Senin, 23 Januari 2012

Relationship : my point of view

..talking about relationship, apparently it’s common in our life. Relationship refers to one who loves a guy. They make their own commitment and do anything together. Relationship has already become a young life style..
           Relationship atau teman special atau pacar merupakan salah satu bagian dari gaya hidup anak muda dewasa ini. Sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi ketika seorang muda menyatakan perasaannya secara terbuka dan terang-terangan ke lawan jenisnya dengan membawa hadiah bunga, coklat, atau hal-hal indah lainnya. Hal ini merupakan suatu dampak dari modernisasi zaman dan reformasi kehidupan sosial yang telah memasyarakat. Tengoklah ke sekeliling. Tidak peduli anak-anak, remaja, dan dewasa. Apabila malam minggu tiba, pasti disambut dengan suka cita. Seperti di kawasan tempat tinggal saya. Dari mulai Sabtu pagi hingga mencapai puncaknya di malam minggu, pemuda-pemudi saling bercengkrama, bercanda ria bersama, si cowo mengapel ke rumah si cewe atau sekedar janjian di perempatan, lalu si cowo menggandeng tangan si cewe, mengajak kencan makan malam di kaki lima atau resto untuk pemuda yang agak berduit-mengajak cewe nonton bioskop-jalan bergandengan tangan di mall, dan ketika malam semakin larut, si cowo mengantar si cewe pulang ke rumahnya. Bercanda ria sambil naik motor merupakan pemandangan yang sangat lazim di jalanan ketika malam minggu tiba.

Teknologi infomasi VS Relationship
         Seiring perkembangan teknologi informasi yang semakin maju, kehidupan sosial masyarakat khususnya anak muda pun mengarah kearah yang lebih modern dan terbuka. Modernitas dan keterbukaan informasi tersebut berhubungan erat dengan gaya hidup anak muda yang memiliki tagline : gaul. Dengan dukungan teknologi yang bernama internet maka kehidupan sosial anak muda yang notabene sedang dalam masa mencari jati diri, menunjukkan eksistensinya di depan publik, dan bersikap ideal dalam menyikapi dinamisasi kehidupan direkam jejaknya melalui sosial media bernama facebook, twitter, tumblr, dan lain-lain. Upload foto, status, wall to wall, comment, mention, net tweet, retweet, atau like or unlike merupakan pemandangan sehari-hari yang kerap kita jumpai dalam kehidupan sosial dunia maya. Hal tersebut merupakan manifestasi dari perubahan alamiah manusia modern yang dinamis dan berkembang dari waktu ke waktu. Teknologi informasi menawarkan berbagai pilihan yang memanjakan sekaligus membunuh detik demi detik dengan beragam informasi. Pesatnya fasilitas transfer informasi tersebut membuat para pemuda dan pemudi memanfaatkan setiap celah ruang dunia maya untuk dimanfaatkan sesuai selera dan gaya masing-masing. Berkenalan dan berinteraksi lewat jejaring sosial merupakan salah satu bentuk pemanfaatan dunia maya. Lewat interaksi secara tidak langsung itulah anak muda menjalin persahabatan dan cinta. Pacaran ala sosial media adalah salah satunya yang banyak dimanfaatkan oleh sepasang kekasih untuk sekedar mengungkapkan rasa sayang, menunjukkan eksistensi sebagai sepasang kekasih, janjian, menyindir pacarnya dan marahan, sampai menjadi sarana komunikasi untuk sepasang kekasih yang terpisah jarak atau dalam bahasa gaulnya adalah LDR (Long Distance Relationship).
            Apabila kita lihat dari sisi ekonomi, sepintas pacaran ala dunia maya lebih hemat dibandingkan dengan pacaran ala dunia nyata karena pacaran ala dunia maya hanya membutuhkan modal koneksi internet sedangkan pacaran ala dunia nyata wajib mengeluarkan ongkos untuk berkencan. Namun, tunggu dulu. Ibarat 2 mata uang yang berbeda sisinya, ternyata pacaran ala dunia maya bisa tergolong murah atau mahal. Dikatakan murah apabila sang pemuda selalu menggunakan jasa warnet untuk bersosial media ria dengan sang pemudi sehingga menyebabkan pembengkakan biaya untuk membayar warnet. Taruhlah harga warnet perjam Rp. 5.000 dan minimum penggunakan koneksi internet untuk sepasang kekasih yang dimabuk cinta adalah 4 jam maka harga yang harus dibayar adalah Rp. 20.000 perhari. Namun, berterimakasihlah kepada para provider yang berlomba-lomba menarik hati costumer dengan harga paket internet murah yaitu paket unlimited internet dari Rp. 49.000/3 bulan hingga Rp. 99.000/bulan. Bermodalkan telepon seluler, sang pemuda dapat berpacaran dengan leluasa lewat sosial media dengan sang pemudi tanpa dibatasi waktu. Inilah kecanggihan teknologi informasi yang menjadi pilihan gaya berpacaran anak muda atas nama gaul dewasa ini.
        Pacaran ala dunia maya maupun pacaran ala dunia nyata ternyata membawa dampak positif maupun negatif. Pacaran yang berarti persahabatan spesial antar gender berdampak positif sebagai sarana untuk menambah teman, sebagai sarana untuk menambah semangat dalam beraktivitas karena adanya saling support antar gender, hingga sebagai sarana untuk mengenal pribadi satu sama lain sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, apabila tidak berhati-hati, lemahnya iman, dan prinsip/komitmen positif yang tidak kuat maka pacaran dapat menjadi bumerang tersendiri. Pergaulan bebas dan dampaknya merupakan dampak negatif terbesar dari aktivitas pacaran.

Pacaran ala saya
        Sesuai dengan bahasan pacaran di atas, maka saya ingin menggabungkan opini saya diatas dengan pacaran ala saya. Bagi saya, pacaran merupakan sarana untuk mengetahui dan memahami karakter seseorang bertitel pacar yang harus membawa dampak positif terhadap kehidupan saya sekaligus dapat menjadi partner-in-crime dalam artian positif untuk sekedar berdiskusi, bercanda ria, bergosip, saling support, bermimpi untuk sukses bersama hingga evaluasi langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya. Pacaran bagi saya dan pemuda tersebut bisa dibilang berbeda dengan pasangan lainnya. Dari mulai awal jadian sampai detik ini kami menjalani status pacaran, telepon seluler dan pertemuan sesekali merupakan media yang setia untuk saling berbagi keluh kesah hingga keceriaan. Pacaran ala kami pun bukan merupakan pacaran ala dunia maya karena baru sekali kami eksis di facebook dengan mengganti status kami menjadi : in relationship with dan beberapa waktu kemudian kami menghapusnya dan bukan pula pacaran ala dunia nyata dengan intensitas jadwal pacaran yang rutin. Bukannya status pacaran dan pertemuan itu tidak penting, namun kami sengaja tidak mempublikasikannya. Biarlah kami sendiri yang mengetahui dan menjalani semuanya dengan cara kami sendiri.
Teman-teman pun mempertanyakan keganjilan yang terjadi di antara kami. Apakah kami pacaran main-main ataukah kami sudah putus? itulah pertanyaan lazim ketika kami bertemu teman lama. Ganjil menunjukan adanya perbedaan cara dalam menyikapi sesuatu yang lain dari orang kebanyakan. Namun, kami menanggapi semuanya dengan santai. Kami memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayang. Percakapan via telepon seluler pintar merupakan salah satu bentuk eksistensi pribadi yang kami manfaatkan. Pribadi dan terfokus. Tidak ada unsur publisitas dalam hubungan pacaran kami. Untuk frekuensi pertemuan pun kami batasi menjadi satu bulan sekali. Kami berpikir bahwa semakin lama tidak bertemu maka semakin optimal dan berbobot pula pertemuan tersebut  serta meminimalisasi terjadinya kekesalan dan kemarahan akan hal kecil yang terjadi.
     Keterbatasan dalam berpacaran adalah salah satu bentuk komitmen yang kami bangun. Keterbatasan pertemuan kami manfaatkan untuk saling support kesibukan masing-masing untuk mewujudkan impian dengan cara tersendiri karena keterbatasan membuat orang menjadi terpacu untuk melakukan yang terbaik dengan hasil optimal. Semakin sedikit waktu kami bersama maka semakin banyak pula waktu yang dapat manfaatkan untuk berkarya, berinovasi, dan memanfaatkan waktu luang bersama keluarga masing-masing.
           Pacaran ala saya tersebut hanya dapat bertahan apabila kedua belah pihak telah mengerti esensi pacaran sesuai dengan komitmen keterbatasan tersebut. Keterbatasan dapat pula menjadi suatu pembanding apakah hidup kita maju, stagnan, atau malah mundur. Cara mengukurnya adalah seberapa jauhkah kita melangkah untuk menggapai impian kita masing-masing dari mulai terakhir bertemu pacar hingga pertemuan berikutnya. Contoh kecilnya adalah berapa judul tulisan positifkah yang minimal bisa memotivasi diri kita sendiri ketika kita membacanya kembali, berapa judul bukukah yang telah kita baca sebagai suplemen semangat mencapai impian, atau sudah konsistenkah kita untuk menjalani dan mencapai parameter keberhasilan resolusi mingguan/bulanan kita? Kemudian ketika bertemu maka evaluasi pencapaian tersebut dan diskusikan dengan pacar, apabila ada masalah maka lakukan sharing yang solutif dan selingi dengan canda tawa. Hal tersebut kami lakukan untuk mendewasakan diri untuk bisa mandiri dalam menyikapi dan mengambil keputusan dalam hidup serta menghindarkan diri dari dampak negatif berpacaran yang identik dengan hura-hura semata dan pergaulan bebas yang marak terjadi di masyarakat.
Tulisan ini hanya media untuk sharing pengalaman dan perasaan saya sebagai si empunya. Tidak ada maksud untuk menggurui dan men-judge gaya pacaran orang lain karena tiap orang dan pasangan memiliki cara sendiri untuk mempertahankan eksistensi hubungan mereka agar langgeng dan bermakna positif dalam kehidupan kedepannya.
                
(sumber gambar : google.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?