Minggu, 12 Februari 2012

EMANSIPASI VERSI MILLENNIUM

                                                "Atas nama emansipasi" (google.com)

         Pernahkah anda (wanita) naik kendaraan umum, berdiri dari terminal/stasiun pertama hingga ke pemberhentian terakhir sedangkan di depan anda duduk seorang pria atau bapak yang tidur sepanjang jalan dengan posisi mulutnya menganga, menggunakan masker, atau berpura-pura tidur? Masyarakat yang tinggal di perkotaan yang malas untuk menyetir kendaraan pribadi pasti tidak lazim dengan pemandangan tersebut. Di kereta atau bus, setiap hari berkeliaran karakter tersebut.
           Zaman yang kian berkembang, harga yang kian membungbung, dan urbanisasi yang kian meningkat memaksa budaya untuk ikut tergerus mengikuti perubahan. Kita, orang timur yang notabene memiliki tingkat respect yang tinggi, seyogyanya mengikuti adat ketimuran kita dalam setiap nafas dan jejak langkah kehidupan kita. Termasuk dalam berkendara umum. Namun, contoh nyata diatas menunjukkan suatu pergeseran budaya yang drastis. Budaya tolong-menolong seolah hilang ditelan zaman. Budaya rimba “siapa cepat dia dapat-tak peduli orang lain” pun merajainya. Atas nama emansipasi. Itulah alasan mereka bertingkah laku seperti itu.
          Menurut kacamata saya, emansipasi mengacu pada persamaan derajat yang terjadi karena adanya perbedaan antar individu, kelompok, atau masyarakat. Di negara kita, emansipasi pertama kali dicetuskan ketika RA Kartini pada zamannya memperjuangkan persamaan derajat antara pria dan wanita dimana pada era tersebut, pria memiliki kesempatan lebih untuk mengenyam pendidikan, memanfaatkan intelegensinya untuk mengembangkan diri, hingga berkarir sedangkan wanita hanya diizinkan untuk beraktivitas di rumah dan dipingit untuk mempersiapkan diri menjadi seorang ibu yang mengabdi pada keluarga. Namun, setelah RA Kartini berjuang sepenuh hati dengan tekad membara, beliau pun mendedikasikan diri untuk membangun peradaban baru untuk meruntuhkan tembok-tembok pembatas pengembangan diri wanita. Peradaban tersebut bernama emansipasi.
           Emansipasi versi millennium pun berkembang sporadis dewasa ini. Emansipasi yang tidak lagi mengenal tingkat kesopanan atau rasa empati sesama manusia. Tengoklah kesekitar kita. Bergelut dengan kerasnya kehidupan demi mencari pundi-pundi rupiah, pria pun seolah mengabaikan adat untuk memuliakan sesama manusia khususnya wanita dan wanita pun seolah ingin menang sendiri dalam memanfaatkan fasilitas umum. Atas nama pepatah “waktu adalah pedang”, pengendara motor baik pria maupun wanita mengabaikan hak-hak pejalan kaki yaitu menyalip penjalan kaki dan mengendarai motor di trotoar. Atas nama “ingin mendapat tempat duduk” baik wanita maupun pria saling dorong dan sikut-sikutan di bus maupun di kereta yang baru datang. Atas nama “emansipasi dan tidak mau rugi” pria duduk dan tidur di kendaraan umum tidak peduli di depannya ada wanita berdiri dari awal hingga akhir pemberhentian, tanpa mau bergantian di tengah perjalanan. Walaupun hanya oknum pria dan oknum wanita yang bertingkah polah seperti ini.
          Tulisan ini hanyalah sebagai media untuk sharing mengenai kondisi riil negeri dari kacamata saya di tengah gejolak dan kerasnya hidup di perkotaan. Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suatu gender. Emansipasi seharusnya menjadi suatu pemicu semangat kita, para pria dan wanita, untuk berlomba-lomba menggapai kesuksesan tanpa mengabaikan nilai-nilai adat ketimuran kita yaitu saling tolong-menolong, sopan, dan beretika baik dimana pun kapan pun.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Kalau wanita hamil, lansia, orang cacat, bayi dan balita, saya pasti kasih duduk, tapi kalau wanita sehat, pliss deh, saya sebagai yg datang duluan juga punya hak. atau menurut Anda LAKI-LAKI TIDAK PUNYA HAK DUDUK MESKI DIA DATANG DULUAN? kalau berlomba-lomba dalam hal kebaikan ya biarkanlah siapa datang duluan berhak duduk, budaya antri juga harus dihormati. Terima kasih.

Anonim mengatakan...

Sebenarnya, dalam tulisan ini, saya tidak katakan bahwa "laki-laki tidak punya hak duduk meski dia datang duluan". Maksud saya adalah setiap orang baik pria ataupun wanita sehat semuanya punya hak untuk duduk bagi siapa yang datang terlebih dahulu. Namun yang harus digarisbawahi adalah tempat duduk punya bersama dan kita sama-sama bayar 9ribu rupiah, tidak ada salahnya donk apabila duduknya gantian di tengah perjalanan supaya sama-sama merasakan fasilitas umum?

Anonim mengatakan...

Maaf baru liat lagi, Oke, kalau bergantian tidak harus ke laki-laki ke perempuan aja dong,tapi boleh juga perempuan gantian dengan laki-laki, laki-laki gantian dengan laki-laki lain dan perempuan bergantian dengan perempuan lain biar perempuan dan laki-laki yang sama-sama merasakan fasilitas umum iya kan? Itu baru adil dan tidak diskriminasi gender.

Posting Komentar

what do you think, guys?