali-kali hingga membentuk suatu kebiasaan tersendiri. Sepertinya ada yang kurang apabila tidak membeli produk tersebut. Kebiasaan pun semakin berkembang menjadi suatu sistem yang konsisten dijalankan. Pada tahap terakhir ini, produk sudah dapat dikatakan stabil melekat di kehidupan konsumen. Konsumsi produk instan pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari siklus hidup tiap individu. Instanisasi sukses terbentuk.  
 Cyclo-instant yang telah diulas diatas merupakan buah teori saya tentang instanisasi produk dari berbagai bidang. Siklus tersebut saya adaptasi dari siklus Plan-Do-Check-Action. Apabila ditarik garis antara teori dan fakta, bahwa input yang ada pada tahap pertama adalah kebutuhan primer, sekunder, dan tersier yang tersebar membentuk banyak pilihan di sekitar kita. Misalnya saja makanan dan minuman instan seperti mie, kopi, serta makanan dan minuman ringan yang banyak diiklankan. Dari iklan tersebut kita berpikir produk dengan merk apakah yang sesuai selera kita? Pola pun terbentuk dan saatnya mencoba. Apabila kita lidah kita cocok dengan produk tersebut, misal makanan merk A dan minuman merk B, maka  kita akan penasaran, ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Maka kita membeli merk A dan B dengan jumlah yang agak banyak dan membentuk suatu kebiasaan. Tiap bulan, kita canangkan dana kita untuk membeli merk A dan B. Terus menerus hingga membentuk suatu sistem yang mengakar di kehidupan kita.
Instanisasi yang terjadi membentuk suatu sifat orientasi hasil dan angka dibandingkan proses. Tak peduli proses awalnya sulit dan berliku, yang penting produk mudah digunakan dan laku dijual. Dengan sistem tersebut, perusahaan pun tak mau rugi menggaji banyak karyawan. Dengan investasi triliunan rupiah, pabrik-pabrik telah mengimplementasikan sistem komputerisasi dan teknologi robotik dalam proses produksinya. Manusia berperan sebagai dalangnya, sedang eksekutornya ya komputer dan robot. Otomatis, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pun semakin sedikit. Dengan pertumbuhan penduduk layaknya deret ukur menjadikan persaingan semakin sengit, hukum rimba beserta seleksi alam pun kembali berlaku, siapa kuat dia dapat. Mereka pun jadi kurang peduli dengan sistem keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Yang penting sudah disediakan. Urusan pemeriksaan rutin serta peran serta manajemen dalam kegiatan yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan, itu prioritas nomor sekian. Yang penting produksi lancar, penjualan gencar, dan untung terus memancar. Namun, yang memprihatinkan adalah dari sisi spiritualitas yang cenderung menurun dibandingkan dengan produktivitas. Individu lebih mengutamakan bekerja tanpa kenal lelah dan waktu dibandingkan dengan sholat lima waktu. Mengaji pun kalau sempat saja. Sisanya dihabiskan dengan aktivitas duniawi yang tak pernah ada habisnya. Bila dirunut, memang berpangkal pada instanisasi juga. Bukan menyalahkan, namun mengingatkan diri sendiri bahwa orientasi hasil ini sangat bertentangan dengan prinsip keseimbangan, yin dan yang menurut falsafah Cina, dimana ibadah rohani harus berjalan seimbang dengan pekerjaan duniawi. Memang, duniawi terlihat begitu gemerlap dan menghasilkan dibandingkan ibadah rohani. Namun, apakah investasi jangka panjang kita abaikan demi pundi arta yang dalam sekejap dapat habis? Apakah keuntungan berlipat lebih diutamakan dibandingkan investasi keselamatan dan kesehatan nyawa manusia? Apakah kesehatan kita korbankan demi kemudahan instan dari produk siap saji tiap hari? Kadang kita lupa dengan hari esok karena terlalu kalap dengan kenikmatan hari ini.
Instanisasi, telah membantu kita dalam segala hal, berbagai proses jadi mudah dan cepat, layaknya kredit kendaraan dengan bunga 0% tanpa uang muka. Tanpa instanisasi, mungkin kita tidak bisa mengecap manisnya instant white coffee, merasakan kelembutan pizza dan ayam crispy restoran franchise fast-food, atau menggoyang lidah dengan gurihnya mie instan yang bikin nagih. Namun, berkaca pada cyclo-instant, kita harus pintar memilih dan menentukan. Dari sisi konsumen, berhati-hatilah memilih produk instan yang dimakan. Dari sisi produsen, bijaklah menentukan sistem yang digunakan, sistem yang berorientasi hasil dan mengabaikan proses atau orientasi proses yang mengabaikan hasil? I choose Balancing with no orientation. Result and process thru product margin and people development must walk side by side. They form the system, output of cyclo-instant.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?