Labels

Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

GOR Pajajaran Bogor : Riwayatmu Kini



 
Batu Peresmian GOR Pajajaran (Sumber : foto pribadi)
Dua anak perempuan itu berlari dengan gembira, saling susul menyusul. Tak ada raut wajah kecewa, walau sepatu mulus mereka lengket oleh tanah lumpur bekas hujan semalam.
 
GOR Pajajaran Bogor, 14/08/2016. (Sumber : foto pribadi, didokumentasikan saat Car Free Day)
                Seperti biasa, Hari Minggu pagi merupakan jadwal sebagian besar warga untuk berolahraga. Hal ini didukung oleh program Car Free Day (CFD) di Kawasan Jendral Soedirman, Bogor, dari pukul 06.00-09.00 WIB. Namun, nyatanya, banyak juga orang-orang yang beralih ke lapangan agar dapat berolahraga nyaman tanpa pedagang. Salah satu lapangan yang banyak digunakan oleh warga Bogor untuk berolahraga adalah Gelanggang Olah Raga (GOR) Pajajaran. Warga Bogor yang mengenyam pendidikannya di Kota Bogor pasti pernah mencicipi olahraga di GOR Pajajaran ini. Tak terkecuali saya. Di benak saya, masih terekam jelas suasana saat saya berolahraga di GOR Pajajaran 10-15 tahun silam. Saat itu, GOR Pajajaran tak hanya digunakan untuk kegiatan pendidikan olahraga sebagai mata pelajaran di sekolah, namun juga sebagai tempat para atlet berlatih olahraga. Cabang olahraga sepakbola, basket, karate, renang, dan atletik menghidupkan semangat GOR Pajajaran agar tetap berguna. Kiprahnya dapat terdengar hingga saat ini. GOR Pajajaran pun akan digunakan sebagai rute awal Kirab Api Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX September mendatang.
                Kenangan indah akan kenyamanan berolahraga di GOR Pajajaran satu dekade lalu membawa saya kembali menjadi pelanggan setia GOR Pajajaran. Karena olahraga murah meriah yang tak membutuhkan banyak properti adalah lari, maka saya pun bergegas pada Minggu pagi untuk mencoba lari dengan aplikasi NikeRun+ sebagai pelatih virtual saya. Saat sampai di depan gerbang GOR Pajajaran, saya terkejut dan hampir tak mengenali. Bau tak sedap dan sampah plastik berceceran di depan pintu masuk. Belum lagi coretan vandalisme mencederai tiap sudut dinding. Pelapis dinding pun sudah banyak yang berjamur dan terkelupas. Oh, inikah GOR Pajajaran yang saya gunakan satu dekade lalu untuk berolahraga? Saya pun masuk lebih dalam. Tampak kamar mandi dan ruang ganti yang sangat tak terawat. Lantai dan kondisi toilet kotor, berbau sangat tak sedap, pintu rusak, banyak sarang laba-laba, dan lumayan gelap. Oh! Saya sangat tak mengenali. 
Kamar Mandi dan Kamar Ganti di GOR Pajajaran (Sumber : foto pribadi)
                Dua pilihan yang dapat saya ambil saat itu, pergi ke kantor administrasi GOR Pajajaran yang terletak persis di depan atau pura-pura tak peduli dan melanjutkan kegiatan olahraga lari. Karena Hari Minggu dan kantor ternyata tak beroperasi, maka saya memillih opsi kedua. Saya pun bergegas menuju ke salah satu bangku kecil yang terletak di pinggir lapangan untuk menaruh tas dan botol minuman. Hal ini yang menjadi kelebihan GOR dibandingkan lapangan lainnya untuk berolahraga, yaitu adanya bangku kecil sebagai tempat istirahat sementara dan/atau menaruh barang saat empunya berolahraga. Karena tidak terlalu banyak orang yang berolahraga, sehingga saya kira barang saya aman-aman saja. Walau, perlu waspada juga dengan tidak menaruh barang berharga di dalamnya. Kondisi bangku tersebut sepertinya masih sama dengan satu dekade lalu. Namun, atap kecil yang menaunginya sudah agak renyot dan mungkin bisa saja roboh sewaktu-waktu bila ada angin kencang menerpa.
                Saya bergegas melakukan pemanasan dengan stretching sebelum berlari. Kebetulan, saat itu ada beberapa orang dewasa dan remaja, memakai kaus bertuliskan kejuaraan salah satu olahraga, yang juga melakukan pemanasan. Saya rasa mereka adalah atlet. Maka, saya pun mengikuti ritme mereka. Lumayan, membuat badan adaptasi dengan hentakan saat berlari. Mulailah saya berlari dengan target 5K sebagai pemula.
                Banyak hal unik yang saya temui saat berlari. Dari mulai tanah berlumpur yang demikian lengket menempel pada sepatu saya dan membuat tak nyaman saat berlari. Lalu, rumput-rumput liar yang tumbuh di hampir sepanjang track lari dan adanya batu-batu ukuran sedang yang menghalangi, membuat beberapa kali saya hampir tersandung. Kubangan air yang menghiasi sepanjang sisi timur track. Hal ini yang membuat saya bertanya, ini sawah atau track lari, sih? Apakah ini akibat hujan deras yang mengguyur Bogor semalam? Selain itu, bentuk-bentuk vandalisme pun banyak ditemukan di sepanjang putaran lapangan, seperti tribun yang kotor dan penuh sampah serta coretan di tiap dinding dan pintu. Sungguh menyedihkan kondisi GOR Pajajaran. Sepanjang saya berlari, terbersit pertanyaan besar, siapakah yang bertanggung jawab terhadap perawatan dan pemeliharaan GOR Pajajaran? Apakah Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bogor sebagai representasi Pemerintah Kota Bogor? Mengapa kalah jauh dengan GOR milik Kabupaten Bogor? Dan pertanyaan-pertanyaan turunan lainnya yang membuat geregetan. 
Rumput liar di sekitar track lari yang hampir membuat saya tersandung. (Sumber : foto pribadi)

Track lari berlumpur :( (Sumber : foto pribadi)
                 Menilik kondisi GOR Pajajaran yang saya pikir tidak layak, sebagai warga Bogor yang rutin menggunakan GOR sebagai tempat olahraga, jelas merasa dirugikan. Saya pun bingung mengenai media mana yang dapat menaungi aspirasi ini. Saya sudah mencoba media twitter yaitu @KanporaBogor serta alamat daring : kanpora.kotabogor.go.id namun tidak ada tanggapan. Malah, apabila kita buka daringnya dan melihat bagian visi misi-nya, saya merasa ganjil. Visinya adalah terwujudnya kepemudaan dan keolahragaan Kota Bogor yang berdaya saing. Misinya yaitu 1). Mengembangkan perekonomian masyarakat yang bertumpu pada jasa perdagangan ; 2). Mewujudkan kota yang bersih dengan sarana dan prasarana, transportasi yang berkualitas ; 3). Meningkatkan kualitas SDM dengan pemekaran pada pemutusan Wajib Belajar 12 tahun serta peningkatan kesekatan dan keterampilan masyarakat ; 4). Peningkatan pelayanan publlik dan partisipasi masyarakat. Sedangkan ada beberapa tujuan juga yang disasar seperti : 1). Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat yang unggul ; 2). Meningkatkan kualitas pemuda melalui IPTEK dan ImTaq ; 3). Memfasilitasi sarana dan prasarana olahraga ; 4). Meningkatkan kontribusi terhadap PAD Kota Bogor. Setelah saya baca, malah timbul pertanyaan, mengapa misinya tidak fokus ke bidang keolahragaan sedangkan visinya jelas-jelas tentang pemuda dan olahraga? Lalu, apakah berarti tujuan nomor 3 belum terwujud dengan baik mengingat GOR Pajajaran yang demikian tak terawat?
                Tak adil rasanya apabila komplain tanpa memberi rekomendasi solusi. Dari kacamata saya sebagai warga Bogor, mungkin Kantor Pemuda dan Olahraga (Kanpora) Kota Bogor dapat mencoba mengomunikasikan dan mensosialisasikan program kerja terkait pemuda dan olahraga kepada masyarakat. Dalam hal ini, Kanpora dapat mencontoh pola komunikasi Pemerintah Kota Bogor yang melibatkan komunitas kepemudaan dan masyarakat Bogor untuk bahu membahu memperbaiki kekurangan dan mengoptimalkan potensi yang ada dengan tujuan untuk menciptakan kemajuan ke depannya. Contoh konkritnya semisal revitalisasi GOR Pajajaran sehingga para atlet hingga masyarakarat umum dapat nyaman dan aman dalam berolahraga. Saya kira, revitalisasi GOR pun dapat menjawab tujuan sebagian besar tujuan Kanpora Kota Bogor. Apabila semisal dananya kurang, Kanpora dapat mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat untuk ikut iuran, asal transparan. Dengan kolaborasi antara Kanpora sebagai perwakilan pemerintah dan masyarakat sebagai warga Bogor, masalah pun dapat diubah menjadi  kekuatan untuk bersama bergerak ke arah kemajuan kepemudaan dan olahraga Kota Bogor.
                Mungkin, dua anak perempuan di atas akan lebih bahagia saat berlari bersama, karena sepatunya tak lagi lengket akibat menginjak tanah lumpur. Walau senyum tidak menyelesaikan masalah, namun setidaknya dapat menghasilkan rekomendasi solusi dibandingkan mengeluh dalam diam.

Dokumentasi lainnya : 
Perbuatan alay* manakah ini? Tampak depan dari bangunan GOR Pajajaran. (Sumber : foto pribadi)
Vandalisme di sekitar lingkungan GOR Pajajaran. (Sumber : foto pribadi)
 Catatan : *alay : anak layangan

Ada Apa Dengan Cinemaxx Bogor?



**Ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi penulis
               
                Minggu ketiga Bulan Agustus 2016, media dihebohkan dengan berita tentang dwikewarganegaraan yang melanda mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Archandra Tahar, dan Paskibraka Nasional 2016, Gloria Natapradja Hamel. Kedua sosok tersebut disinyalir memiliki dwikewarganegaraan. Archandra diketahui memiliki paspor Amerika Serikat karena beliau sudah lebih dari 20 tahun bekerja di sana dan Gloria yang juga memiliki paspor Prancis karena ayahnya adalah WNA Prancis. Isu ini menjadi ramai lantaran seleksi administrasi di awal yang sangat tidak teliti. Dalam kacamata peraturan yang kaku, mengapa malah pelaksanaannya sangat cair sehingga menimbulkan masalah di akhir? Sayangnya, pertanyaan tersebut belum saya dapatkan jawabannya (atau malah saya yang kurang update?). Dan sayangnya juga, saya tidak akan membahasnya di sini =D. Itu tadi sebagai pembuka tulisan saya yang, menurut saya, ada hubungannya dengan peraturan yang terlihat demikian kaku.
                Cerita saya berawal dari rasa penasaran saya untuk mencoba bioskop yang, katanya, baru di Bogor, yaitu Cinemaxx. Sebenarnya, saya sudah beberapa kali menonton film di Cinemaxx Jakarta dan saya puas dengan servis yang diberikan. Oleh karena itu, saya ingin tahu, seberapa standar servis bioskop Cinemaxx ini?
Bioskop Cinemaxx Bogor terletak di Lippo Plaza Mall atau lebih dikenal dengan nama Ekalokasari Mall, yang merupakan salah satu mall megah di Bogor. Pada tahun 2000-an, tepatnya saat saya masih SMA, Ekalokasari Mall adalah mall kalangan menengah ke atas karena eksistensi merk-merk ternama dengan harga di atas rata-rata. Namun, seiring perkembangan zaman, Ekalokasari Mall pun kalah saing dengan Botani Square. Mungkin karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kota. Nah, di akhir tahun 2015, Ekalokasari Mall mengalami renovasi dan berganti nama menjadi Lippo Plaza Mall. Pembaharuan nama pun menyumbang kontribusi pada kehadiran Cinemaxx pertama di Bogor.
Pertama masuk ke Lippo Plaza Mall, terdapat tulisan promosi Cinemaxx. Standar sih, semacam Cinemaxx hadir di Lantai Mezanine hingga informasi teknologi yang dihadirkan. Kemudian saya bingung, dimanakah Lantai Mezanine itu berada? Kebetulan saat itu, saya tidak menemui sekuriti yang seharusnya bertugas. Maka, saya pun mencari tahu sendiri melalui informasi dalam lift. Ternyata, Lantai Mezanine terletak di lantai 3 + ½ lantai berikutnya ditempuh dengan eskalator. Ya, pengetahuan barulah buat saya yang kebetulan bukan anak gaul mall, hehe. Alangkah lebih baiknya bila pihak mall memasang informasi tambahan bahwa Mezanine berada di Lantai 3 + ½ sehingga pengunjung seperti saya ini tidak kebingungan.
Dan..Cinemaxx, I am coming! Saya girang karena tak sabar menikmati suguhan Suicide Squad, film pilihan saya, dalam layar yang sedikit lebih lebar dari XXI, 3D, serta mengusung teknologi Dolby Atmos untuk sound system-nya. Harga yang ditawarkan pun sama dengan Cinemaxx Jakarta, yaitu Rp. 35.000 untuk 3D dan Rp. 30.000 untuk regular/2D pada hari Senin-Jumat sedangkan Sabtu-Minggu harganya ditambah Rp. 20.000 baik untuk 3D maupun reguler. Saya memilih Hari Selasa untuk menonton karena saya pikir pada hari kerja tidak akan seramai akhir pekan serta harganya pun lebih murah. Jadwalnya pun saya pilih yang paling awal, yaitu pukul 14.15 WIB. Namun, perkiraan saya ternyata salah. Tiga perempat kursi diisi oleh para siswa SMP-SMA. Dalam hati saya pun membatin, mungkin standar uang jajan mereka lima sampai sepuluh kali lipat lebih besar daripada zaman saya. Kalau tidak, bisa tekor deh, hehe.
Pukul 14.00 WIB saya sudah siap di depan Teater 1 untuk dipanggil masuk ke dalam bioskop. Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit tidak ada pengumuman. Ruang tunggu yang sangat minim, karena berbentuk lorong panjang dengan lebar hanya muat 1 kursi dan 1 orang lalu lalang di depan kursi tersebut, menjadi sangat sesak oleh penonton. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.17 WIB namun tidak ada tanda-tanda petugas bioskop. Barulah kira-kira pukul 14. 20 WIB, penonton dipersilakan masuk dengan antri satu jalur untuk mengambil kacamata 3D. Saya pun komplain kepada petugasnya tentang terlambatnya jadwal bioskop yang tidak profesional. Mas-mas-nya pun berdalih karena belum ada pengumuman dari petugas yang mengurusi film. Hmm.
Hal unik lainnya adalah ketika akan masuk teater, ada satu sekuriti yang bertugas menyita barang-barang seperti makanan dan minuman baik yang dibeli dari booth snack bioskop maupun dari luar. Ada satu troli penuh berisi popcorn kemasan besar, minuman dingin, botol minum, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau kita membeli popcorn masih hangat untuk dikonsumsi saat menonton film, eh ternyata di sita. Saya rasa, saat filmnya sudah selesai, keinginan untuk makan popcorn, yang sudah dingin, selesai juga. Sebagai konsumen, rugi donk! =D Lalu, sekuriti menambahkan bahwa kamera tidak boleh di bawa masuk ke dalam teater sambil memeriksa tas yang diminta untuk dibuka dengan senter. Saya yang saat itu ada agenda untuk hunting foto setelah selesai menonton, menjadi korbannya. Sang sekuriti bilang bahwa kameranya harus dititipkan. Saya tanya kenapa, ya karena khawatir saya merekam adegan film. Loh, ini kan 3D? Ya, sudah peraturan. Hmm. Aneh. Saat itu kebetulan saya tidak membawa tas kamera dan saya tidak mau menitipkan kamera dalam kondisi ‘telanjang’. Sekuriti bilang, ya sudah baterenya saja dititipkan. Saya tanya, apa jaminannya? Nanti diambil di sekuriti, begitu jawaban yang tidak menjawab. Tidak ada bukti tanda terima atau loker yang dapat saya gunakan agar saya nyaman dan merasa aman. Daripada saya telat menonton, maka saya serahkan juga batere saya sambil berkata kalau ada apa-apa dengan batere saya, sekuriti harus tanggung jawab. Lalu, 2 jam pun berjalan dengan manis menyaksikan Deadpool yang sentimentil, Flag yang good-looking-man, Diablo yang cool, dan June yang terlalu lugu untuk seorang arkeolog. Untung filmnya lumayan oke, kalau tidak ya jangan salahkan saya kalau tiba-tiba berubah jadi Enchantrees. Hihi.
Mood sudah baik, saya datangi sang sekuriti. Untuk alasan privacy, saya samarkan menjadi XYZ. Beliau memberikan batere saya sambil berkata silakan dicoba. Yes, pastinya. Memang, kondisinya sepertinya baik-baik saja, terlihat dari batere yang masih penuh dan tidak ada masalah saat saya coba ambil foto. Sekuriti pun bertanya bagaimana kondisinya. Saya jawab baik, namun ada beberapa saran untuk manajemen Cinemaxx Bogor, yaitu : 1). Memasang pengumuman di depan pintu masuk atau ada sekuriti yang berjaga untuk menginformasikan peraturan untuk tidak membawa makanan dan minuman ke dalam bioskop serta tidak boleh membawa kamera (walau masih rancu tentang definisi kamera) ; 2). Kalau kamera (misal : DSLR, mirrorless, pocket camera, dll) saja yang tidak boleh, kamera ponsel yang spesifikasinya lebih tinggi, kenapa boleh dibawa masuk ke dalam teater? ; 3). Mengapa aturan penitipan kamera berlaku juga untuk film 3D?  Hal ini membuat saya bingung karena menurut saya, hasil rekaman film 3D tidak dapat ditonton dengan nyaman tanpa kacamata 3D. Itu pun kalau saya ada niat merekam. Nyatanya kan tidak. Sang sekuriti mencoba membela diri. Wajar sih. Tapi, segera saya cegah karena akan berekor panjang dan itu bukan tujuan saya. Maka, saya tegaskan bahwa silakan menyampaikan keluhan pelanggan ini kepada atasannya untuk diteruskan kepada pihak manajemen. Tujuan saya adalah agar standar servis Cinemaxx Bogor sama dengan pusatnya, yang asumsi saya di Jakarta, karena selama saya menonton di Cinemaxx Jakarta, walau saya membawa kamera, minuman, serta popcorn dari booth snack Cinemaxx, namun tidak ada pengecekan tas apalagi penyitaan.
Berkaca dari pengalaman tersebut, saya kira inti dari pemasalahan tersebut sama dengan kasus Archandra dan Gloria, yaitu peraturan yang terlihat demikian kaku namun tidak didukung dengan konsistensi dalam implementasi. Seharusnya, walau cabang baru, Cinemaxx sudah menerapkan standar servis yang terbaik bagi para pelanggannya sehingga tidak ada lagi keterlambatan jadwal film atau kurang profesionalnya servis sekuriti dan petugas saat pelanggan menitipkan barang berharga semacam kamera. Mungkin, ke depannya, Cinemaxx bisa mengevaluasi peraturan yang berlaku agar lebih logis dan ramah pelanggan, seperti meminjamkan loker untuk menyimpan kamera, misalnya.

Minggu, 22 Mei 2016

Promo J.CO : 4 Jam Mengantri, 4 Menit Menghabiskan



                Bila menuruti pakem para blogger  yang mempublikasikan tulisan secepat mungkin, kalau bisa di hari yang sama dengan kejadiannya, maka saya adalah anomali diantara mereka. Bahwa tulisan ini ditayangkan, memiliki maksud untuk memenuhi kepuasan hati penulis sekaligus pelaku dalam lakon ini.
****
4 Lusin Donat Dengan Harga Kurang Dari 200 Ribu - Dok. Pribadi
                Promo donat merk internasional menyisakan banyak cerita, baik untuk pelakunya maupun untuk para pengunjung lain. Salah satunya adalah saya. Pada tanggal 15-18 Mei 2016, donat merk internasional sebut saja J.Co merayakan ulang tahunnya dengan memberikan diskon 50% untuk para konsumennya, yaitu orang-orang yang selalu tergoda dengan wangi donat J.Co tatkala melintas di depan gerainya namun seringkali mengurungkan niatnya dengan berbagai alasan, mungkin harganya yang terlampau mahal untuk donat yang kempes ketika digigit, atau memang tidak lapar saja. Demikian pula dengan saya. Saya termasuk orang yang menahan diri ketika melintas di depan gerai J.Co. Alasan pertama menjadi jawabannya. Kalau sesekali sih, gak masalah. Kalau sering-sering ya bangkrut juga. Nah, ketika J.Co mengumumkan harga promo donat J.Co dari 100K++ untuk 1 lusin, kini diskon menjadi 99K untuk 2 lusin. Saya pikir, layak di coba nih, apalagi hari diskonnya pun dipilih saat hari kerja sehingga saya membayangkan tidak terlalu panjang antriannya seperti akhir pekan. Dengan pertimbangan tersebut, saya pun bertolak ke gerai J.Co terdekat yaitu di Botani Square, Bogor.
                Suasana Botani Square saat itu, yaitu Rabu, 18 Mei 2016 terbilang lengang. Tak banyak orang lalu lalang keluar masuk mall. Namun, berbeda cerita saat saya berjalan ke arah gerai J.Co. Antrian pun sudah mulai mengular. Dengar-dengar, ada yang dari jam 7 pagi mengantri. Niat banget! Pikir saya. Saya pun memutuskan untuk ikut mengantri. Alasan pertama, pastinya ingin mencicipi donat promo. Alasan kedua, ingin tahu seberapa lama saya mengantri sehingga secara langsung dapat disimpulkan  cara kerja manajemen J.Co untuk memenuhi pangsa pasar yang membludak. Setengah jam, saya maju tiga langkah. Lumayan, pikir saya. Satu setengah jam, saya maju lima langkah. Hmm, saya pun membatin,  seperti ada yang kurang beres. Lalu, usut punya usut ternyata J.Co membuka dua antrian. Pertama, antrian dari jam 7 pagi. Kedua, antrian dari jam 9.30 pagi ketika mall baru buka. Antrian pertama diutamakan untuk dihabiskan terlebih dahulu, lalu barulah antrian kedua yang mengular ini mendapat giliran berikutnya. Saya pun membatin, kalau seperti ini, kapan beresnya? Saya sudah berdiri dua jam pula. Huwaaa..Apalagi, pada antrian pertama jumlah orangnya jadi makin banyak. Setelah diperhatikan, pihak J.Co tidak mengawasi antrian pertama yang, pastinya lebih pendek dari yang kedua, sehingga banyak orang baru yang ikut-ikutan mengantri biar lebih cepat. Saya bersama orang-orang yang mengantri pun mulai naik pitam.
                Tiga jam sudah saya mengantri. Memang, antriannya sudah maju, tapi mulai dari sinilah, antrian ini berhenti total. Saya pun penasaran dengan bagaimana pihak J.Co mengatur para calon konsumen sehingga tertib dan adil. Selain itu, saya pun penasaran dengan cara kerja waitress J.Co karena kalau saya perhatikan, satu konsumen dilayani sekitar 5-10 menit. Coba kalau kita iseng menghitung probabilitas waktu tunggu calon konsumen yang masih mengantri dengan menjumlahkan waktu tunggu calon konsumen yang menunggu donatnya dimasukkan ke dalam boks dan yang mengantri untuk membayar donatnya. Maka, sekian jam-lah yang dihabiskan percuma hanya untuk berdiri dan menelan ludah karena menonton para pejuang donat yang tertawa riang membawa minimal dua boks donat. Mau pulang, sayang karena tinggal dua meter lagi sampai di depan waitress J.Co. Akhirnya, bertahan menjadi satu-satunya jalan. Paling tidak agar perjuangan tiga jam terbayar walau hanya dengan dua lusin donat.
                Tiga jam tiga puluh menit sudah saya berdiri. Jujur, saya gemas dengan manajemen J.Co yang kurang sigap dalam melayani para calon konsumen dan tidak tegas dengan orang-orang –baru-yang-mengaku-datang jam-tujuh-padahal-jam-dua-belas-siang, mengantri di antrian pertama, dan dapat giliran lebih dahulu dibandingkan kami yang sudah mengantri lebih dari tiga jam. Sampai-sampai ada seorang bapak yang berteriak dan memarahi salah satu karyawan J.Co karena kesal. Mas-mas karyawan J.Co dengan santai menanggapi bahwa dia baru datang dan mendapati antrian sudah demikian panjang, jadi sabar ya Pak, harap maklum, ujarnya. Spontan, Sang Bapak tidak terima diperlakukan tidak adil seperti itu dan menyulut amarah dari orang-orang yang juga mengantri bersamanya. Saya pun angkat bicara untuk berpendapat dengan maksud untuk memberi masukan kepada pihak manajemen J.Co, yaitu agar lebih tegas dalam mengatur dan mengawasi antrian sehingga adil serta meminimalisasi tindakan kecurangan. Mas-mas J.Co menyatakan permohonan maafnya dan berjanji akan mencatat masukan tersebut. Tadinya saya sangsi kalau hal itu dilakukan hanya untuk memenuhi prosedur perusahaan semata, namun saya berusaha positive thinking, karena toh marah atau diam pun sama saja, tidak mengubah situasi apapun.
                Melihat fenomena promo J.Co ini, saya menganalogikan seperti sebuah kue yang dikerumuni semut-semut yang entah dari mana asalnya. Saya pun berefleksi, seharusnya, J.Co sudah bisa menduga bahwa dengan promo 50% akan mendatangkan konsumen sangat banyak sehingga J.Co pun memiliki strategi untuk mengaturnya. Pertanyaannya, apa saja strategi J.Co untuk memenuhi permintaan pasar yang demikian membludak? Berdasarkan pengamatan, saya menduga antrian mengular dengan waktu tunggu sangat panjang adalah imbas dari beberapa faktor :
a). Tidak adanya sistem antrian yang jelas dan tegas
                Iklan promo J.Co yang demikian viral melalui sosial media membuat kebanyakan orang penasaran dan memanfaatkan momen ini, kapan lagi dapat donat 2 lusin senilai 99 ribu saja? Hal ini pun membuat orang-orang berlomba-lomba untuk datang ke gerai J.Co sepagi mungkin dan menimbulkan antrian panjang. J.Co belum mengantisipasi hal ini dengan membuat sistem yang jelas dan tegas. Misalnya, memasang garis jalur antrian atau bila gerainya tergolong sempit, membuka beberapa antrian dan mengawasinya dengan tegas untuk mengurangi kecurangan. Hal lain yang logis dilakukan adalah dengan memberi nomor bagi siapa saja yang mengantri berurutan sesuai jam kedatangan. Jadi, orang yang datang lebih awal akan memegang nomor antrian pertama dan seterusnya hingga orang terakhir. Kemudian, pihak J.Co pun mengatur alur bergeraknya antrian hingga konsumen dilayani dan pulang dengan bahagia. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh pihak J.Co khususnya J.Co Botani Square, Bogor. 
Para Pejuang Donat 4 Jam - Dok. Pribadi
b). Kecepatan pelayanan tidak seimbang dengan jumlah antrian
                Saya perhatikan, J.Co Botani Square, Bogor tidak menambah jumlah waitress yang melayani konsumen sehingga ibarat bottle-neck, mandeg di satu sampai dua konsumen. Hal ini menyebabkan waktu tunggu yang lumayan lama bagi konsumen setelahnya. Imbasnya pun merambat seperti efek domino ke antrian yang mengular di belakang-belakangnya. Seyogyanya, J.Co menambah beberapa waitress selama promo  ini berlangsung sehingga mereduksi waktu tunggu yang terlalu panjang bagi konsumen lainnya. Masih ingin memberikan citra positif ke konsumennya, kan? 
Duh, Mbak, Kosong Banget Etalasenya? - Dok. Pribadi
c). Konsumen boleh pilih donat sesukanya, berapa pun jumlahnya
                Hal yang membuat saya kaget adalah konsumen boleh memilih donat yang disuka tanpa batasan! Karena promonya adalah pembelian 2 lusin donat senilai 99 ribu, maka bisa berlaku kelipatannya. Pada awalnya, konsumen tidak dibatasi mau membeli sebanyak apapun, namun di hari terakhir, J.Co membatasi pembelian maksimal 4 lusin per konsumen. Logikanya adalah apabila permintaan semakin banyak, maka persediaan pun minimal dapat memenuhinya. Namun, ketika saya lihat, etalase donat kosong dan sebagian besar donat masih dibakar dalam oven sehingga konsumen pun harus menunggu hingga donat matang. Bila donat yang baru matang tidak sesuai seleranya, maka dia harus menunggu lagi. Coba bayangkan, apabila setiap konsumen bebas memilih, berapa lama waktu tunggu antrian belakang-belakangnya? Alangkah lebih efektifnya, apabila J.Co telah memasukkan donat-donat tersebut ke dalam boks untuk langsung didistribusikan ke konsumen dan konsumen tidak diberikan opsi untuk memilih seperti biasanya. Saya yakin, proses pelayanannya pun jauh lebih efektif dan efisien dari sisi waktu dan tenaga. 
 
Ini Dia Penampakan Donat 4 Jam - Dok. Pribadi
                Menjadi peserta promo J.Co ini memang penuh perjuangan dan pengalaman. Kesabaran dan kejujuran di uji dalam setiap gerak dan waktu yang dihabiskan untuk mengantri. Saya yakin, pelajaran berharga ini tidak hanya bisa dirasakan oleh para konsumen-dadakan J.Co, tapi juga oleh pihak J.Co sendiri sehingga ke depannya tidak terulang kembali. Kalau saya ditanya, apakah saya ingin mencoba untuk kali kedua? Hmm, nope! Kecuali kalau J.Co sudah membenahi sistem yang implementasinya di luar kendali saya. Kalau kamu?

Minggu, 08 Mei 2016

Dewi Dee Lestari : 15 Tahun Perjalanan Mencari Jati Diri



Siang itu, panas Jakarta makin membara, layaknya percikan api yang disiram dengan bensin. Demikian pula suasana di kerumunan itu. Riuh dan penuh dengan para pecinta literatur dan seni, dengan harapan dapat menyapa sang pujaan, mendapatkan tanda tangan, hingga koneksi untuk masa depan. Lalu, saat sang idola muncul di depan mata, seketika sadar bahwa jurang penghalang tak lagi terbentang. Kita duduk berhadapan. Yang tadinya tak terbayang, kini jadi kenyataan. Akhirnya. – Taman Ismail Marzuki, 7 Mei 2016
***
Dee Lestari dalam acara In Conversation with Dee Lestari : 15 Years Journey, TIM, 7 Mei 2016- Dok. Devina


                Demikian. Itulah yang kira-kira dirasakan oleh pengagum karya Dewi Dee Lestari. Saya salah satunya, yang demikian menikmati setiap paragraf yang terangkai cantik dalam Supernova, Madre, Filosofi Kopi, Perahu Kertas, dan Recto Verso. Nah, dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival 2016 di Taman Ismail Marzuki, penggemar Dewi Dee Lestari disuguhkan menu bincang-bincang dengan tajuk In Conversation with Dee Lestari : The 15 Year Journey dengan moderator Nathalie Indry. Perbincangan ini dibuka dengan pertanyaan : apa arti 15 tahun bagi Dee Lestari?  
                Bagi Dee, 15 tahun adalah sebuah proses untuk menempa diri sebagai seorang manusia. Menulis adalah medium yang secara konsisten dilakukan oleh Dee. Dalam kurun waktu itu, 5 karya Supernova lahir. Dari mulai prekuel : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh ; lalu disusul dengan Akar, Petir, Partikel, Gelombang, dan terakhir Intelegensi Embun Pagi. Di sela-sela itu, lahir pula novel lainnya seperti Perahu Kertas, Madre, Filosofi Kopi, dan Rectoverso. Dee pun ingat saat-saat pertama kali Supernova hadir dalam hidupnya. Berawal dari kegemarananya dalam membaca buku sains, roman, sastra, komik, dan berbagai genre bacaan, membuat Dee senang berimajinasi tentang berbagai karakter yang hadir dalam benaknya. Selain itu, menurut Dee, ada suatu sensasi penasaran yang muncul ketika ia membaca berbagai serial dan cerita bersambung di majalah atau buku fiksi. Ditambah juga dengan kegelisahan tentang hidup dan semesta yang membuka gerbang pikirannya untuk bertanya, mencoba mencari tahu jawabannya, muncul pertanyaan lanjutan, dan seterusnya. Hal tersebut pun menjadi cikal bakal Dee untuk berpikir luas dan lebar serta menyalurkannya melalui karya berbentuk tulisan. Dengan seabreg karya yang sudah dihasilkan, Dee yang sebelumnya tidak berpikir untuk menjadi seorang penulis pun menyadari akan minat dan medium untuk penyalurannya. Oleh karena itu, Dee membayangkan apabila suatu saat nanti ia bisa membaca buku yang ditulis sendiri dari karakter yang ia ciptakan dalam ruang imajinasinya, maka itu dapat menjadi hadiah terindah dalam hidupnya. Hadiah itu akan ia berikan pada diri sendiri pada saat ia berulang tahun ke-25 karena Dee melihat temannya mendaki Gunung Kilimanjaro sebagai hadiah bagi dirinya saat itu. Memang agak kompetitif sih, tapi ternyata motivasi itulah yang membuat Dee menargetkan dirinya untuk menyelesaikan serial Supernova yang pertama, yaitu Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Alasan itu juga yang menjadikan KPBJ diterbitkan secara mandiri atau self-publishing.
                Dalam proses menulis, apalagi selama 15 tahun berproses, Dee memegang prinsip dasar yaitu menulislah dari hal yang disukai sehingga apabila di tengah prosesnya mengalami kendala, kecintaan terhadap tujuannyalah yang akan membantu membakar semangat kembali. Hal ini membuat Dee tetap setia pada ide yang diusung dalam berbagai karyanya walau pada awalnya ia pun bertanya-tanya apakah buku yang ia tulis dan publikasikan dapat diterima pembaca dan membentuk pasarnya sendiri? Jawabannya pun ia dapatkan ketika bukunya sudah dipublikasikan secara nasional dan mendapat beragam kritikan. Ada yang memuji, banyak pula yang mengoreksi. Banyak yang menjadikan karyanya sebagai referensi, ada pula yang mencaci karena dianggap sok-sok-an dikategorikan sebagai karya sastra. Padahal, waktu itu belum ada buku fiksi ilmiah yang juga mengandung unsur puisi didalamnya sehingga seringkali toko buku salah menempatkan KPBJ di deretan kategori Ilmu Alam atau Psikologi. Pada awalnya Dee kaget karena tidak menyangka respon publik sedemikian dahsyatnya. Namun, ada hal yang mencengangkan dan menjadi titik balik Dee dari kejadian tersebut. Ternyata, setelah Dee menghitung jumlah kritik dan pujian, ternyata hasilnya fifty-fifty atau seimbang. Dee pun merenung. Pada dasarnya, keseimbanganlah yang dicari dalam hidup dan itu terjadi dalam karyanya. Dari titik itu, Dee mengobservasi dan berefleksi, bahwa dari segala sudut pandang yang mengomentari karyanya, ia menyadari tidak semua pendapat orang harus ia dengar dan pikirkan. Ada pendapat yang objektif, hal ini bisa diambil pembelajarannya, namun tak sedikit juga yang subjektif. Dee pun sadar bahwa ia tidak bisa membahagiakan semua orang melalui karyanya sehingga jalan bijak yang bisa Dee ambil adalah memperbaiki setiap karya yang ia ciptakan dan publikasikan. Dee menyebutnya sebagai momen break-through atau terobosan.
                Dee menjelaskan pandangannya tentang definisi seorang penulis. Menurutnya, seseorang belum dikatakan sebagai penulis apabila ia belum merasakan kesulitan dalam mencurahkan ide dan waktunya untuk membuat sebuah karya. Jadi, kesulitan adalah bagian yang harus dialami dalam proses menulis. Maka dari itu, setiap penulis perlu waktu rehat sejenak dari rutinitas. Idealnya, waktu bekerja itu sama dengan waktu istirahat sehingga pikiran kita bisa lebih jernih dan menemukan kembali ritmenya. Hal ini dilakukan Dee ketika selama 15 tahun mengalami berbagai fase kehidupan. Di mulai saat masih single sehingga dapat menulis kapan pun. Lalu, beranjak ke fase berikutnya yaitu menikah, hamil, dan melahirkan sehingga otomatis mengubah ritme waktu menulisnya. Kala itu, dapat dikatakan menjadi salah satu titik tersulit dalam hidupnya karena ia harus beradaptasi dengan semua perubahan. Perencanaan dan target waktu menjadi mercusuar untuk memacu dirinya menyelesaikan Supernova dan karya-karya lainnya.
                Kemudian, apakah Dee akan berhenti setelah Intelegensi Embun Pagi (IEP)? Sambil tersenyum penuh arti, Dee menjawab bahwa baginya tanda tanya yang sengaja diselipkan di akhir halaman IEP merupakan awal mula untuk melanjutkan kisah berikutnya. Tunas kisah tersebut masih satu nafas dengan Supernova yaitu tentang pencarian jati diri dan pertanyaan lainnya seputar kehidupan serta semesta. Hal ini pun dikuatkan dengan pernyataan dari Dee bahwa pada dasarnya Dee selalu mendambakan sebuah karya dengan akhir tanda tanya karena setiap jawaban bersifat temporer sehingga akan ada pertanyaan baru dari setiap jawaban yang diberikan.
                Selama 1,5 jam berbincang bersama Dee, saya banyak belajar tentang seluruh proses panjang perjalanan menuju puncak kesuksesan Supernova dan karya lainnya. Tentunya dengan berbagai tantangan yang silih berganti. Tekad kuat dan kesetiaan pada tujuan merupakan lampu-lampu yang menuntun Dee hingga sekarang ini. Ketika acara ini sedang digelar pun ternyata di luar sana sedang ada demonstrasi dari Aliansi Masyarakat dan Mahasiswa Islam yang menuntut dibubarkannya ASEAN Literary Festival 2016 karena diduga ada unsur komunisme dan separatisme Papua yang dimasukkan ke dalam rangkaian acara ini. Mungkin mereka kurang piknik. Belum juga jadi peserta, sudah main tuduh duluan. Mungkin, kalau mereka hadir sebagai peserta bersama saya, pikirannya bisa lebih terbuka sehingga tahu bagaimana cara untuk mencari jati diri selain dengan demonstrasi.