Labels

Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2016

#Backpacking Edition : #0 - Being a Newbie Backpacker

Once a year, go some places you’ve never been before – Dalai Lama
Berawal dari sebuah surat elektronik dari sebuah maskapai penerbangan low-cost yang menginformasikan tentang penawaran diskon untuk berbagai destinasi dalam dan luar negeri, ketika itulah imajinasi tentang liburan ala backpacker ke luar negeri muncul. Saya pun iseng membuka jadwal penerbangan dan melihat harga yang ditawarkan. Wow! Menarik! Saya pun melihat harga paling murah. Ternyata, Singapore menawarkan diskon tertinggi, walau masih berada dalam kisaran ratusan ribu rupiah. Tapi, daripada kesempatan ini disia-siakan, maka saya pun memilih tanggal dan melanjutkan pembayaran. Kemudian, saya berpikir sepertinya menarik nih kalau naik bis dari Singapore ke Malaysia. Saya cek harga untuk tiket kepulangan melalui Kuala Lumpur, jatuhnya memang lebih mahal sih. Tapi yasudahlah diambil saja, daripada besok harga naik. Hihi. Tak lupa juga saya mengajak serta teman seperjuangan di kantor. Tak dinyana, dia mau menemani perjalanan ini. Lalu, voila! Babak baru perjalanan pun akan segera dimulai.
                Satu bulan sebelumnya, saya sengaja membuat perencanaan atau lebih dikenal dengan nama itinerary untuk satu minggu ke depan lengkap dengan estimasi budget yang mungkin dihabiskan. Rencananya, dari tanggal 12-18 April 2016, kami akan mengunjungi 2 negara, yaitu Singapore (3 hari) serta Malaka dan Malaysia (3 hari). Koq sayang banget sih, seminggu cuma buat 2 negara doank? Itu pertanyaan yang sempat ditanyakan oleh beberapa orang kepada saya. Sebenarnya, bisa saja sih, dalam seminggu mengunjungi tiga bahkan empat negara sekaligus. Tapi, karena saya berpikir tujuan saya pergi adalah untuk liburan dan liburan itu untuk dinikmati dengan santai, bukan penuh dengan target dan dikejar waktu yang sempit, maka saya memutuskan pergi ke dua negara saja. Setelah itinerary selesai dibuat, maka langkah selanjutnya adalah menukarkan mata uang Dollar Singapore dan Ringgit Malaysia. Kebetulan, ketika itu, saya mendapatkan harga yang lumayan bersahabat, yaitu nilai tukar Rupiah ke Dollar Singapore (SGD) adalah Rp. 9.717 dan Rupiah ke Ringgit Malaysia (MYR) adalah Rp. 3.450. Saya pun menukarkan SGD 230 dan MYR 430 untuk keperluan transportasi, makan, jajan, dan membeli tiket wisata selain Universal Studio Singapore.
                Hal lain yang sudah saya booking jauh-jauh hari selain tiket pesawat keberangkatan (Pergi - Air Asia : Rp. 259.000 dan Pulang – Lion Air : Rp. 719.000) adalah hostel dan tiket wisata ke Universal Studio Singapore (saya pesan di Travelicious dengan harga Rp. 620.000. Harga tiket on the spot $74, jadi saya bisa save kira-kira Rp. 110.000). Saya menggunakan aplikasi Traveloka untuk booking hostel selama di Singapore, Malaka, dan Malaysia. Sebelum saya memesan, saya melihat ulasan beberapa orang terkait hostel yang diinapi. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk menginap di Shophouse the Social Hostel, Singapore (harga/kamar/orang : Rp. 151.242); Voyage Cottage Lodge, Malaka (harga/kamar/orang : Rp. 121.614) ; dan Birdnest Collective Cafe & Guesthouse, Kuala Lumpur, Malaysia (harga/kamar/orang : Rp.111.080). Sebenarnya, ada hostel yang lebih murah daripada yang saya pesan, namun karena ulasan dari sebagian besar backpacker tidak puas, maka saya memilih yang agak lebih mahal tiga sampai lima puluh ribu rupiah agar nyaman untuk beristirahat. Untuk ulasan hostel, akan saya bahas berikutnya.
                Bicara soal itinerary, saya sadar bahwa saya membuat itinerary dengan cukup ambisius yaitu dengan merencanakan berbagai destinasi wisata yang akan saya kunjungi dalam satu hingga dua hari. Asumsinya adalah setiap destinasi dapat dilalui dengan mudah menggunakan MRT/LRT dan tidak kesasar terlalu jauh. Bila ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, misalnya kesasar atau menemukan destinasi lain di luar rencana, maka prinsipnya let it flow saja. Toh, ini kan liburan, bukan site visit yang ada targetnya, hehe. Rencananya, di Singapore saya ingin mengunjungi : 1). Kawasan Kampong Glam/Bugis 2). Kawasan Little India 3). Kawasan Chinatown 4). Universal Studio Singapore 5). Landmark Singapore : Merlion, Marina Bay Sands, Wonderful Lights, dll 6). Berbagai Museum di Singapore 7). Wisata belanja ; di Malaka : 1). Kawasan Merah dengan berbagai museum 2). Kesultanan Malaka 3). Malaka River Cruise 4). Wisata belanja ;  di Kuala Lumpur : 1). Batu Caves 2). Dataran Merdeka 3). Masjid Negara dan Jamek 4). Landmark KL : KLCC 5). Berbagai museum di KL 6). Pasar Seni 7). Petaling Street. Setelah dialami, ternyata banyak hal tak terduga terjadi. Salah satunya, saya dan teman saya kesasar. Apalagi saya hanya mengandalkan peta saja, tanpa google map atau sejenis online map. Maksud hati ingin berhemat dan ingin merasakan sensasi getting lost as traveller, ternyata malah buang-buang waktu lumayan banyak. Hiks. Namun, kabar baiknya, walau kesasar, sebagian besar rencana terimplementasi dengan baik. Yeay! *apresiasi diri*
                Nah, untuk kalian yang iseng-iseng browsing untuk merencanakan backpacking pertama, hal-hal yang perlu diperhatikan versi saya adalah : 

a). Ketahui Tujuan Liburan dan Destinasi-mu!
                Sebelum mengimplementasikan ide liburan, ada baiknya, kita bertanya pada diri sendiri, apa sih tujuan kita pergi ke suatu tempat? Apakah ingin liburan? Apakah bekerja yang diawali/diakhiri dengan liburan? Apakah ada tujuan lainnya? Hal ini penting karena dapat mempengaruhi perencanaan liburan kita dan tentu saja budget yang saya asumsikan terbatas. Setelah paham tujuannya, maka langkah berikutnya adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui daring. Situs yang bisa dikunjungi? Banyak, tergantung tujuan tempatnya. Misalnya saja Tripadvisor, Blog Traveloka, situs negara tertentu seperti yoursingapore.com, atau blog-blog orang-orang yang sudah pernah ke negara tersebut. Hal yang perlu dicatat adalah tentang transportasi dari dan ke negara tersebut termasuk harga tiket dan waktu yang tidak banyak dikunjungi wisatawan, informasi tentang visa dan turis, penginapan murah (bisa menginap di hotel, hostel, atau couchsurfing), mata uang dan kurs-nya, tempat kuliner dan harganya (karena saya muslim, maka saya cari yang halal), transportasi di dalam negara tersebut, peta wilayah dan jalur transportasi, tempat wisata gratis dan berbayar, kondisi sosiologis, geografis, dan cuaca di negara tersebut, serta informasi lain yang sekiranya dibutuhkan (nomor telepon darurat dan alamatnya).

b). Bagaimana Cara Menyusun Rencana Perjalanan (Itinerary)?
                Setelah mengetahui tujuan dan tempat wisata yang ingin dikunjungi, maka langkah kedua adalah menyusun rencana perjalanan. Bagi saya, rencana perjalanan ini, sifatnya mutlak diperlukan karena dapat menjadi panduan bagi saya sebagai backpacker pemula untuk jalan-jalan. Apabila ada hal-hal yang tidak terduga terjadi, seperti kesasar atau menjadi korban kejahatan oknum tak bertanggung jawab (mudah-mudahan tidak terjadi ya!), hadapi dengan fleksibel sesuai kondisi. Sekali lagi, kita kan mau liburan, maka nikmati saja, jangan dijadikan beban. Hehe. Anyway, untuk menyusun rencana perjalanan, yang dibutuhkan adalah destinasi yang ingin dituju, waktu pelaksanaan, alternatif lain, nomor telepon darurat, dan estimasi budget yang dikeluarkan. Buatlah dengan gaya kita sendiri, sesederhana mungkin sehingga kita mengerti saat membacanya. Saya membuat rencana perjalanan satu bulan sebelum waktu pelaksanaan, agar dapat dikoreksi oleh teman seperjalanan saya juga. Sebagai panduan, sila cek rencana perjalanan saya selama seminggu di sini.

c). Bagaimana Mencari Tiket. Hostel, dan Menukar Mata Uang?
                Walau namanya, backpacking low-budget, pastinya kita tetap butuh pengeluaran bukan? Maka dari itu, agar uang yang kita keluarkan untuk biaya tiket dan penginapan tidak membengkak, maka kita perlu rajin mencari tiket promo dari berbagai maskapai low-cost seperti Air Asia, Lion Air, atau Citilink. Selain online, kita pun bisa mencari tiket promo dari berbagai acara travel fair yang diselenggarakan beberapa kali dalam satu tahun. Walau, seringkali saya menemukan harga yang lebih mahal saat membeli di travel fair daripada mencari langsung secara online. Berdasarkan pengalaman kemarin, saya menggunakan maskapai Air Asia untuk berangkat dan Lion Air saat pulang. Lebih hemat lagi kalau kita menunggu saat-saat dimana Air Asia mengeluarkan promo SALE di waktu-waktu tertentu. Walau, kita harus berjuang mati-matian (ini bener loh J) untuk tidak tidur demi mendapatkan harga tiket Jakarta-Singapore di bawah seratus ribu rupiah. Sayangnya, saya belum beruntung dapat promo tersebut. Huhu. Kalau hostel, saya memercayakan pemesanan melalui aplikasi Traveloka. Hal ini berdasarkan pengalaman saya saat mencari tempat penginapan di Singapore, yaitu harga yang ditawarkan Traveloka lebih rendah dibandingkan dengan Hostel World, Booking.com, Agoda.com, Trivago. Pun dengan penukaran mata uang. Kita harus rajin memantau pergerakan kurs mata uang Rupiah ke mata uang yang dituju. Hal ini karena jumlah yang kita tukarkan bisa jadi mencapai angka jutaan (tergantung jumlah hari dan pengeluaran yang diinginkan) sehingga selisihnya bisa lumayan besar kalau kita tidak memantau pergerakan kurs.

d). Bagaimana Cara Menyusun Barang Dalam Ransel/Backpack?
                Setelah semua pertiketan dan per-booking-an sudah aman, maka hal yang perlu dilakukan adalah memutuskan mau pakai koper atau ransel? Kalau memang lokasi liburannya berpindah-pindah, maka pilihlah ransel dibandingkan koper, tapi kalau hanya di satu lokasi saja, ya boleh pakai ransel atau koper tergantung kenyamanan masing-masing. Mau koper atau ransel, dua-duanya perlu seni menyusun barang yang baik sehingga ruang didalamnya bisa digunakan dengan bijak. Kita bisa memulainya dengan beberapa opsi : opsi pertama, kita menyusun barang-barang dari mulai yang jarang digunakan atau digunakan di waktu-waktu terakhir liburan hingga yang sering digunakan atau digunakan di waktu-waktu awal. Opsi kedua, kita menyusun dari mulai yang paling berat hingga yang paling ringan dengan posisi horizontal (dari bawah ke atas – asumsi ranselnya memiliki bukaan di atas. Untuk ransel yang memiliki bukaan di samping, bisa disesuaikan dari kiri ke kanan atau sebaliknya). Untuk pakaian, saya biasanya menggulungnya hingga kecil atau menggunakan plastic-sealed. Beberapa opsi menggulung pakaian, bisa dilihat di video youtube yang banyak tersebar. Intinya sih, kurangi volume barang yang akan dibawa untuk memaksimalkan ruang yang digunakan sehingga kita tidak perlu membawa koper/ransel kosong untuk oleh-oleh.

d). Bagaimana Cara Beradaptasi di Negara Orang?
                Hal lain yang perlu kita antisipasi adalah terkait kultur dan peraturan di negara atau lokasi liburan kita. Dari mulai di bandara, kita harus tahu barang-barang apa saja yang tidak boleh dibawa dan akan disita oleh petugas bandara. Biasanya yang luput perhatian sih barang-barang bersifat cairan (sekental atau sepadat apapun jenis cairan tersebut akan tetap disita!) Kan sayang kalau kita sudah berimajinasi mengonsumsi makanan tertentu (misal : kecap) eh ternyata disita sama petugas bandara (ini pengalaman pahit saya, huhu). Gagal deh makan kecap manis di Singapore-Malaysia. Hiks. Nah, setelah sampai di negara atau lokasi tujuan, jangan lupa mampir di tourist information untuk memastikan pemahaman kita sekalian minta peta dan rekomendasi tempat wisata yang gratis serta berbayar. Hal tersebut dilakukan kalau kita kurang percaya diri dengan informasi di dunia maya yang pastinya sudah kita cari sebelumnya. Terus, kalau kita bertanya arah atau tempat ke orang awam (apalagi di negara yang masyarakatnya jarang menggunakan Bahasa Inggris),  jangan langsung percaya, karena bisa saja salah arah. Ini pengalaman ketika saya di KL. Saya bertanya arah kepada petugas di stasiun MRT, tapi ditunjukkan ke arah yang salah sehingga waktu pun terbuang percuma. Lebih terpercaya sih pake google map untuk petunjuk arah karena lebih update. Oiya, ada baiknya kalau kita juga menyimpan nomor darurat seperti nomor kantor polisi, rumah sakit, kantor MRT/LRT/Bus, KBRI, dan resepsionis penginapan kita. Lebih baik lagi kalau kita punya teman atau kenalan di negara atau lokasi liburan kita sehingga kalau ada apa-apa ya tinggal menghubungi dia. Kemudian, hal yang perlu diperhatikan adalah siapkan uang tunai karena sama seperti di Indonesia, kalau kita belanja di pasar, maka kita akan kesulitan mencari ATM atau mesin gesek. Money changer yang biasanya tersebar di pasar pun hanya menerima uang tunai. Apalagi ya? Hmm..siapkan kamera dengan kartu memori yang masih kosong ya! Kan sayang kalau momen liburan kita hanya diabadikan melalui memori otak saja, hehe.

                ..And all my bags are packed! Ready to go! Jangan lupa minta doa restu orang tua sebelum bepergian agar selamat, tidak terlambat pesawatnya, dan tidak kesasar di tempat liburan, hihi. Selamat merencanakan piknik supaya tetap bahagia dari usia muda :)

Selasa, 24 Februari 2015

Sebuah Jejak yang (Hampir) Terlupakan #3

Sejarah panjang telah membuktikan kekuatan sebuah peradaban. Glodok.
Keluar gang kecil, menelusuri pasar ke arah Pancoran, langkah kaki tersendat oleh padatnya para pembeli di dalam pasar. Voila! Sampailah di Glodok, salah satu denyut nadi perekonomian warga Jakarta yang mendapat julukan The China Town atau kawasan pecinan. Semasa VOC masih berjaya, Glodok merupakan kawasan di luar tembok kota. Sejak November 1740, penguasa VOC menjadikan kawasan Glodok sebagai daerah pemukiman Cina. Jauh sebelum dibangunnya Batavia dan masih bernama Sunda Kelapa, warga Cina sudah banyak yang tinggal di tepi pantai tidak jauh dari Bandar Sunda Kelapa. Tapi, ketika Belanda membangun loji di sini, mereka pun diusir. Baru setelah terjadinya peristiwa Chineezenmoord tahun 1740, yang menelan korban hingga 10.000 jiwa dan dikenal sebagai Tragedi Pembantaian Angke (Kali Merah), mereka ditempatkan di Kawasan Glodok.
        Konon, nama Glodok berasal dari bunyi air pancuran di sekitar Pancoran yang berbunyi grojok-grojok, lalu diplesetkan menjadi glodok oleh warga Cina. Bila kita bisa memutar waktu ke abad silam, di Kawasan Glodok tempo dulu terdapat konglomerat Khouw yang pernah berjaya, ribuan warga Cina pernah dibantai oleh VOC, serta nostalgia perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Peh Cun. Jejak tersebut sempat sirna kala diberlakukannya Inpres No. 14 Tahun 1967 tentang pelarangan atribut Cina di Indonesia, namun pada masa pemerintahan Gus Dur melalui Keppres No. 6 tahun 2000, warga Cina bebas untuk beribadah sesuai tradisinya. Imlek dan Cap Go Meh tidak dilarang lagi. Budaya Cina itu kini telah menjadi khazanah budaya Indonesia yang makin kuat dan berkarakter karena bersumber dari sejarah panjang bangsanya.
       Melewati jalan-jalan kecil di Kelurahan Glodok, aroma hio demikian merasuk hingga pangkal hidung. Tak heran memang, hio bagi masyarakat Cina, bukan saja sebagai pelengkap ibadah, namun juga disimpan di pojok-pojok pintu rumah. Lagu-lagu mandarin pun sesekali terdengar merdu dari sepanjang rumah-rumah yang sudah menyatu dengan jalan raya dan hampir tidak memiliki pekarangan. Rumah-rumah tersebut pada umumnya berlantai dua atau tiga yang dibentengi pagar tinggi dari besi, seperti tipikal rumah warga Cina kebanyakan. Menilik gang-gang kecil di sekitar Kawasan Glodok, memang membuat imajinasi melayang ke beberapa abad silam. Lalu lalang para lelaki Cina dengan rambut di kepang panjang dan bagian depan kepala dipangkas habis sebagai tradisi adat penjajahan Manchu terhadap Tiongkok selama 300 tahun. Pemerintah Belanda sendiri mewajibkan warga Cina tinggal di satu tempat dan melarang mereka berpakaian selayaknya pribumi atau Barat. Mereka yang melanggar akan dikenakan hukuman denda bahkan kurungan.

       Tak terasa sudah lebih dari 3 kilometer dilalui bersama dengan berjalan kaki. Menyusuri jejak-jejak sejarah memang tak pernah habis diulik. Selalu ada cerita dibalik peradaban. Pun kini, ternyata, sehari-hari kita melewati tempat yang menjadi saksi bisu pergulatan kemanusiaan. Sepakat memang, bahwa untuk menjajah sebuah bangsa, hilangkan saja ingatan sejarahnya. Ini bukan hanya kata-kata mutiara isapan jempol belaka, namun dapat menjadi peringatan. Oleh karena itu, sewajarnya apabila kita bersama-sama bahu membahu mengelola peradaban sejarah ini, agar tidak tersapu hutan-hutan beton yang makin masif merajalela.  

--TAMAT--

*Credit Information : Booklet KHI versi Chinatown Journey 

Sebuah Jejak yang (Hampir) Terlupakan #2

Sebuah peristiwa pasti akan mengristal menjadi sejarah, apapun itu.
            Jejak sejarah warga Cina di Jakarta kami lanjutkan ke kawasan niaga Pasar Pagi Asemka. Tempat ini dahulunya adalah kawasan pecinan seperti halnya Glodok. Banyak rumah langgam Cina dengan ciri toko di lantai bawah dan rumah tinggal di lantai atas. Biasanya, terdapat cermin yang digantung di depan bagian depan bangunan. Fungsinya adalah sebagai penolak bala dan pengusir roh jahat. Atap rumah bergaya Cina pun memiliki dua tipe sesuai strata sosialnya, yaitu tipe tapal kuda di ujung kiri dan kanan atap dan tipe ekor burung phoenix yang lancip di kedua ujung atapnya. Kami menemukan satu rumah bergaya atap tapal kuda dan satu rumah yang lebih mirip kuil bergaya atap ekor burung phoenix. Usut punya usut, tipe bangunan kedua itu adalah milik keluarga Souw yang beralamat di Jl. Patekoan (kini Jl. Perniagaan). Konon, nama Patekoan berarti 8 buah teko/poci (pat te-koan) atau versi lain mengatakan delapan orang pendekar. Di daerah ini pernah tinggal seorang Kapiten Cina Gan Djie (1663-1675). Istrinya yang berjiwa sosial karena setiap hari menyediakan 8 buah teko berisi air teh untuk diminum untuk khalayak ramai yang keletihan dan kehausan di perjalanan. Angka 8 sengaja dipilih sebab angka ini memiliki konotasi baik/hoki. Jl. Patekoan ini kemudian berubah menjadi Jl. Perniagaan karena dianggap oleh rezim Orde Baru sebagai kawasan bisnis/niaga.
Tipikal Rumah Cina (dua-tiga lantai dengan cermin di bagian depan)
            Bangunan keluarga Souw masih dipertahankan keasliannya. Konon, keluarga Souw merupakan keluarga kaya raya. Salah satu yang terkenal adalah kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Mereka tak hanya kaya, namun berjiwa sosial. Tjong mendirikan sekolah bagi anak-anak bumiputera di tanah miliknya, membantu orang miskin, menyumbangkan makanan dan bahan bangunan ketika terjadi kebakaran di daerah sekitarnya. Karena jasanya, pemerintah Belanda memberikan gelar Luitenant Titulair (kehormatan) pada Mei 1877. Namanya juga tercantum sebagai donor pada pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang pada tahun 1875 dan Kelenteng Kim Tek le Batavia pada tahun 1890. Adiknya, Keng, diangkat menjadi Luitenant der Chineezen di Tangerang pada tahun 1884.
Bangunan Keluarga Souw di Jl. Patekoan (kini Jl. Perniagaan)
            Menyusuri Jl. Perniagaan, terdapat sebuah gedung sekolah bertitelkan SMAN 19 Jakarta. Dahulu, gedung ini bernama Gedung Tiong Hoa Hwee Koan yang menjadi saksi berdirinya organisasi Tionghoa ‘modern’ di Batavia yaitu Tiong Hoa Hwee Koan/THHK (Perhimpunan Tionghoa) pada 17 Maret 1900. Pada tahun berikutnya, THHK mendirikan sekolah modern pertama yang disebut Tiong Hoa Hak Tong/THHT, disusul dengan pembukaan cabang lain di seluruh Hindia Belanda. Berdirinya sekolah-sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa di Batavia terhadap pemerintah Belanda yang selama itu tidak pernah memberikan pendidikan kepada anak-anak Tionghoa. Akibat perkembangan THHK yang sangat pesat, pemerintah Belanda yang khawatir anak-anak Tionghoa akan tersedot semua ke THHK, mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS) yaitu sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Pada tahun 1965, THHK ditutup oleh rezim Orde Baru dan diambil alih pemerintah menjadi SMAN 19 Jakarta.
Tiong Hoa Hak Tong (kini SMAN 19 Jakarta)
            Beranjak menuju ke sebuah jalan kecil, terpampanglah spanduk bertuliskan Vihara Dharma Bakti di Jl. Kemenangan III (dahulu Jl. Toasebio). Pada jalan ini, terdapat Kelenteng Toa Se Bio yang berarti kelenteng duta besar. Konon, kelenteng ini dibangun oleh orang Hokkian dari Kabupaten Tiotha, Provinsi Hokkian yang dipersembahkan kepada Cheng-Goa Cin-Kun yang merupakan dewata khas daerah tersebut. Hingar bingar Imlek terasa sangat kental di sini. Paduan warna merah dengan aksen naga pun menyambut kami yang penasaran. Wangi hio bercampur api dari lilin melahirkan fatamorgana di udara. Aku pun masuk dan mendapati sebuah hio-louw untuk menancapkan hio atau dupa lidi berangka 1751 pada ruang altar utama. Hio-louw ini merupakan objek berangka tahun tertua kedua setelah meja sembahyang berangka tahun 1724 di Kelenteng Kim Tek Le.


Tampak Depan Kelenteng Toa Se Bio 
            Tak jauh dari Kelenteng Tao Se Bio, terdapat Gereja Santa Maria de Fatima yang merupakan gereja katolik. Konon, gedung ini pernah menjadi kediaman Letnan Tionghoa yang bernama Tjioe. Setelah Tiongkok jatuh ke Partai Komunis tahun 1949, serombongan rohaniawan katolik ordo Jesuit terpaksa meninggalkan Tiongkok. Sebagian pindah ke Jakarta. Gedung ini kebetulan dijual oleh pemiliknya dan dibeli oleh mereka yang selanjutnya dijadikan gereja. Salah satu keistimewaan gedung ini adalah adanya inskripsi dalam aksara Tionghoa. Di bagian bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya tang terdahulu yaitu Kabupaten Lam-oa, Karesidenan Coan-ciu. Inskripsi lain di bagian atap adalah bok siu khong leng yang artinya rezeki, umur panjang, kesehatan, dan ketentraman yang merpakan dambaan setiap orang. Pada altar gereja, terdapat asimiliasi budaya Cina yang tergambar dari warna, tulisan, dan bentuk furnitur. Menurut Pastur, karena sebagian besar umat yang beribadah adalah warga keturunan Cina sehingga ibadah dwi-bahasa Mandarin dan Indonesia-lah yang digunakan. Gereja ini tampak terawat dengan baik tanpa menghilangkan keasliannya. Dari sini, bisa terlihat bahwa kepedulian dalam melestarikan sejarah sebanding dengan usaha yang dilakukan agar tetap mempertahankan kekunoan dari kekinian.
Tampak Depan Gereja Santa Maria de Fatima
             Perjalanan dilanjutkan menuju Kelenteng Kim Tek Le yang merupakan kelenteng tertua di Jakarta. Didirikan pada tahun 1650 oleh Letnan Tionghoa Kwee Hoean dan diberi nama Koan-Im Teng atau Paviliun Koan-Im (Dewi Welas Asih). Konon dari istilah Koan-Im Teng inilah kemudian timbul istilah kelenteng yang berarti “kuil Tionghoa”. Pada tahun 1740, kelenteng ini turut dirusak dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa oleh orang Belanda. Hanya sebuah meja sembahyang berangka tahun 1724 yang tersisa dari peristiwa tahun 1740 dan merupakan objek tertua yang diketemukan di Jakarta saat itu. Pada tahun 1755, Kapitein der Chineezen Oeij Tjhie (menduduki jabatan tersebut 1750-1756) menamakan kelenteng yang dirusak dan kemudian dipugar kembali dengan nama Kim Tek Le atau Kelenteng Kebajikan Mas. Kim Tek Le telah dua kali mengalami pemugaran besar pada tahun 1846 dan 1890, sebagaimana tertera pada dua prasasti di dinding kiri dan kanan bangunan utama kelenteng ini. Pada pemugaran tahun 1890, atap kelenteng yang sebelumnya terdiri dari tiga petak diubah menjadi seperti sekarang ini, yakni tiga petak menyambung menjadi satu.


(Lanjut Ke Bagian Tiga)

*Credit Information : Booklet KHI versi Chinatown Journey

Sebuah Jejak yang (Hampir) Terlupakan #1

“Suasana pekan itu sangat menegangkan. Puluhan tentara bersiap dengan senjatanya masing-masing, siap menerkam mangsa yang lengah dan lelah. Aku mengintip di balik celah kerai jendela tengah rumahku. Aku baru saja kehilangan saudaraku. Ya, mereka hilang dimangsa predator beringas di luar sana, saat mempertahankan diri dari kekejaman surat perintah : bunuh dan bantai orang Cina. Kalut ini ternyata melahirkan maut. Kata orang, aku ditemukan mengapung tak bernyawa di pinggir sungai. Namun, yang kuingat terakhir adalah tangan-tangan besar yang menarikku dengan paksa untuk menyerahkan raga dan menyaksikan pergulatan merah di depan mata. 1740. “
--------
Rintik hujan seakan merangkai tirai bagi pagi. Aku mempercepat langkah menuju ibukota. Suasana saat itu sedikit sepi. Sepertinya orang-orang urban masih menikmati kelindan hangat selimut di pagi yang dingin ini. Libur di tengah minggu memang membahagiakan bagi sebagian besar kaum urban. Bisa bermimpi lebih panjang sembari tak khawatir akan telat masuk kantor. Ah, bahagia itu sederhana. Ya, sesederhana saat aku masuk ke dalam gerbong commuter line, santai dan tidak ada adegan saling rebut tempat duduk. Pukul 07.45 WIB, aku pun sampai di Stasiun Kota. Hiruk pikuk penumpang kereta jarak jauh berpadu dengan kemegahan stasiun buatan zaman kolonial Belanda, membuat aku membayangkan berada di Batavia pada zaman keemasannya. Tanpa minimarket dan kafe di sepanjang sisi stasiun, terbayang aktivitas individu pada masa itu selama menunggu kereta. Mungkin lebih banyak interaksi di balik pintu art-deco atau malah terjadi diskriminasi strata. Entahlah. Namun, yang nampak adalah kekinian yang kadang memaksa untuk menggantikan kekunoan.
19 Februari 2015, bertepatan dengan Hari Raya Imlek, aku mengagendakan untuk mengikuti kegiatan jelalah kawasan pecinan Jakarta dalam acara bertajuk ‘Chinatown Journey’. Diselenggarakan oleh Komunitas Historia Indonesia (KHI), acara ini mengambil jalur di sekitar kawasan Kota Tua Jakarta yang merupakan saksi bisu pergolakan politik Belanda dan Cina di abad ke 17. Awal perjalanan tersebut dimulai saat kami berkumpul di depan Museum Sejarah Jakarta yang dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Dengan menggunakan pakaian merah, kami berkumpul dan mendengarkan penjelasan singkat mengenai cerita dibalik kemegahan beberapa museum di Kawasan Kota Tua.
Plot hari itu dimulai dengan sejarah Museum Sejarah Jakarta yang dulu bernama Stadhuis VOC. Berusia lebih dari 3 abad, bangunan ini selain sebagai kantor Gubernur Jenderal VOC wilayah Asia, juga merupakan kantor Raad Van Justitie (Dewan Pengadilan), Raad Van Indie (Dewan Hindia – Penasihat Gubernur Jenderal), sebagai penjara, serta kantor catatan sipil. Banyak pahlawan yang pernah mendekam di penjara bawah tanah ini, seperti Pangeran Diponegoro, Untung Surapati, serta masyarakat etnis Cina yang dianggap melanggar peraturan. Di depan gedung megah ini, terdapat taman yang cukup luas bermama Stadhuis Plein (kini bernama Taman Fatahillah). Stadhuis Plein merupakan tempat berkumpul penduduk kota saat itu untuk menyaksikan berbagai kegiatan, yaitu hukuman mati/eksekusi penjahat dan pembangkang pemerintah Belanda. Menurut sejarah, tahun 1629, seorang putri kemenakan Gubernur Jenderal J.P.Coen dihukum cambuk dan kekasihnya dipenggal di teras gedung ini karena tertangkap basah bermesraan di kamar gadis itu (bayangkan bila kebijakan itu masih berlaku saat ini!). Di tengah alun-alun terdapat air mancur yang dibangun pada awal abad ke-20 yang dimanfaatkan untuk minum penduduk dan kuda yang kelelahan. Selain itu, di sebelah utara, kini terdapat Situs Meriam Sijagur yang konon merupakan simbol keperkasaan pria, seperti halnya lingga pada candi. Sebagian masyarakat percaya bahwa dengan berkunjung ke Meriam Sijagur, pasangan bisa cepat memiliki anak (bagi yang masih berpacaran tidak disarankan kesini ya).  
Stadhuis VOC (kini Museum Sejarah Jakarta) dan Stadhuis Plein (kini Taman Fatahillah)
Alur berjalan maju ke arah Jl. Kali Besar Timur. Tampaklah jembatan panjang yang kini digunakan sebagai pangkalan baik becak maupun ojek. Pedagang kaki lima pun tak malu-malu mendenyutkan nadi perekonomian pribadi. Lazim memang, karena di tempat mereka berpijak yaitu The Groote Kanal, pada zaman pemerintahan Belanda merupakan pusat kegiatan perdagangan yang menghubungkan Pelabuhan Sunda Kelapa melalui Sungai Ciliwung. Di samping kemegahan yang tersurat dalam sejarah, ternyata tempat ini menyisakan kesedihan mendalam bagi etnis Cina akibat peristiwa pembantaian etnis Cina (chineezenmoord) pada 3 abad silam. Bermula dari bisnis gula milik pemerintah Belanda, yang menyerap banyak tenaga kerja etnis Cina di Batavia, mengalami pailit akibat tersaingi dengan gula malabar (India) di pasar internasional sehingga banyak warga Cina yang menganggur, menjadi gelandangan, dan bertindak kriminal. Hal ini membuat VOC memberlakukan peraturan bagi warga Cina. Mereka yang tinggal di Batavia harus memiliki izin tinggal, berusaha atau berdagang. Apabila dilanggar, maka akan terkena razia untuk diberangkatkan secara paksa ke Srilanka yang masih wilayah jajahan Belanda kala itu. Tersiar isu di kalangan warga Cina, bahwa di tengah perjalanan, mereka akan dibuang ke laut. Efeknya, para warga Cina pun bahu membahu mempersenjatai diri dan berkelompok untuk melawan Belanda. Mereka mulai melancarkan serangan pada pasukan VOC yang tengah menuju Tangerang. Pada 8 Oktober 1740, warga Cina mulai menginvasi kota. Perlawanan itu menjadi alasan bagi tentara dan pegawai VOC untuk melakukan tindakan sewenang-wenang bagi warga Cina. Jam malam pun diberlakukan di Batavia. Pada 10 Oktober 1740, Gubernur Jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah : bunuh dan bantai orang-orang Cina. Demikian dahsyatnya pembantaian itu, seakan nyawa tak berharga lagi. Tak pandang bulu, para tahanan, pasien, hingga bayi yang tak bersalah pun dihakimi untuk dicabut nyawanya. Raga mereka dibuang semena-mena di sepanjang bentangan Sungai Ciliwung pada jembatan The Groote Kanaal. Amis dan merah meruap di sekitarnya, menandakan duka nestapa yang tak akan lekang dimakan zaman. The Groote Kanaal : Kali Besar, saksi peristiwa chineezenmoord tahun 1740

Ketika peristiwa menakutkan itu terjadi, perkampungan warga Cina berada kira-kira di sekitar The Groote Kanaal yang kini disebut Kali Besar. Kemudian, VOC membangun perkampungan baru untuk mereka sedikit di luar tembok kota, yang kini dikenal dengan nama Glodok.


(Lanjut ke Bagian Dua)

*Credit Information : Booklet KHI versi Chinatown Journey

Minggu, 29 September 2013

Accidentally Travelling (2)



 (continue #1) ... Apabila akan makan malam, ada fasilitas delivery to cottage. Namun, karena kami penasaran dengan restonya, maka kami pun berduyun-duyun makan disana. Menu yang ditawarkan terbilang biasa saja. Rasanya pun apalagi, sangat jauh dari kata ‘recommended’. Tapi, harganya, jangan ditanya deh, mahal sekali. Bayangkan saja, untuk satu porsi udang dan cumi goreng tepung, dibanderol dengan harga 58 ribuan. Satu porsi berisi 10 potong kecil udang / cumi dengan tepung bumbu instan sebagai tepungnya. Yaelah, plis deh. Ga sesuai banget antara harga, penampilan, dan rasanya. Kemudian untuk minumnya, kami pesan lemon tea panas dan yang tersaji adalah secangkir kecil teh hitam merk lokal plus potongan jeruk nipis disampingnya. Harganya 18 ribu rupiah per cangkirnya. Benar-benar membuat kami sebagai pengunjung kapok untuk balik lagi. Apalagi merekomendasikan. Hehe. Satu hal yang belum saya nilai adalah keindahan pantainya. Tunggulah hingga esok tiba, baru saya dapat menyimpulkan.
          Fajar menyingsing, pagi pun telah datang. Setelah menunaikan shalat Subuh, kami bergegas ke pantai, memburu panorama dan keindahan sunrise yang muncul malu-malu. Cuaca pagi memang agak mendung, hawa pun dingin menggigit. Bila tidak dipaksakan bergerak keluar, bisa-bisa cuma numpang tidur saja di dalam cottage. Kalau pasangan baru yang sedang berbulan madu sih masih dapat dimaklumi, lah kalau murni mau liburan ke pantai, masa disamakan? Hehe. Kami adalah orang pertama yang menyambangi pantai ini. Saat kami menginjakkan kaki masuk ke dalam dinginnya pasir, tiba-tiba angin laut berhembus keras. Mungkin Dewa Neptunus dan penunggu pantai selatan sedang menyambut kedatangan pengunjung baru. Rencananya sih, saya ingin mengabadikan sunrise, tapi cuaca berkata lain. Sunrise pagi ini tak tampak, namun panorama pantai dengan karang berserakan, ombak yang berkejaran, dan pasir yang masih putih bersih menghapuskan segala kekecewaan. Pantai ini terlihat masih perawan. Tak banyak orang yang bermain-main disini. Alasan klasiknya karena biaya yang relatif mahal untuk menginap disini. Namun, untuk pantai seindah dan seprivat ini, saya rela membayar lebih, asalkan kepuasan hati terlunasi dengan hasil jepretan nan memukau serta mencicipi isi pantai yang masih perawan. Rasanya jadi ingin punya pantai pribadi. Hehe. Setelah puas main di pantai, kami rehat sejenak untuk sarapan ala hotel sebagai complementary penyewaan cottage. Menu sarapan yang disajikan tak mengecewakan, ya sebandinglah dengan harga cottagenya. Setelah itu, kami beranjak ke acara berikutnya, yaitu mencoba water sport. Untuk mencapai arena water sport, kami harus berjalan kaki kira-kira 1 km. Disana ditawarkan banyak varian dengan harga beragam seperti jet sky, banana boat, glass bottom  boat, snorkeling, hingga diving. Pertama saya mencoba glass bottom boat yaitu boat yang dilengkapi dengan kaca ditengahnya sehingga pengunjung dapat dengan jelas melihat keindahan bawah laut dengan kedalaman 5-10 meter tanpa perlu snorkeling atau diving. Tarif yang dipatok adalah 75 ribu perorang. Konon, menurut petugasnya, keindahan laut di pantai Tanjung Lesung ini lebih eksotis dibandingkan pantai lain seperti Carita atau Anyer. Hal ini disinyalir karena laut disini masih terjaga kebersihannya. Nelayan yang mengambil ikan pun dibatasi aksesnya. Memang benar sih. Terumbu karang dan ikan warna-warninya jelas terlihat. Jadi ketagihan ingin mencoba snorkeling atau diving. Yang pasti tidak sekarang. Kapan-kapan. Hehe. Water sport kedua yang saya coba adalah banana boat, per setengah jam dibanderol dengan harga yang sama yaitu 75 ribu perorang. Karena saya bermain bersama sepupu yang masih berusia awal belasan tahun, jadi tidak ada adegan pembalikan banana boat di tengah laut. Ya adrenalin kurang terpacu sih, but it’s okay for beginner =) Next, mari coba water sport yang sedikit lebih ekstrim, hoho.
         Matahari sudah tepat berada di atas kepala. Adzan Zuhur pun sudah berkumandang di kejauhan. Kulit sudah nampak gosong. Ini pertanda untuk harus segera kembali dan bersiap check-out. Dua jam kemudian, kami selesai berkemas dan duduk manis di dalam mobil. Satu hari setengah adalah waktu yang sangat singkat untuk kami coba mengeksplor salah satu kawasan pantai selatan Jawa Barat. Walau dengan segala kekurangan yang dihadapi, ternyata tersimpan sebuah rasa yang mungkin pertanda. Bahwa saya rindu berada kembali disini, di sebuah pantai privat nan eksotis, berbekal kamera dan pena, bersama dia yang entah siapa, menjangkau kedalaman laut beratapkan langit, mencipta sebuah cerita walau harus mengubur berjuta kenangan lama yang perlahan sirna ditelan ombak dan karang. Untuk kita, bersama.
So, what does the travelling means to you? #2 (End)
see you!

Accidentally Travelling (1)


“What does the travelling means to you?” 

Welcome!

         Seperti biasa, setiap jumat sore, saya selalu sumringah pulang ke rumah. Kali ini, ada alasan tambahan untuk bertambah sumringah. Keluarga mengajak saya untuk berlibur sekaligus berziarah ke makam mbah buyut di Pandeglang. Yeay! Walaupun tanpa persiapan matang karena saya baru saja pulang dari Medan, namun tak sedikitpun menyurutkan semangat saya untuk mengabadikan tiap momen berharga selama perjalanan. And the journey have begun!
         Sudah lama rasanya kami tak berlibur bersama, bercengkrama dengan keluarga walau sempat terbersit rasa kasihan karena papalah yang harus menyetir non stop hingga ke tujuan. Sebenarnya, pengen sih bantu papa nyetir, cuma karena kondisinya saya memang tidak bisa nyetir dan kalau pun bisa papa pasti tidak mengizinkan, alhasil saya pun hanya duduk manis mengemil selama perjalanan. Hehe. *Pardon me, Dad =)* Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 6 jam dengan convoy 4 mobil. Itu pun berbonus nyasar di tengah jalan. Ya biasalah, kurang peka satu sama lain, akhirnya satu nyasar repot yang lain. Hehe. Pukul 15.00 sampailah kami di kompleks pemakaman mbah buyut yang ternyata adalah Kapolwil Banten pertama , Kombes. Pol. Yoesoep Martadilaga. Memasuki kompleks pemakaman, hawa pun terasa beda. Sunyi sepi melingkupi bersama semilir angin yang membelai mesra kulit ini, seolah mengirimkan sebuah pesan kepada yang masih bernyawa. Persiapkanlah bekalmu sedini mungkin karena kita tak tahu kapan akan dipanggil menghadap Sang Maha. Bila sudah tiba waktunya, hanya doa yang menjadi teman kita. Harta duniawi yang dikumpulkan pun tak bermanfaat lagi. Renungan singkat, syarat makna dalam, khususnya untuk saya pribadi yang masih jauh dari kata cukup apalagi sempurna. Ketika perkenalan akan silsilah keluarga telah dipahami dan doa telah selesai dilantunkan, kami pun pamit. Ziarah menjadi salah satu pengingat yang nyata bahwa hidup adalah persinggahan fana untuk menyiapkan perbekalan menuju keabadian disana. Mudah-mudahan kami sekeluarga dapat bertemu di akhirat, berkumpul dalam surga-Mu ya Rabb. Amin.
        Perjalanan dilanjutkan ke sebuah private resort di selatan Jawa Barat. Tanjung Lesung Resort, memakan waktu 4 jam berkendara untuk dapat mencicipi salah satu keindahan alam Jawa Barat. Sepanjang jalan, kami disuguhkan dengan panorama pepohonan, rumah penduduk, serta pasir putih yang telah terlihat dari kejauhan. Angin laut pun mulai terasa bersemilir lembut. Dipadu dengan mentari senja yang bergradasi kemerah-merahan, rasanya tak sabar untuk segera sampai di tujuan. Tepat pukul 18.00, akhirnya, kami pun sampai di Tanjung Lesung. Sayang, karena sudah malam, kami tak sempat melihat mentari terbenam di ufuk barat. Namun, tak mengurangi rasa penasaran untuk segera menjejakkan kaki di pasir putih. Kami menginap di cottage tak jauh dari pantai. Kesan privat pun langsung terlintas tatkala masuk ke dalam kompleks cottage tersebut. Tak banyak orang yang berlibur disini. Hanya orang-orang tertentu saja yang menyambangi tempat ini. Tak seperti pantai Carita atau Anyer yang penuh dengan pengunjung. Usut punya usut, karena cottage ini permalamnya lumayan mahal, namun setelah ditilik lebih jauh ke dalam cottage, fasilitas yang ditawarkan pun tak sebanding. Misalnya, walau satu cottage terdiri dari 2 kamar, lantai atas dan bawah, namun ukurannya kecil untuk ukuran keluarga; kamar mandinya hanya 1 saja padahal kamarnya ada 2 dengan kondisi agak kotor dan terkesan biasa banget apalagi konsepnya yang mengusung naturalis kurang mendukung seperti selot kunci kamar mandi hanya menggunakan potongan kayu besar, ya jadi seperti pintu-pintu shaolin gitu deh, tidak praktis dan kurang elegan; tidak ada dapur untuk aktivitas masak memasak apalagi restonya lumayan jauh; serta kurangnya stop kontak untuk charge gadget pengunjung. Mungkin, desain cottagenya ini untuk pasangan yang bulan madu sehingga sangat minimalis. Untuk harga permalam sekitar 3 jutaan, terbilang sangat mahal. Ya, buat pengalaman sajalah. Yang penting sudah pernah mencicipi. Hehe. #1 (continue..)

ke MEDAN (ku kembali) #3



“..Lonely travelling might collect positive energy to affected your creativity”
         Hari ketiga menumpang hidup di Medan membuahkan banyak pengalaman. Kesendirian tak sedikitpun mengalirkan perasaan sepi di hati. Mungkin inilah yang saya sebut sebagai reformasi hati dimana kebebasan bertransformasi menjadi sebuah energi dan mengalirkan semangat berkreasi lebih luas dibandingkan ketika bersama orang lain disisi yang ternyata belakangan diketahui kurang menikmati. Sensasi perjalanan sendiri membuahkan cerita sederhana bermakna dalam yang melingkupi rasa puas hati, membuat ketagihan. Mungkin, untuk selanjutnya, saya mau begini lagi atau kalau ada yang berminat menemani, saya siap berbagi. =)
        Malam hari terakhir saya di Medan, disuguhi dengan rintik hujan yang kian membesar. Sebelum saya pulang ke hotel, saya putuskan untuk membeli oleh-oleh andalan yaitu Bolu Meranti rasa blueberry, capucinno, dan abon ayam plus bika ambon merk Rika. Semuanya berlokasi di jalan Sekip. Dalam perjalanan tersebut, saya diantar oleh supir yang sok tahu tapi tak tahu jalan. Oh, plis deh! Untung saja, saya bisa mencurahkan kekesalan saya pada seorang teman melalui sosial media. Kalau tidak, habislah dia. Hehe. Sesampai di hotel, teman saya mengirim pesan untuk mengajak makan duren di tempat terkenal di Medan, Duren Ucok :
I want MORE!!
Tanpa banyak ba bi bu, langsung saya iya-kan ajakannya. Pas sekali. Pas ngidam duren, pas ada teman. Lengkap sudah! Sebelum menuju ke Ucok Duren, saya mengisi perut dengan nasi goreng Jalan Pemuda yang berlokasi tepat di depan hotel. Nasi goreng plus sate kerang adalah perpaduan seru saat bertemu. Bila dibandingkan dengan nasi goreng dekat hotel Soechi Medan, rasanya memang kalah enak. Namun, lumayanlah untuk memproteksi perut sebelum dihajar habis-habisan dengan duren, hehe.
             Pukul 21.00, saya berangkat ke Duren Ucok dan bertemu dengan teman lama disana. Ia membawa serta teman kerjanya yang hobi makan duren. Kalau dihitung-hitung, saya menghabiskan 2 buah duren full. Perut saya memang dihajar habis-habisan dengan buah duren ini. Abisnya, ga bisa nolak sih. Bayangkan saja :
best durian in town!
"Ketika cangkang dibuka, aroma daging buah langsung memenuhi rongga penciuman. Daging buah yang tebal dan bertekstur kering di luar, juicy di dalam membuat saliva tak bisa berhenti untuk keluar. Saat daging buah perlahan dicecap, serasa hidup dalam taman sriwedari, surga dunia hadir tiba-tiba di tengah kita"

Memang agak lebay, tapi demikianlah saya mendeskripsikan kecintaan pada buah yang dijuluki king of fruits. I’ll be faith to live with durian around me. Hihi. 6 buah durian seharga 150 ribu telah habis tak bersisa sedikit pun. Memang kalap kita. Maklumlah momen bersama durian adalah momen berharga untuk dilewatkan karena tak setiap hari kita bisa makan durian sampai mabok dengan harga relatif terjangkau. Duren Ucok memang wajib disambangi ketika berkunjung ke Medan. Walaupun, sebenarnya saya punya langganan juga di kawasan kaki lima Jalan Semarang. Bedanya adalah di Duren Ucok ini, durian selalu tersedia berlimpah walaupun belum musim durian walau kadang rasanya sedikit tidak memuaskan tapi kita bisa menggantinya dengan durian lain yang kita suka. Bila kita mau membawa buah durian sebagai oleh-oleh, Duren Ucok menyediakan jasa pengepakan. Per kotak ukuran standar berisi 7 buah duren kecil dan dibanderol dengan harga Rp. 270.000. Bila beli minimal dua kotak, pesanan kita dapat diantar sampai hotel. Harganya memang relatif mahal karena pengepakan durian ini membutuhkan banyak sekali peredam bau seperti kopi, bunga bakung, dan pandan sehingga kita dapat lolos dari regulasi hotel atau pesawat mengenai larangan membawa durian. Nice to try for the next visit. Hehe.
           Pukul 23.00, saya pun sampai di hotel. Perut rasanya agak panas. Namun, tak membuat saya kapok untuk makan duren sampai mabok kembali, hehe. Malam ini adalah malam terakhir saya menginap di Medan. Esok hari pesawat telah menunggu untuk mengantarkan saya kembali ke rutinitas asal. Berat untuk meninggalkan rasa asli kuliner Medan plus durian Medan yang paling ngangenin. Hope to see you again, Medan. I’m sure, I can’t stand to wait ‘till the opportunity for travelling come and beat my life!