Senin, 12 Agustus 2013

Balada

       Jakarta dan banjir adalah sahabat karib. Jakarta dan hujan adalah musuh bebuyutan. Dua analogi yang menggambarkan demikian peliknya kondisi ibukota yang mendadak lumpuh tak berdaya diterjang tiga huruf sahabat manusia yaitu air. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, yang pasti air yang seyogyanya menjadi sahabat sekaligus penolong tubuh hidup kita setiap harinya, kini menjadi beringas melawan arus, menjadi media musibah masyarakat.       
         Apa salahku, wahai air? Lima tahun sekali kau datang beserta pasukanmu meluluhlantakkan harta benda sampai nyawa. "Kalau saja, dirimu mengikuti hukum alam, pasti aku tak kan mengganggumu. Kita akan hidup berdampingan selamanya. Namun, kaummu merusak sistem aliranku. Kau kan tahu pada hukum alam bahwa air mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah serta hutan diciptakan untuk menahan laju alir agar air hujan diserap oleh akar pepohonan. Dua hukum tadi sedikit demi sedikit diingkari oleh manusia. Atas nama uang dan popularitas, dirimu menghalalkan segala cara, membuang semua jenis sampah ke tempat tinggalku yaitu got, sungai, hingga laut sehingga menghalangi jalur aliran alamiahku, melakukan pengurukan laut untuk dijadikan pusat bisnis, tidak memelihara sistem drainase secara benar dan berkala, mengurangi ruang terbuka hijau di kota besar, membangun rumah di bantaran sungai, serta yang paling masif adalah menggalakkan pembalakan liar secara frontal dengan tujuan untuk pembangunan tempat santai hingga wisata para pemangku kekuasaan berduit, memuaskan kehausan akan investasi jangka panjang seribu turunan. Sadarkah dirimu dengan prestasi berbuah sangsi diatas? Sadarkan kau bahwa semua yang telah kaummu lakukan telah berakar menjadi suatu budaya yang sulit hilang bila tak ada gerakan frontal nan komprehensif untuk menyadarkan dan mengubah pola hidup berdampingan antara alam dan manusia? Ketika kondisi aman terkendali inginnya menang sendiri, lupa sama yang lain. Ketika air bah datang melumpuhkan sendi-sendi perekonomian dan mengganggu aktivitas bisnis, barulah menggerutu menyalahkan keadaan. Ini nih gara-gara banjir kiriman dari Bogor, hidup gue terlunta-lunta di jalanan. Mana mobil keluaran teranyar ga bisa gerak, kerendem air. Rumah di bilangan elite juga ikut kebanjiran, masuk rumah pula airnya. Huuh. Pernyataan yang lucu bukan? Sepertinya dia tidak sadar kalau dia pun berkontribusi menyumbang musibah untuk dirinya dan orang lain. Yang punya villa di Puncak siapa? Yang sering buang sampah sembarangan siapa? Yang punya proyek trilliunan sehingga harus mengorbankan ruang hidup hutan untuk diubah menjadi belantara beton siapa?"
           Hukum alam kok dilawan? Kalau hukum alam yang berkorelasi dekat dengan Sang Maha Esa dan diajarkan dalam kitab suci semua agama saja sudah tak dihiraukan, bagaimana hidup dapat sejahtera? Jangan menyalahkan alam saja, introspeksi diri. The more you do, the more responsibility you have. The less you live without caring and saving for sustainability, the less you live wealthy and happy. You request every part of your life, you work for it, then universe will decide what happen it will be based on action-reaction theory. What we get for now is what we have worked yesterday. Be carefull of your plans, watch out your decision. Walk-away with mother-earth, live in harmony.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?