Sabtu, 17 Agustus 2013

Pada Suatu Malam

       Pada Suatu Malam
       Kutermenung di balik jendela kamar ini ditemani kerlingan bintang yang seolah melirik perih serta sepoi angin yang menyapu memori singkat nan memikat. Sebuah alunan lagu pun menjadi refleksi suara hati yang entah menyiratkan apa. Lagu cinta yang istimewa. The star lean down to kiss you. And I lie awake I miss you...But I'll miss your arms around me. I'll send a postcard to you dear, cause I wish you were here.
         Masih tergores dalam ingatan, saat pertama kali melihatmu. Awalnya memang tak ada perasaan apa-apa tentangmu. No hard feeling. Apalagi dengan kesibukan kita yang menyita perhatian. Berkenalan denganmu pun hanya selewat, bagaimana mau dekat? Tak terpikir apalagi diniatkan.
         Dia adalah salah satu pria terdingin yang pernah aku temui selama hidup. Bahkan, menyapa saja tidak pernah. Aku sih ya tidak mempermasalahkan. Kalau dia butuh, barulah dia bertanya. Kalau tidak, ya jangan harap ada suara dia yang tertangkap di telinga. Namun, semua seolah berbalik seratus delapan puluh derajat saat hari itu tiba, dimana sebuah senyuman mampu memecahkan kerasnya batu karang menjadi kerikil kecil. Inilah awal mulanya.
          Hujan di Kamis sore, membuat raga ini dipaksa untuk menunggu lebih lama lagi dalam ruangan. Daripada memaksakan untuk pulang tepat waktu dengan kondisi hujan lebat ditemani amuk angin yang menggebu, aku putuskan untuk kembali duduk memandangi layar monitor dengan getir. Walau, badan ini sudah mengirimkan sinyal lemahnya, namun hujan tak jua mengerti. Ia malahan membuatku tersentak karena sebuah suara tak terduga yang sontak membangunkanku dari lamunan.
          Dia, ya dia. Siapa lagi. Lelaki yang dengan seluruh pesonanya mampu membuat orang dengan suksesnya menjadi apatis. Pun diriku. Hingga detik ini, aku tak percaya dengan fenomena ini. Ini mimpi atau imaji belaka?
          "Na, yuk balik!" Aku tercengang. Ini mengajak atau hanya pamitan?
          "Yuk balik bareng, koq malah bengong?" Wah, dia membuat pernyataan yang berarti     ajakan. Deg! Tanpa banyak tanya, takutnya malah jadi berubah pikiran, aku bergegas mengikuti sosok tegap depanku. Agak terburu-buru memang. Namun, lumayanlah mengurangi resiko masuk angin. Hehe.
           Sepanjang jalan, aku yang membuka obrolan. Dari mulai pertanyaan ringan seputar alasannya mengajakku pulang hingga kesibukannya yang makin menumpuk dari hari ke hari. Entah, aku merasa nyaman. Bukan karena perhatiannya, bukan pula karena kehangatan secangkir teh cammomile yang disuguhkan pramusaji restoran ini. Namun, karena tatapannya yang berbeda saat memandangku. Kata orang, laki-laki yang sedang jatuh cinta itu dapat dilihat dari matanya sedangkan wanita dari senyumnya. Tapi, aku memposisikan diri untuk tidak GR dulu, karena nanti bila suatu saat jatuh, sakitnya..lumayan.
           Kami dekat. Dan terus dekat. Dia pun mengakui bahwa dia nyaman bila bersamaku. Namun, hingga detik ini, belum ada pernyataan perasaan terucap darinya. Sebagai wanita, ya aku hanya menjalani peranku saja, sebagai pengirim sinyal terbaik. Keputusan akhir ya tetap ada di pihak lelaki karena bila wanita yang menyatakan terlebih dahulu, nanti kalau ditolak, malunya luar biasa. Apalagi bertemu tiap hari. Mau ditaruh dimana muka ini? Hehe.
          Akhir musim penghujan menjadi babak baru yang menaungi segalanya. Di akhir minggu yang cerah, di bawah payung canopy yang dihiasi bunga-bunga, dengan sorotan rembulan dan alunan musik instrumen dari Beethoven, akhirnya ia memberikan keputusan konkrit padaku. Ia menyatakan perasaannya kepadaku. Tidak dengan adegan reality show 'katakan cinta', namun sudah membuat hatiku melonjak riang dengan efek persis seperti naik wahana roaler coaster dan kora-kora di Dufan. Inilah, awal cerita cinta yang tak terbayang sebelumnya.
         Kami jalani hari demi hari bersama. Ia bagaikan pangeran berkuda putih yang ada di novel klasik. Romantis sekali. Satu hingga dua bunga selalu terselip di balik meja, menerbangkan rasa hingga ke langit ketujuh. Oh! Bukannya terlalu berlebihan sih, namun demikianlah realitanya. Bunga-bunga telah tertanam di hati, puluhan kilometer dijelajahi, ratusan kata cinta telah mengakar dalam jiwa, dan ribuan pesan puitis memenuhi memori. Rasa nyaman pun sudah naik kelas menjadi rasa cinta. If any this feeling will be everlasting, I'll take you away to my kingdom, being my prince forever.
        
         Minggu kelabu. Saat rindu sulit untuk berlabuh. Hati ini terasa beku. Jiwa hampa berbalut sendu. Menghiasi pagi yang berkabut. Dengan langkah lunglai ku hidupkan ponsel. Satu pesan masuk.
         'Ada yang mau aku omongin nih sama kamu. Aku jemput kamu ya!'
         Perasaan aneh menyelimuti. Tumben sekali dia mengajakku pergi. Dia bilang kalau minggu ini dia tidak bisa diganggu sama sekali. Banyak urusan, harus mengurusi bisnis bengkelnya, katanya. Belum sempat aku bersiap, dia sudah mengetuk pintu rumahku. Berdiri di depanku seraya tersenyum simpul, senyum yang dipaksakan. Aku tak beranjak dari depan pintu. Aku pandangi ia lamat-lamat. Harusnya ia tahu kalau pandanganku menyiratkan suatu sinyal negatif, sebuah pertanda buruk.
         "Ada apa, sayang? Koq tumben ke rumah?" Aku membuka pembicaraan dengan suara tertahan.
         "Kamu belum siap-siap? Kan aku udah mesej kamu!" Suaranya lain, seperti bukan dirinya yang dulu.
         "Aku ga mau siap-siap. Aku tahu, kamu mau ngomong sesuatu yang mungkin penting buat kamu, atau kita. Ngomong aja sekarang!" Hatiku tak rela bila pertanda buruk yang akan terjadi
         "Oh, yaudah. Aku cuma mau bilang kalau aku belum siap untuk serius sama kamu. Aku ga bisa kalau kamu terus menerus mengintimidasi biar aku jadi pasangan setiamu sampai akhir hayat. Aku belum punya target kearah situ, ke arah pernikahan. Aku masih pengen berkarir dulu, muasin semua hobiku."
         "Maksudmu?"
         "Ya, kita putus!"
         "Ha? Secepat itu? Kamu koq gitu sih? Salah aku apa? Atau kamu punya cewe lain?" Aku tak sabar, tak terima dengan alasan klise itu.
         "Iya, aku ga kuat kalau kamu terus menerus nanya kapan kamu dikenalin ke orang tuaku. Lagian, kamu banyak sekali menuntut. Aku ga kuat dengan tuntutan kamu, dengan target kamu. Makanya aku butuh waktu untuk sendiri dulu"
         "Jadi, kamu ga serius sama aku?" Nada suaraku makin memburu, mencari jawaban pasti
         "Niatku emang pacaran. Bukan untuk nikah" Nadanya datar. Tanda ingin segera mengakhiri.
        "Aku ga nyangka aja, kamu tega berbuat kaya gini ke aku. Kenapa dulu kamu tembak aku kalau kamu memang ga niat untuk nikah? Kenapa kamu bilang kamu ga akan ninggalin aku kalau akhirnya kita putus juga? Kenapa kamu ga jujur sama aku dari dulu, sebelum rasa sayang ini bertambah besar ke kamu? Hsshh..shhh.." Setengah teriak aku keluarkan semuanya. Nafasku tersengal, air mata bertambah deras.
        "Ya, karena aku ga tau kalau bakalan jadi kaya gini"
        Aku teruskan tangisan ini. Aku tak tahan melihatnya membisu didepanku. Segera, aku berbalik dan membanting pintu. Biar dia tahu kalau hatiku sudah pecah berkeping. Sulit untuk dicari apalagi dikumpulkan kembali. Aku masuk ke dalam kamar, menghempaskan diri di kasur, dan membenamkan wajah penuh lara di dalam bantalan. Seperti disambar petir mendengarnya datang untuk meminta untuk berpisah, entah sampai kapan.
        Deru mobil mendengung pilu di telinga. Ia pergi. Dari kehidupanku. Tanpa ucapan terima kasih apalagi kecupan terakhir. Semua seakan lari tanpa jejak. Hanya meninggalkan bekas luka yang dalam, entah kapan dapat sembuh dan kembali.
        Perpisahan, sembilu yang menusuk dan merajam sukma, menggoreskan ribuan sayatan, hingga menenggelamkan segala pikiran dan keinginan. Seakan tercekik, terperangkap dalam sakit, terjerembab dalam jurang gelap. Aku terbius sepoi angin, terbenam dalam lautan biru, dan tersihir pada kilau pasir di pagi hari. Kini, semua telah menua. Meninggalkan istana pasir yang perlahan pudar tergerus ombak. Air mata ini tak kunjung surut, seakan mengalir teratur bermuara ke sungai kepedihan. Mungkin ini balasan terhadapku, wanita yang sulit jatuh cinta. Kecuali pada dia.
        Dan, pekatnya malam menjadi saksi bisu pergulatan batin yang mengguratkan noktah merah nan membekas. Inilah akhir babak lalu yang menyekap kalut berpadu lidah yang semakin kelu. Ketulusan cinta terbelah disini. Di minggu kelabu, pada suatu malam.

1 komentar:

catatankecil mengatakan...

Gilee... Dr pertama km ksh tau klo km punya blog baru kali ini ak baca seksama tulisan2mu.. Km berbakat dev :) eh.. Btw dr sekian bnyk tulisanmu ada yg ttg ku g y? :p

Posting Komentar

what do you think, guys?