Minggu, 12 Mei 2013

Thailand #7 : Sayonara Bangkok!


Hari ini adalah hari terakhir kami tinggal di Bangkok. Setelah kemarin berpanas ria menyusuri Pasar Chatuchak yang menyenangkan, hari ini saya mengantar rekan untuk balik lagi ke Chatuchak. Hal ini karena adanya miss communication antara kami dimana seharusnya sesuai dengan perjanjian awal, kami janjian di MBK lalu bersama pergi ke Chatuchak. Namun, karena telepon dan sms yang entah kenapa tidak masuk, sehingga kami pun secara tidak langsung berpisah. Saya bertemu Mbak Vida yang senasib di Madame Tussaud dan langsung tancap gas ke Chatuchak berharap sang rekan menyusul kesana. Ternyata, harapan tinggal harapan, sang rekan hanya menggigit jari jalan-jalan di sekitar hotel.
Sekitar pukul 08.00, setelah sarapan, kami langsung pergi ke Chatuchak Weekend Market naik BTS. Ah, BTS ini membuat saya ketagihan. Panggil saya norak bila tak suka. Hehe. Morning in Mo Chit, means we arrived in Chatuchak Market. Terlihat banyak pedagang kaki lima yang baru datang dan menggelar dagangannya. Mungkin kami kepagian karena banyak kios yang belum buka. Ya karena saya hanya mengantar rekan, so it’s all up to her, mau membeli apa dan di kios mana. Kami pun berjalan menyusuri gang-gang kecil. Memang tidak seramai kemarin dan barang yang dijajakan pun tidak selengkap kemarin. Dalam hati saya bersyukur, untunglah saya sudah dengan puas berjalan kesana kemari di area Chatuchak Market kemarin sehingga rasa penasaran saya pun sudah terbayar. Ketika sedang asyik bertransaksi, terasa angin yang cukup kencang menyapu area Chatuchak. Awan pun semakin mendung menggantung. Setelah kemarin udara panas memeras tubuh untuk menghasilkan keringat, maka pagi ini hujan pun datang menyeimbangkan. Maka, kami pun berteduh sekaligus menyusuri kios demi kios. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 09.30 dan hujan belum berhenti. Maka dengan kenekatan hampir 100%, kami membelah hujan hanya dengan 1 payung. Dalam perjalanan menuju ke BTS, akhirnya kami menemukan penjual payung. Rekan pun membeli seharga 120 Baht. Lalu, kami naik BTS dan sampailah kami di Phaya Thai. Disini, hujan besar sudah digantikan oleh gerimis kecil. Kami pun bergegas hingga ke hotel, menyiapkan semua bawaan dan memastikan agar tidak ada yang ketinggalan sampai kami check-out pukul 11.00. Kami pun dijemput oleh Mr. Lie untuk bertolak ke Suvarnabhumi, meninggalkan Bangkok dan seisinya. Sebelum sampai bandara, kami pun menghubungi Mr. Thanakorn dan Ms. Wantanee untuk mengucapkan sayonara dan terima kasih atas segala kemudahan dan keramahan yang diberikan. Pukul 12.00 kami sampai di bandara. Setelah check-in, kami menunggu di ruang tunggu pesawat. Tepat pukul 14.00, kami masuk ke dalam pesawat dan bersiap terbang meninggalkan Bangkok tercinta.

..Cause I’m leaving on the jetplane, don’t know when I’ll be back again..

Ah, Samutprakarn dan Bangkok, meninggalkan cerita tersendiri untuk saya. Bekerja disambi liburan dadakan, menjadi backpacker, belajar membaca peta dengan baik dan benar, berinteraksi dengan banyak orang Thailand, diajari bahasa Thailand, adaptasi logat Thailand, icip-icip kuliner Thailand, foto-foto di kuil yang menawan hati, hingga mengerahkan segala tenaga dan kemampuan untuk menawar barang. Semua membutuhkan seni berkomunikasi. Apabila salah mengerti saja, bisa berbeda arti dan jawaban. Ah, saya jadi ketagihan backpacker seperti ini. Seru sekali menyelami kehidupan dan budaya bangsa lain. Pantas saja, ketika saya membaca sebuah buku panduan wisata hingga beraliran novel perjalanan wisata, saya selalu menemukan suatu buncahan rasa yang tertoreh dalam tiap frase dan kalimat. Mungkin itulah definisi “passion for excitement” dalam nafas kehidupan. Sebagian orang merasa sangat hidup ketika menuliskan apa yang ia senangi. Mungkin, passion lain saya adalah menjadi backpacker dan menuliskan apa yang saya alami serta rasakan dalam sebuah blog bahkan buku. Maybe someday.
Anyway, setelah berlelah-lelah selama seminggu working hard, play harder, sampailah kami di Jakarta. Wohoo. Apa kabar, Jakarta? Sepertinya masih gitu-gitu aja ya? Masih macet, dorong-dorongan di KRL, jadwal KRL selalu tidak tepat, dan banyak hal yang dapat dikeluhkan. Namun, walaupun rumput tetangga lebih hijau, perlu dicamkan bahwa hujan batu di negeri sendiri pasti lebih baik dibandingkan hujan emas di negeri tetangga. Just be grateful and go ahead with your passion to make wonderful creation. Saying thanks to Thailand, you made my few days so colorful, taught me how to adapt in new culture and circumstances.


..Sayonara, sayonara, sampai berjumpa lagi..

Khop Khun Ka. See you soon, Thailand!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

what do you think, guys?