Selasa, 04 Maret 2014

Teritori yang sendiri

Ketika teritori dicabut dengan paksa, jutaan mata menghakimimu dengan gila, seolah kau satu-satunya manusia yang melakukan dosa nan nista. Pikiranmu berkecamuk, mengamuk. Hatimu bergejolak, menggolak. Jiwamu ingin menumpas kesah, marah. Matamu nanar mengular, sangar. Tapi, tubuhmu malah dingin, menahan ingin. Lalu membeku, diam bersekutu. Entah apa yang bisa memuaskan rasa buas para hakim pembela keadilan di depan sana. Entah apa yang bisa menyumpal seringai buruk perangai di belakang sana. Entah apa yang bisa menghentikan langkah serakah di belahan kiri dan kanan sana. Bila batin ini ibarat bensin, mungkin sudah sedari tadi membara dan membakar raga karena terpercik api angkara. Bila jasmani ini bagaikan kayu bakar, mungkin sudah menjelma menjadi sang rahwana yang menjilat tiap jengkal ragawi, menjadi arang untuk menggerang. Ah. Sudahlah. Semua hanyalah asa semu yang dibungkus dengan kertas koran kumal bekas penadah gorengan. Pun bila manusia dapat membelah diri, minoritas selalu ada di bawah. Kecuali jika deret ukur diberi kesempatan yang sama dengan deret hitung dan hukum adat dibangunkan untuk kembali berjaya.

Jakarta, Maret 2014
di tengah kultur modern yang makin mencekik dan komunitas yang mengusung homogenitas.

         (dicomot dari : techfly.co.uk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?