Minggu, 11 Agustus 2013

#Diary of Unjust for Abyss Recall

         Duaar!! Duaarrr!!!
         Suara yang lebih mirip dengan jeritan, berkumandang dengan khasnya, hampir mengalahkan lantunan ayat suci Alqur’an dari pengeras suara masjid. Aku yang sedang istirahat dalam kamar, tak sedikit pun merasa terganggu. Malah, semakin keras jeritannya, semakin nyenyak tidurku. Entah kenapa, dalam tidur, aku bermimpi mengenai sebentuk surga yang rupawan. Menggoda tiap insan untuk masuk, menjelajah, hingga tinggal lebih lama disana. Dan tetiba, aku terbangun akibat alarm handphone yang berbunyi nyaring nyaris menyerupai jeritan khas di luar sana. Kriiiing!!
                                                                                         ***
           Hari ini adalah hari terakhir umat muslim menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Memang sih keputusan belum bulat, karena sidang ishbat baru dilaksanakan tapi orang-orang sekitar sudah PeDe berasumsi bahwa besok adalah 1 syawal. Hemm, 1 syawal sama dengan Idul Fitri alias lebaran yang disebut-sebut sebagai hari kemenangan. Hari kemenangan? Apa benar kita menang? Apanya yang menang? Ah…
            Ketupat Opor sudah dihadapan. Tinggal menghitung detik menunggu waktunya berbuka. Allahu Akbar Allahu Akbar. Kedua tangan ditengadahkan, meminta keberkahan Ramadhan. Apabila ini Ramadhan terakhirku, begitu sedihnya diriku ya Allah. Glek! Ketupat Opor sudah dikerongkongan. Walaupun belum lebaran, tapi aku sudah mencicipi hidangan khas lebaran ini. Supaya tahu masakannya enak apa nggak, kurang bumbu apa. Itu kata ibuku. Enak juga ya, juru icip-icip. Aku jadi berminat menjadi host acara kuliner sekaliber Pak Bondan. Ups! Terlalu jauh ya mikirnya. Hehe. Buka puasa ala lebaran. Asalkan jangan lebaran sambil kalap aja. Hoho.
Sidang ishbat menyatakan bahwa besok ditetapkan sebagai 1 Syawal 1434 H. Horeee besok lebaran!! Dangkal sekali pikiranmu, hei otak. Rendah sekali kadar ketakwaanmu, hei hati. Malas sekali kepribadianmu, hei jiwa. Aku jadi termenung sendiri di depan jendela. Memandangi malam yang pekat sambil ditemani sepasang burung 'lovebirds' yang saling bercuit entah membicarakan apa. Takbir sudah tersahut-sahutan berkumandang merdu dari surau di balik pohon randu. Tahun ini seperempat abad sudah aku berada di dunia. Banyak sekali target yang belum aku capai sepanjang ini. Aku ingin meneruskan kuliahku yang dahulu sempat tertunda karena kurang biaya. Aku ingin bekerja di perusahaan asing dengan gaji tinggi, pasti tiap hari aku akan bersiul nyaring. Aku ingin mandiri mencari berlian sendiri, tak mau lagi menengadahkan tangan, berharap belas kasih dari orang tua hingga sanak saudara. Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu banyak sekali. Semua semua semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Helloo? dimana aku bisa mendapatkan kantong ajaib itu? Dimanaaa??
             Klik! Sebuah pesan masuk ke inbox : Hei, Bill! Gue tunggu di depan rumah lu ya! Gue bawa banyak nih. Malem ini kita pesta! “Bu, aku mau ketemuan sama Jo dulu ya. Dia udah nunggu di depan rumah” Setengah teriak aku pamit. Tak ada jawaban pasti. Yang aku dengar cuma suara nyaring TV di lantai atas. Oke, aku pun pergi berbekal handphone. Memang tak jauh sih, cuma di pelataran halaman lima rumah di seberangku dengan halaman super luas dibandingkan rumahku yang hanya dibatasi oleh teras ukuran 2x3 meter antara pintu dengan gerbang tanpa tempat parkir motor apalagi mobil.
            “Kita mulai ya, satu..dua..tigaaaa”
              Duar! Ah kecil, batinku. “Lagi donk!” Duaar!! “Eh, sebentar ya. Gue mau ambil yang lebih besar lagi. Kemarin bokap beliin di swalayan baru di ujung kompleks. Mahal loh harganya!” Ah, masa bodo! Mau mahal, mau murah, ga ada urusan sama aku. Toh, dia yang keluarin uang, aku yang menikmati sensasinya. Hehe. Entah suara hati dari mana itu. Sambil menunggu, aku merasa diperhatikan dari atas. Mungkin hanya perasaan semata. Tapi semakin dibiarkan, semakin kuat sorot matanya. Jangan-jangan hantu. Ah mana mungkin, kan hantunya sedang dibelenggu. Eh, tapi bisa juga loh. Kan sekarang malam takbiran. Hantu-hantu sudah bebas, sudah lepas dari jeratan belenggu. Ups! Dua mata, Empat mata, Enam mata menyorot lantang di hadapanku. Memang apa salahku? Koq sampai segitunya melihat aku? Mungkin dia lapar. Aku sodorkan tanganku ke arahnya. Mereka diam saja. Jinak sekali, pikirku. Mungkin ini balasan orang yang cinta makhluk hidup yang tersisihkan seperti kawanan burung 'lovebirds' ini. Mereka bersiul, bercicit, dan bercuit nyaring sekali di telingaku. Seolah mengisyaratkan pertanda antara baik atau buruk kepadaku. Namun, aku biarkan saja. Toh, aku bukan Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang. Aku pun menoleh. Sepersekian detik kemudian..DUAAARRR!!! Sebuah mega -sound memekakkan telinga, menimbulkan efek ‘ngik-ngik’ dalam telinga. Pluk! Shhh! Aroma sesuatu yang terbakar memenuhi rongga hidungku. Lama aku mencari. Aku pun menoleh kembali. Sekawanan hilang, entah kemana. Meninggalkan jejak legam yang tak terekam. Aku termenung.  Seingatku, aku sedang dipelototi oleh sekawanan burung 'lovebirds', mereka sedang mengobrol satu sama lain. Tiba-tiba, aku kaget dan mereka hilang. Jangan-jangan..
             “Jo….gue udahan ya. Mau balik dulu” Setengah teriak, aku beringsut jalan kemudian berlari
            “Ha? Kan gue belum pasang semua, Bill!”
            “Gue takut mati, Jo!”
            “Haa??”
             DUAARRR!!
                                                                            ***
           Aku buka pintu membabi buta. Tak ada satu pun yang protes dengan bunyi pintu yang aku banting. Aku langsung menuju ke jendela. Dan..benar saja. Feelingku kali ini benar! Mereka lepas. Tanpa banyak berasumsi, pikiranku langsung tertuju pada Ibu.
           “Bu, Oge sama Ego kok ga ada? Pas aku pulang, mereka udah lepas. Ibu ga ngebuka sangkar, kan? ” Dengan tak sabar, aku bertanya pada Ibu yang sedang sibuk meracik bumbu.
          “Ga tau! Ibu dari tadi di dapur. Kamu sih, bukannya bantuin, malah maen kemana tau!”
          “Please, Bu. Aku cuma memanfaatkan waktu aja ketemu Jo plus cari angin. Besok kan udah mudik”
          “Yah. kali burungnya mau ikutan cari angin juga, mau kumpul sama temennya. Emang kamu doank?!”
          Spontan aku terbius dengan teori Ibu. Benar juga, batinku. Jangan-jangan mereka tidak betah dalam sangkar dan mencari kebebasan, berkumpul dengan teman-temannya. Ah..absurd amat!
                                                                              ***
          Ku terlelap diantara alunan takbir yang bergema. Dan, mimpi itu datang lagi. Awalnya tidak jelas, namun semakin diperhatikan, makin menghampiriku. Aku layaknya seorang sutradara yang sedang melihat scene demi scene adegan film dari balik layar kamera. Seorang pemuda, putih dan tampan, bergaya ala anak muda masa kini, berjalan di jembatan. Di sisi kiri dan kanan, terdapat taman yang terbentang luas, air mancur ala era Victoria, berbagai pohon dan tanaman tumbuh subur di sekeliling, serta kawanan burung bercengkaram mesra satu sama lain. Ia menunduk, ketika sekawanan burung 'lovebirds' menghampirinya. Dua burung 'lovebirds' hinggap di pangkuan tangan. Sorot matanya lembut penuh kasih, mengisyaratkan ketenangan batin nan berseri. Cicit dan siul sambil menggelengkan kepala mengawali perkenalan. Mereka berceloteh panjang lebar. Aku tak mengerti, demikian pula dengan pemuda tampan tadi. Tanpa disangka, dua sejoli menutup pertemuan dengan anggun. “Oge dan Ego. Kami pamit, salam untuk sahabatmu, Bill”
          Kubuka mata dan terhenyak. Belum beres urusan mimpi yang entah berarti apa, aku dikejutkan dengan pesan singkat : Innalilahi wa innailaihi Raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, sahabat kita tercinta, Putra Joansyah Nagara, tadi malam pukul 23.00 WIB di Rumah Sakit Mawar Biru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?