Minggu, 28 Agustus 2016

Ada Apa Dengan Cinemaxx Bogor?



**Ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi penulis
               
                Minggu ketiga Bulan Agustus 2016, media dihebohkan dengan berita tentang dwikewarganegaraan yang melanda mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Archandra Tahar, dan Paskibraka Nasional 2016, Gloria Natapradja Hamel. Kedua sosok tersebut disinyalir memiliki dwikewarganegaraan. Archandra diketahui memiliki paspor Amerika Serikat karena beliau sudah lebih dari 20 tahun bekerja di sana dan Gloria yang juga memiliki paspor Prancis karena ayahnya adalah WNA Prancis. Isu ini menjadi ramai lantaran seleksi administrasi di awal yang sangat tidak teliti. Dalam kacamata peraturan yang kaku, mengapa malah pelaksanaannya sangat cair sehingga menimbulkan masalah di akhir? Sayangnya, pertanyaan tersebut belum saya dapatkan jawabannya (atau malah saya yang kurang update?). Dan sayangnya juga, saya tidak akan membahasnya di sini =D. Itu tadi sebagai pembuka tulisan saya yang, menurut saya, ada hubungannya dengan peraturan yang terlihat demikian kaku.
                Cerita saya berawal dari rasa penasaran saya untuk mencoba bioskop yang, katanya, baru di Bogor, yaitu Cinemaxx. Sebenarnya, saya sudah beberapa kali menonton film di Cinemaxx Jakarta dan saya puas dengan servis yang diberikan. Oleh karena itu, saya ingin tahu, seberapa standar servis bioskop Cinemaxx ini?
Bioskop Cinemaxx Bogor terletak di Lippo Plaza Mall atau lebih dikenal dengan nama Ekalokasari Mall, yang merupakan salah satu mall megah di Bogor. Pada tahun 2000-an, tepatnya saat saya masih SMA, Ekalokasari Mall adalah mall kalangan menengah ke atas karena eksistensi merk-merk ternama dengan harga di atas rata-rata. Namun, seiring perkembangan zaman, Ekalokasari Mall pun kalah saing dengan Botani Square. Mungkin karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kota. Nah, di akhir tahun 2015, Ekalokasari Mall mengalami renovasi dan berganti nama menjadi Lippo Plaza Mall. Pembaharuan nama pun menyumbang kontribusi pada kehadiran Cinemaxx pertama di Bogor.
Pertama masuk ke Lippo Plaza Mall, terdapat tulisan promosi Cinemaxx. Standar sih, semacam Cinemaxx hadir di Lantai Mezanine hingga informasi teknologi yang dihadirkan. Kemudian saya bingung, dimanakah Lantai Mezanine itu berada? Kebetulan saat itu, saya tidak menemui sekuriti yang seharusnya bertugas. Maka, saya pun mencari tahu sendiri melalui informasi dalam lift. Ternyata, Lantai Mezanine terletak di lantai 3 + ½ lantai berikutnya ditempuh dengan eskalator. Ya, pengetahuan barulah buat saya yang kebetulan bukan anak gaul mall, hehe. Alangkah lebih baiknya bila pihak mall memasang informasi tambahan bahwa Mezanine berada di Lantai 3 + ½ sehingga pengunjung seperti saya ini tidak kebingungan.
Dan..Cinemaxx, I am coming! Saya girang karena tak sabar menikmati suguhan Suicide Squad, film pilihan saya, dalam layar yang sedikit lebih lebar dari XXI, 3D, serta mengusung teknologi Dolby Atmos untuk sound system-nya. Harga yang ditawarkan pun sama dengan Cinemaxx Jakarta, yaitu Rp. 35.000 untuk 3D dan Rp. 30.000 untuk regular/2D pada hari Senin-Jumat sedangkan Sabtu-Minggu harganya ditambah Rp. 20.000 baik untuk 3D maupun reguler. Saya memilih Hari Selasa untuk menonton karena saya pikir pada hari kerja tidak akan seramai akhir pekan serta harganya pun lebih murah. Jadwalnya pun saya pilih yang paling awal, yaitu pukul 14.15 WIB. Namun, perkiraan saya ternyata salah. Tiga perempat kursi diisi oleh para siswa SMP-SMA. Dalam hati saya pun membatin, mungkin standar uang jajan mereka lima sampai sepuluh kali lipat lebih besar daripada zaman saya. Kalau tidak, bisa tekor deh, hehe.
Pukul 14.00 WIB saya sudah siap di depan Teater 1 untuk dipanggil masuk ke dalam bioskop. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit tidak ada pengumuman. Ruang tunggu yang sangat minim, karena berbentuk lorong panjang dengan lebar hanya muat 1 kursi dan 1 orang lalu lalang di depan kursi tersebut, menjadi sangat sesak oleh penonton. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.17 WIB namun tidak ada tanda-tanda petugas bioskop. Barulah kira-kira pukul 14. 20 WIB, penonton dipersilakan masuk dengan antri satu jalur untuk mengambil kacamata 3D. Saya pun komplain kepada petugasnya tentang terlambatnya jadwal bioskop yang tidak profesional. Mas-mas-nya pun berdalih karena belum ada pengumuman dari petugas yang mengurusi film. Hmm.
Hal unik lainnya adalah ketika akan masuk teater, ada satu sekuriti yang bertugas menyita barang-barang seperti makanan dan minuman baik yang dibeli dari booth snack bioskop maupun dari luar. Ada satu troli penuh berisi popcorn kemasan besar, minuman dingin, botol minum, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau kita membeli popcorn masih hangat untuk dikonsumsi saat menonton film, eh ternyata di sita. Saya rasa, saat filmnya sudah selesai, keinginan untuk makan popcorn, yang sudah dingin, selesai juga. Sebagai konsumen, rugi donk! =D Lalu, sekuriti menambahkan bahwa kamera tidak boleh di bawa masuk ke dalam teater sambil memeriksa tas yang diminta untuk dibuka dengan senter. Saya yang saat itu ada agenda untuk hunting foto setelah selesai menonton, menjadi korbannya. Sang sekuriti bilang bahwa kameranya harus dititipkan. Saya tanya kenapa, ya karena khawatir saya merekam adegan film. Loh, ini kan 3D? Ya, sudah peraturan. Hmm. Aneh. Saat itu kebetulan saya tidak membawa tas kamera dan saya tidak mau menitipkan kamera dalam kondisi ‘telanjang’. Sekuriti bilang, ya sudah baterenya saja dititipkan. Saya tanya, apa jaminannya? Nanti diambil di sekuriti, begitu jawaban yang tidak menjawab. Tidak ada bukti tanda terima atau loker yang dapat saya gunakan agar saya nyaman dan merasa aman. Daripada saya telat menonton, maka saya serahkan juga batere saya sambil berkata kalau ada apa-apa dengan batere saya, sekuriti harus tanggung jawab. Lalu, 2 jam pun berjalan dengan manis menyaksikan Deadpool yang sentimentil, Flag yang good-looking-man, Diablo yang cool, dan June yang terlalu lugu untuk seorang arkeolog. Untung filmnya lumayan oke, kalau tidak ya jangan salahkan saya kalau tiba-tiba berubah jadi Enchantrees. Hihi.
Mood sudah baik, saya datangi sang sekuriti. Untuk alasan privacy, saya samarkan menjadi XYZ. Beliau memberikan batere saya sambil berkata silakan dicoba. Yes, pastinya. Memang, kondisinya sepertinya baik-baik saja, terlihat dari batere yang masih penuh dan tidak ada masalah saat saya coba ambil foto. Sekuriti pun bertanya bagaimana kondisinya. Saya jawab baik, namun ada beberapa saran untuk manajemen Cinemaxx Bogor, yaitu : 1). Memasang pengumuman di depan pintu masuk atau ada sekuriti yang berjaga untuk menginformasikan peraturan untuk tidak membawa makanan dan minuman ke dalam bioskop serta tidak boleh membawa kamera (walau masih rancu tentang definisi kamera) ; 2). Kalau kamera (misal : DSLR, mirrorless, pocket camera, dll) saja yang tidak boleh, kamera ponsel yang spesifikasinya lebih tinggi, kenapa boleh dibawa masuk ke dalam teater? ; 3). Mengapa aturan penitipan kamera berlaku juga untuk film 3D?  Hal ini membuat saya bingung karena menurut saya, hasil rekaman film 3D tidak dapat ditonton dengan nyaman tanpa kacamata 3D. Itu pun kalau saya ada niat merekam. Nyatanya kan tidak. Sang sekuriti mencoba membela diri. Wajar sih. Tapi, segera saya cegah karena akan berekor panjang dan itu bukan tujuan saya. Maka, saya tegaskan bahwa silakan menyampaikan keluhan pelanggan ini kepada atasannya untuk diteruskan kepada pihak manajemen. Tujuan saya adalah agar standar servis Cinemaxx Bogor sama dengan pusatnya, yang asumsi saya di Jakarta, karena selama saya menonton di Cinemaxx Jakarta, walau saya membawa kamera, minuman, serta popcorn dari booth snack Cinemaxx, namun tidak ada pengecekan tas apalagi penyitaan.
Berkaca dari pengalaman tersebut, saya kira inti dari pemasalahan tersebut sama dengan kasus Archandra dan Gloria, yaitu peraturan yang terlihat demikian kaku namun tidak didukung dengan konsistensi dalam implementasi. Seharusnya, walau cabang baru, Cinemaxx sudah menerapkan standar servis yang terbaik bagi para pelanggannya sehingga tidak ada lagi keterlambatan jadwal film atau kurang profesionalnya servis sekuriti dan petugas saat pelanggan menitipkan barang berharga semacam kamera. Mungkin, ke depannya, Cinemaxx bisa mengevaluasi peraturan yang berlaku agar lebih logis dan ramah pelanggan, seperti meminjamkan loker untuk menyimpan kamera, misalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?