Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Tubuh Perempuan Sebagai Bendera

**Artikel ini saya tulis ulang dari Harian Kompas Minggu, 28 Agustus 2016, dalam kolom UDAR RASA

***



                Orang Perancis “lucu’ meski situasinya sama sekali tidak lucu. Yang lucu/tidak lucu itu adalah pengumuman larangan baju renang burkini, yaitu baju senam “islamiah”, setengah burkah, setengah bikini, oleh sejumlah wali kota daerah Riviera, di Perancis Selatan.
                Alasannya menarik : karena tidak sesuai dengan asas sekularisme ala Perancis (laicite), yaitu kenetralan mutlak terhadap agama yang dianut oleh negara Perancis. Jadi, kenetralan agama, serta perilaku sosial “yang wajar” menuntut bahwa perempuan memperlihatkan pahanya!! Seru, kan? Saya pribadi bisa memahami mengapa calon Arjuna setempat merasa frustasi, tidak merasa frustasi, tidak boleh menikmati pemandangan paha perempuan gara-gara, konon, ditabukan memajang paha tersebut oleh tafsir agama yang lagi ngetren. Saya juga bisa memaklumi balikannya, yaitu hasrat para lelaki yang konon “soleh” untuk mempunyai monopoli absolut atas paha perempuannya, baik secara visual maupun keinginan selanjutnya. Ya, saya bisa memahami itu semua, karena mau tidak mau “seksisme” terus menghinggapi diri saya sebagai lelaki. Ehehe.. wow. Namun, alasan bahwa seorang prempuan bisa disuruh membuka burkininya untuk diganti bikini agar sesuai dengan asas kenetralan negara di dalam bidang agama, membuat saya bengong beneran.
                Namun, teman-teman, bukan hanya di Perancis yang “lupa daratan” dalam hal ini. Indonesia tidak kurang menarik. Sekitar dua minggu lalu seorang perempuan Indonesia, yang konon “sopan” karena berjilbab, telah membuat onar karena memasarkan bihun bermerek Bikini dengan tagline “remas aku”. Begitu hal ini diketahui, ramainya bukan kepalang! Dituduh “meresahkan masyarakat”, “berbau pornografi”. “tak beretika”, “tak sesuai dengan nilai-nilai bangsa”, dan lain-lainnya. Ujung-ujungnya, seperti di dalam hal burkini di Perancis di atas, polisi ikut unjuk muka, konon untuk menegakkan kembali norma-norma yang berlaku umum di masyarakat. Seolah-olah bikini memang tidak pantas sebagai baju renang, dan sepertinya istilah “remas aku” –betapa pun vulgarnya- merupakan pelanggaran yang sesungguhnya. Peristiiwa “mi remas” ini pun membuat saya bengong.
                Bila ditilik lebih lanjut, makna dari kedua peristiwa di atas lebih dari sekadar “pelanggaran terhadap nilai-nilai bangsa” : Sejarah menafikan absolutisme dari kedua ragam norma itu. Di Eropa, sebelum Perang Dunia Kedua (1939-1945) semua perempuan memakai baju renang berlengan panjang yang mirip burkini –yang kini ditolak sejumlah walikota Perancis. Adapun di Indonesia, yang perempuannya konon “sopan”, bikini sejak dulu tidak dikenal, dan tidak perlu dikenal, oleh karena pada umumnya kaum perempuannya mandi di sungai setengah telanjang. Di dalam sejarah, apa pun pendapat para juru “moral”, konsep kesopanan memang senantiasa berubah-ubah.
                Yang kini terjadi ialah bahwa tubuh perempuannya telah menjadi ajang, bahkan dikerek bak bendera, dari pertarungan antar budaya. Terutama antara dunia Islam dan dunia Barat. Fenomena ini adalah efek langsung dari globalisasi, yang meluluh-lantakkan semua tatanan lama. Di Eropa, gelombang imigrasi besar-besaran pekerja Magribi, Turki, dan Pakistan berlangsung sepanjang tahun 60-an dan 70-an, sehingga mengubah secara signifikan komposisi etnis masyarakat. Tahu-tahu, bukanlah partai-partai sosialis yang dijadikan sarana perlawanan anti sistem kapitalisnya, melainkan agama. Atas nama demokrasi, dan didukung uang minyak kaum Wahabi, muncullah aneka perjuangan untuk memberikan status sah pada versi hiper-konservatif dari  Islam, dengan pemisahan sosiologis yang terkait. Apa bendera utamanya? Perempuan Islam dengan seragam konsevatif khasnya. Fenomena itu menimbulkan reaksi “anti Islam” atau ultra kanan dari masyarakat setempat, yang merasa kesetaraan jendernya terancam.
                Sebaliknya di Indonesia, dipersepsikan sebagai faktor penyerang adalah “Barat”, yang pengaruhnya merasuki semua pori dari sistem ekonomi dan media. Pengaruh itu tidak terelakkan, tetapi juga dilawan –juga didukung oleh uang kaum Wahabi. Akibatnya (antara lain)? “Perpecahan” bukan antara kelompok religius-etnis seperti di Eropa, tetapi di dalam diri perempuan Islam itu sendiri, melalui penampilannya: Dia diharapkan “soleh”, maka semakin sering berjilbab, tetapi diharapkan juga trendy dan memperlihatkan “kuasa” atas tubuhnya sendiri, maka tak segan bercelana ketat. Skizofrenia benar : tubuhnya dijadikan medan pertarungan antara “arabisasi” di kepala dan “westernisasi” di panggul. Menarik bukan?
                Ini semua bagi saya absurd, karena saya sebagai lelaki, tidak pernah merasa bulu dada saya dicap menjadi bendera budaya apa pun. Gombal!

(Penulis : Jean Couteau)

Jumat, 06 Mei 2016

AADC 2 dan Kita yang Pernah Remaja



         Masih ingat ketika pertama kali menonton film remaja bersama teman se-geng sepulang sekolah? Lalu, kita merasa seolah-olah pernah mengalami cerita yang serupa dengan pemeran yang ada di film tersebut? Kalau dua pertanyaan tersebut jawabannya, ya, maka selamat bernostalgia, wahai para remaja awal tahun 2000. Salah satu yang mengalaminya adalah saya sendiri. Saya masih ingat momen-momen mengantri di bioskop saat premier film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) bersama teman satu geng di sekolah. Rasanya bagai menjadi anak gaul di kalangan ABG (Anak Baru Gede) kala itu. Kemudian, puisi AKU karya Chairil Anwar menjadi topik populer yang diperbincangkan di kalangan remaja. Bahkan, banyak yang sampai hafal seluruh baitnya hingga dijadikan bahan untuk musikalisasi puisi. Ekstrakurikuler majalah dinding (mading) dan basket yang sudah banyak peminatnya dari dahulu, kini menjadi tambah bergengsi. Baju pas di badan, rok pendek di atas lutut, kaus kaki panjang sampai pangkal betis, dan sepatu pantofel menjadi gaya busana paling nge-hits saat itu. Pokoknya, gak gaul deh kalau tampilannya gak seperti geng AADC, gak ikutan ekstrakurikuler mading, suka puisi, dan punya pacar pemain basket. Masa-masa remaja yang terindah tak bisa terulang, kalau kata Melly Goeslaw. 

AADC 1 : Persahabatan dan Kisah Cinta yang Belum Usai
Saat itu, tahun 2000-an, tidak banyak beredar film Indonesia yang berkualitas dari segi cerita. Kebanyakan film Indonesia, ber-genre horor atau drama ala sinetron. Pada saat Mira Lesmana mulai menggarap film remaja bertema cinta dan persahabatan, masyarakat pun seakan mendapatkan jawaban atas kehausan akan film Indonesia yang berkualitas. Dimulai dari Petualangan Sherina yang menyasar penonton anak-anak hingga remaja awal, lalu dilanjutkan dengan AADC yang sukses mencuri perhatian para remaja hingga dewasa. Bahkan, AADC menjadi kiblat pergaulan saat itu. Saya ingat, teman-teman saya (dan mungkin saya juga) menjadi puitis dan banyak kisah cinta yang dimulai dari puisi. Kenangan yang membuat saya terkikik saat mengingatnya. Dari AADC-lah, geliat perfilman Indonesia kian berkibar. Para penonton pun kerap kali memadati antrian film Indonesia. Sebut saja Eiffle I’m In Love, Dealova, Me vs The World, dan lain-lain.
Kalau kita ingat kembali film AADC 1, Cinta bersama gengnya dengan konflik didalamnya serta kisah cinta beda kutub, cewek gaul ibukota dengan cowok pendiam yang suka sastra, menghadirkan alur cerita yang natural khas remaja SMA. Gaya populernya Cinta, ceriwisnya Maura, tomboynya Karmen, apa adanya Milly, hingga dewasanya Alya tergambar demikian menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari, pada saat itu. Sejujurnya, saat menonton AADC 1, emosi saya dibawa ke dalam setiap alur ceritanya. Saya yakin, kita semua ketika remaja pernah mengalami perasaan berbunga-bunga seperti yang dialami Cinta saat kasmaran bersama Rangga dan berusaha menghindar dari teman-temannya. Walau tidak paralel seperti cerita AADC, yaitu adanya situasi yang menjadi pelik karena Alya mengalami depresi akibat percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Cinta yang sebelumnya ditelepon oleh Alya untuk menemani Alya pun merasa bersalah. Akibat keputusannya untuk berkencan dengan Rangga, dia jadi mengesampingkan sahabat yang saat itu membutuhkannya. Akhirnya, Cinta marah pada diri sendiri dan melampiaskannya kepada Rangga yang tidak tahu duduk persoalan. Saat itu, Rangga marah dan berjanji tidak akan menemui Cinta. Ia yang memang akan pindah ke New York pun mengurungkan niat untuk berpisah dengan Cinta secara langsung. Ia menuliskan perpisahan dan kejujuran akan perasaannya dalam sebuah puisi. Waktu pun semakin mendekati keberangkatan ke New York. Rangga menjadi gundah gulana. Cinta yang akhirnya menyadari bahwa gengsi tidak akan menyelesaikan masalah, berusaha menyusul Rangga ke bandara. Adegan kejar-mengajar antara waktu dan kesempatan pun dimulai. Beruntung, Cinta sempat bertemu Rangga sebelum pesawat boarding dan mengungkapkan kejujuran akan perasaan cintanya kepada Rangga. Dan, akhir AADC 1 diwarnai dengan tangis bahagia walau diasumsikan kisah cinta Rangga dan Cinta akan berlanjut pada hubungan jarak jauh.
Apakah kisah cinta mereka akan bertahan atau hanya dianggap sebagai cinta monyet yang kandas seiring bertambah dewasanya mereka? Itulah hal menarik dari AADC 1. Kita didorong untuk menjawab sendiri sesuai imajinasi masing-masing.

AADC 2: Saat Cinta dan Persahabatan Kian Mendewasakan
                Pertanyaan akan kelanjutan kisah cinta Rangga dan Cinta terjawab di sekuel AADC 2. Walau sebenarnya AADC 2 ini tidak direncanakan dibuat pada saat produksi AADC 1, namun untuk memenuhi permintaan penikmat kenangan, seperti saya dan kita mungkin, maka kisah geng cinta pun dilanjutkan. Terbukti, penayangan perdana AADC 2 yang menyedot perhatian lebih dari 200.000 penonton. Bahkan, antrian penonton AADC di salah satu bioskop di Bogor, dari hari pertama hingga keempat masih panjang. Sampai-sampai XXI menambah 1 studio tambahan sehingga total studio yang menayangkan AADC bejumlah 3 studio. WOW! Seingat saya tidak ada film Indonesia yang menembus rekor seperti ini.
                Saya sebagai ABG tahun 2000-an pun merasa terpanggil untuk menikmati kenangan AADC. Pada adegan-adegan awal, saya merasa cukup terkejut dengan pembukaannya. 14 tahun berpisah pasti memberikan perbedaan yang signifikan. Demikian dengan para karakter geng Cinta di AADC 2 yang diceritakan sudah mapan dalam kehidupan pribadi masing-masing. Cinta yang sudah dilamar oleh Trian dan akan menikah, Maura yang sudah punya empat anak, Milly dan Mamet yang menjadi pasutri, Karmen yang baru keluar panti rehabilitasi, dan Alya yang ternyata diceritakan meninggal karena kecelakaan. Saya cukup kaget dengan tidak adanya Alya dalam geng Cinta ini, karena  di AADC 1, tokoh Alya-lah yang memberikan kekuatan pada cerita, salah satunya saat Alya mencoba bunuh diri dan Cinta malah berkencan dengan Rangga. Saya pun berspekulasi, untuk membentuk alur cerita yang cantik pada AADC 2, maka setidaknya ada dua hal yang mungkin akan menjadi akhir cerita ini. Pertama, Cinta jadi menikah dengan Trian walau Cinta masih ada sedikit perasaan dengan Rangga (mungkin akan mirip lagunya MLTR : 20 Minutes) atau kedua, Cinta tidak jadi menikah dengan Trian dan memilih Rangga kembali. Mari kita lihat, mana yang benar.
                Alur cerita pun berjalan maju. Mengambil latar liburan ke Yogyakarta karena sudah lama tidak berkumpul satu geng lengkap, mereka pun menyusun rencana dengan matang. Di sisi lain, Rangga didatangi oleh adik tirinya ke kafe tempat ia bekerja untuk meminta Rangga agar menemui ibunya yang tinggal di Yogyakarta. Di sinilah kebetulan itu akan terjadi. Kebetulan yang menurut saya jadi menimbulkan pertanyaan. Apa alasan kuat Rangga akhirnya mau menemui ibunya setelah 25 tahun tidak bertemu? Apakah dengan adik tirinya menemui Rangga, maka Rangga menjadi luluh hatinya untuk menemui ibunya? Tanpa ada penjelasan bahwa ada kejadian darurat, misalnya sakit keras dan diprediksi usianya tidak lama lagi, sehingga Rangga harus menemui ibunya secepatnya. Hal ini ganjil menurut saya. Kemudian, ketika di Yogyakarta, Karmen dan Milly tidak sengaja melihat Rangga ada di Yogyakarta juga. Hal ini membuat Karmen ingin menemui Rangga untuk mendorong Rangga menjelaskan hal-hal yang masih menggantung terhadap hubungannya dengan Cinta. Diceritakan juga, sebelumnya Cinta mendapatkan surat dari Rangga yang menjelaskan bahwa Rangga ingin mereka berpisah karena ia sadar tidak bisa membahagiakan Cinta. Setelah melalui perdebatan dan diskusi di dalam geng, akhirnya Cinta mau juga bertemu dengan Rangga.
Pertemuan di awali dengan penjelasan tentang sudut pandang Cinta tentang surat dari Rangga. Percakapan yang paling diingat oleh sebagian besar penonton adalah ketika Cinta mengucapkan : Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu, JAHAT! Nah, mulai dari sinilah, mereka saling menjelaskan duduk persoalan hubungan mereka. Hal yang konsisten terlihat dari AADC 1 dan 2 adalah masih adanya gengsi antara Cinta dan Rangga untuk saling terbuka satu sama lain. Kalau saya perhatikan sih, ada yang disembunyikan dalam hubungan pacaran mereka. Betul bahwa mereka saling mengungkapkan sayang dengan tindakan dan ucapan. Namun, hal mendasar seperti definisi kasih sayang dan bahagia sebagai pasangan belum terasa dalam hubungan mereka. Masih ada asumsi di antara mereka. Hal ini tergambar dari percakapan antara Rangga dan Cinta tentang pesan dari ayahnya Cinta, saat Cinta sekeluarga liburan ke New York, bahwa kalau sudah lulus kuliah, cepat pulang ke Jakarta, dan cari kerja di Jakarta agar Cinta tidak kelamaan menunggu. Nah, secara logika, kalau memang Rangga benar-benar serius dengan Cinta, maka seharusnya, Rangga termotivasi untuk menyelesaikan kuliahnya, membuktikan kemandiriannya secara materi, dan memberikan kepastian cintanya kepada Cinta. Hal ini tidak dilakukan oleh Rangga karena Rangga kemudian menjelaskan bahwa kuliahnya malah berantakan dan ia memutuskan untuk main aman : berpisah dengan Cinta karena ia merasa tidak akan bisa membahagiakannya. Rangga pun masih berasumsi bahwa Cinta ingin lelaki yang kaya secara materi, bukan seperti dirinya yang hanya jago bikin puisi. Well, hal itulah yang luput dari kejujuran Rangga kepada Cinta. 14 tahun pacaran, koq belum jujur ya satu sama lain? Agak ganjil kalau menurut saya. Kalau saja Rangga jujur dari awal, tidak berasumsi, dan tidak menilai Cinta hanya dari gaya hidupnya, mungkin alur ceritanya bisa lebih kaya dan dalam serta lebih filosofis, menyambungkannya dengan puisi Rangga yang puitis sehingga karakter Rangga tergambar dalam sosok lelaki mandiri, pantang menyerah, berpendirian kuat, serta puitis.
                Setting tempat yang digunakan dalam film AADC 2 ini adalah di Jakarta, Yogyakarta, dan New York, namun kebanyakan adegan dilakukan di Yogyakarta. Banyak tempat yang disinggahi oleh Rangga dan Cinta dalam rangka menjelaskan kelanjutan hubungan sekaligus mengekspresikan perasaan mereka menjadi Cinta-Lama-Bersemi-Kembali. Dalam satu hari satu malam, kira-kira mereka datang ke beberapa tempat wisata dan kuliner di Yogyakarta. Sebut saja Sellie Coffee yang sekarang terkenal dengan Kafe Rangga Jahat, Klinik Kopi, Sate Klathak, Padepokan Pak Bagong Kussudiarja, Papermoon Puppet Theatre, Kota Gedhe, Candi Ratu Boko, Rumah Doa Bukit Rhema, dan Punthuk Setumbu. Tempat-tempat itulah yang justru menghibur dan menjadi referensi liburan kekinian para penonton karena dijadikan lokasi syuting AADC 2. Namun, ada hal yang menurut saya agak ganjil, yaitu mengapa dandanan Cinta tidak luntur walau hampir 24 jam jalan-jalan di alam terbuka dan Cinta tidak terlihat berkeringat? Saya berasumsi, mungkin ini adalah trik dagang sponsor make-up yang digunakan Cinta dengan pesan bahwa apabila kita menggunakan make-up merk tersebut, maka dandanan akan tahan 24 jam. Well, bisa jadi, tapi sebagai orang lapangan yang juga menggunakan produk sponsor tersebut, agak aneh saja sih, karena justru make-up saya hanya tahan kira-kira 4-6 jam di luar rumah.
                Walau ada beberapa hal yang agak ganjil dalam alur film AADC 2 ini, namun saya sungguh menikmatinya. Saya menyebut AADC 2 ini sebagai proyek kenangan karena telah sukses membuat saya baper dengan kehidupan masa remaja, puisinya Rangga yang tak kalah puitis, serta keceriaan khas karakter dan kedewasaan berpikir geng Cinta walau tidak ada Alya didalamnya. Mungkin itu menjadi kompensasi dalam alur cerita karena harus menghilangkan satu karakter. Saya juga sangat terhibur dengan kekocakan Milly yang natural dan membumbui hampir tiap adegan. Lalu, dinginnya sosok Rangga yang tanpa ekspresi walau demikian emosionalnya adegan tersebut, membuat saya bergidik sendiri kalau membayangkan jadi Cinta, hehe. Tempat-tempat yang digunakan dalam tiap adegan AADC 2 pun tak kalah menghibur seraya membayangkan akan jadi top-list-bucket para wisatawan saat liburan ke Yogyakarta. Dua percakapan favorit saya di AADC 2 : Pertama, yaitu pertanyaan Karmen ke Cinta : Ta, sebenernya, cinta elu tuh bener-bener buat Trian, gak sih? Pertanyaan ini, menurut saya, mendorong perang batin dalam diri Cinta. Walau dia sebentar lagi akan menikah dengan Trian, tapi apakah benar dia memang cinta kepada Trian? Atau Trian adalah pelampiasan semata? Mungkin hal ini juga pernah terjadi dalam kehidupan kita semua, walau akhirnya bisa jadi beragam. Kedua, tentang perbedaan antara liburan dan travelling menurut Rangga. Kalau liburan, kita pasti membuat rencana yang matang, mau kemana dan sampai kapan. Kalau travelling itu lebih spontan dan penuh dengan resiko, karena hal yang justru kita nikmati adalah prosesnya, bukan hasilnya. The journey, not destination, kalau kata Cinta.
                Well, terima kasih buat Miles Production yang sudah menelurkan karya fenomenal kembali. AADC 2 ini bagai lorong waktu yang mengantar saya ke dalam memori lama ketika masih remaja, ketika masih mencari identitas diri melalui berbagai hal dari yang biasa hingga ajaib. Selamat terombang-ambing dalam kenangan, selamat mencumbui perasaan.

Selasa, 21 Juli 2015

Pengakuan Eks Parasit Lajang : Membumikan Kesetiaan

“Aku tidak akan setia pada lelaki, aku akan setia pada manusia” – A, 2013
          Suatu kali, saya berkesempatan untuk membaca dan menyelami sebuah novel karya Ayu Utami. Saya mengaku kagum hingga nge-fans oleh pemikiran seorang Ayu Utami. Rasanya, ingin sekali saya berkelindan hingga menikmati ruap hangat yang tercipta, kemudian mengawetkannya ke dalam botol layaknya Sandy Yudha yang menyimpan stoples jari kelingking si Fulan yang putus ketika memanjat tebing bersama. Novel yang saya maksud adalah sambungan dari novel berjudul Si Parasit Lajang, yaitu Pengakuan Eks Parasit Lajang. Judulnya kontroversial? Ah, saya rasa tidak. Sebelum menyebut sesuatu sebagai istilah, maka perlu didefinisikan terlebih dahulu istilah tersebut. Siapa tahu, berbeda sudut pandang sehingga akan berbeda jalan menuju ujung pangkal. Beberapa prinsip khususnya dalam hal spiritual diulas dalam sudut pandang kritis sehingga menghasilkan kesimpulan yang menurut saya logis. Memang, karena Ayu Utami adalah seorang Katolik, dahulunya, maka banyak sekali pembahasan mengenai Alkitab baik perjanjian lama maupun perjanjian baru yang ditulis sehingga saya perlu lebih dari sekali untuk memahaminya. Namun, justru menguatkan alur logisme yang dihasilkan.
          Dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang, pembaca diberikan kesempatan untuk mengingat kembali novel sebelumnya yaitu Si Parasit Lajang dan Cerita Cinta Enrico. Tak berbeda dengan sebelumnya, Ayu Utami membagi menjadi 3 bab yaitu seorang gadis yang melepas keperawannya dan menjadi peselingkuh, bocah yang kehilangan imannya, dan seorang wanita di jalan pulang. Kali ini, cerita dimulai dari kehidupan masa kecil di Kota Hujan dengan segala cerita dan intrik. A dibesarkan dalam lingkungan Katolik yang taat. Ibunya pun banyak mengajarkan kelembutan sekaligus kejelasan padanya seperti quote berikut : “jika kamu takut sesuatu, sesuatu itu harus diperjelas, sesuatu itu harus dihadapi”. Kata-kata tersebut menjadi kekuatannya ketika menghadapi hal-hal mistis yang ia alami dan imajinasikan seperti ketakutan akan hantu jerangkong. Ketika A beranjak remaja dan dewasa, berbagai pertanyaan kritis mulai muncul dalam dirinya, seperti ketika ia berpacaran dengan berbagai jenis lelaki hingga mengalami keanehan dalam cara berpikir lelaki tersebut saat dihadapkan pada kenyataan bahwa A berselingkuh dengan lelaki lain. Sebutlah ia Nik yang menjadi kekasih terlamanya hingga A menemukan Rik sebagai kekasih terakhirnya dalam belantara pengembaraan asmara (ah, rasanya seperti judul sinetron saat saya SD sejenis noktah merah perkawinan, :D ). Nik ingin bertanggung jawab terhadap apa yang sudah ia lakukan bersama A yaitu dengan menikahinya dan menjadikan A sebagai istri solehah yang artinya A harus pindah agama. Di titik ini, pendapat Nik pun didebat bahwa terjadi pelekatan nilai terhadap sebuah hubungan yang diteruskan dengan adanya praktik patriarki yang dibalut dalam sistem perkawinan. Pelekatan nilai tersebut maksudnya adalah status atau nilai yang ditempelkan pada seseorang atau sesuatu sehingga dapat diukur, dirangking, hingga dapat ditukar atau dijualbelikan. Sebagai contoh, adanya nilai sukses dan tidak sukses dalam diri seseorang, kaya atau miskin, muda atau tua, pintar atau bodoh, perawan atau sudah pernah bersetubuh, dan kuantifikasi lainnya. Hal ini pun secara tidak sadar melembaga sehingga berlaku dalam suatu hubungan antara lelaki dan wanita. Dalam hal ini, seringkali wanita menjadi korban. Lelaki tidak mau menerima wanita yang sudah tidak perawan, karena dianggap tabu, selaput daranya sudah robek (padahal tahu apa lelaki terhadap selaput itu). Sedangkan lelaki, dia bisa saja sudah tidak perjaka tapi karena sulit melacaknya (perlu kejujuran hakiki), maka lelaki pun lolos begitu saja. Di sinilah letak ketidakadilan yang diusung oleh novel ini.
          Pada hakikatnya, lelaki dan wanita itu sama saja, setara, sejajar. Itulah keadilan. Jadi, dalam sebuah hubungan antara lelaki dan wanita, perlu adanya relasi kesetaraan, bukan relasi penguasaan bahwa lelaki berkuasa atas wanita tersebut namun adanya kesepakatan antara lelaki dan wanita untuk memposisikan diri setara, tidak ada yang lebih ditinggikan atau direndahkan. Lelaki memandang wanita sebagai subjek, bukan objek, sehingga saling menghargai lahiriah dan batiniah diperlukan pada tahap ini. Intinya adalah hubungan yang memanusiakan. A menganalisa kejadian demi kejadian yang ia alami selama hidupnya yang direfleksikan melalui sistem internal diri A. Analogi permainan komputasi yang diawali dengan pertanyaan : dimana batas antara lelaki dan manusia untuk menghasilkan kesetaraan? Petualangan pencarian jawaban pun dimulai. Ternyata setelah disimpulkan, terdapat proses yang terdapat dalam kehidupan manusia. Pada candi Buddha/Hindu, proses tersebut disebut sebagai ‘datu’ yaitu kamadatu/bhurloka (alam nafsu), rupadatu/bhuwarloka (alam yang merdeka dimana manusia sudah dapat mengontrol nafsunya dan tidak mendekati alam nafsu lagi), dan arupadatu/swarloka (alam surga yang suci). 3 proses manusia tersebut adalah pertama pengambilan bentuk. Di sini, manusia dibedakan menjadi lelaki dan wanita menurut kelaminnya dan proses reproduksi yang terjadi. Dengan kata lain, dunia biologis-seksual. Apabila lelaki atau wanita disakiti biologis-seksualnya, maka sama saja menyakiti manusia. Selain itu, adanya karakteristik biologis-psikologis yang menyangkut perasaan baik lelaki maupun wanita terhadap sesuatu. Apabila perasaan lelaki atau wanita disakiti, maka sama halnya dengan manyakiti manusia itu sendiri. Maka, proses pertama ini berkaitan erat dengan manusia dan tidak bisa terpisahkan hanya dengan jenis kelamin. Proses kedua, yaitu pelekatan nilai yaitu dengan dibangunnya nilai-nilai baru terhadap bentuk luar yang bisa saja tidak berkaitan dengan proses asali serta tidak adil karena hanya melingkupi kepentingan tertentu saja. Nah, proses kedua ini berkaitan dengan proses ketiga yaitu sistem patriarki yang juga disebut sebagai aspek kultural/jender seperti wewenang & kekuasaan yang khasnya ditujukan hanya bagi lelaki. Inilah masalah utamanya, bahwa pada bagian patriarki ini, lelaki menjadi lebih utama daripada yang lain. Ini bisa diukur dari kekuasaan dan daya beli yang dipegang oleh lelaki. Mari kita uji bersama, dengan menyakiti atau tidak mengakui wewenang dan kekuasaan hanya pada lelaki, maka kita tidak mengorbankan manusia karena apabila demikian justru wanita yang berada di bawah kuasa lelaki. Berarti ada makhluk yang tidak mendapatkan keadilan dan kesetaraan.
           Kuncinya sebenarnya adalah hubungan yang memanusiakan, yaitu hubungan antar manusia, bukan lagi hubungan lelaki perempuan, melainkan antara dua subjek yang setara sehingga orang tidak akan pergi karena ada yang lebih menggiurkan atau menjanjikan. Orang mencoba untuk setia. Dengan berpatokan pada kesimpulan tersebut, A pun menimbang dengan matang keputusannya untuk bersama Rik sebagai kekasih terakhirnya. A telah melakukan penilaian terhadap kesamaan sistem yang dibangun antara keduanya, bahwa mereka memiliki prinsip tidak menuntut pergantian iman, tidak ingin menjadi pemimpin, tidak merasa lebih berwenang, tidak melepaskan tanggung jawab kontrasepsi pada wanita, dan memberikan kebebasan sebanyak menginginkannya. Artinya bahwa hubungannya setara antara lelaki dan wanita. Hubungannya telah melalui tahap seksualitas yang tulus dan tidak berhenti di sana. Hubungannya telah meningkat menjadi hubungan antar manusia. A dan Rik akhirnya menikah secara agama, tidak secara sipil karena hanya agamalah yang tidak memiliki sistem patriarki dalam menjalani kehidupan pasca pernikahan. A dan Rik melangsungkan upacara pernikahan di kapel sekolahnya, di Kota Hujan. Upacara tersebut sekaligus menjadi saksi kepulangan A kepada memori masa kecil yang sempat terputus.

           Saya pribadi setuju dengan konsep “hubungan yang memanusiakan”. Sejatinya, setiap makhluk baik itu lelaki maupun wanita memilliki hak dan kewajiban yang sama dalam hidup ini. Apalagi dalam hal sebuah hubungan yang melibatkan dua insan. Bahwa setiap manusia tidak berhak menghakimi orang lain, memasuki teritorinya, apalagi menguasainya. Itulah esensi dari setia pada manusia daripada lelaki. 

Minggu, 11 Agustus 2013

Aleph : a review

         Novel Paulo Coelho yang kedua bertajuk Aleph. Berbeda dengan novel The Alchemist yang saya baca sebelumnya, Aleph memiliki kandungan makna yang lebih filosofis, dengan bahasa yang lumayan berat, membuat saya mengernyitkan dahi ketika membacanya. Aleph menceritakan tentang pergulatan batin seorang Paulo Coelho dalam mencari makna hidup. Perjalanan panjang yang dilakukannya sebagai wujud kontemplasi, mencari pengalaman baru, dan perasaan baru selalu dilakukan di tiap novelnya. Aleph, perjalanan dari Moscow menuju ke Vladivostok sejauh 9,288 Km menggunakan Trans-Siberian Railway. Sebelum ia memutuskan melakukan perjalanan, ia kerapkali berkonsultasi dengan psikolog hatinya, J.
        “In magic-and in life- there’s only the present moment, the now. You can’t measure time the way you measure the distance between two points. “Time” doesn’t pass. We human beings have enormous difficulty in focusing on the present; we’re always thinking about what we did, about how we could have done it better, about consequences of our actions, and about why we didn’t act as we should have. Or else we think about the future, about what we’re going to do tomorrow, what precautions we should take, what dangers awaits us around the next corner, how to avoid what we don’t want and how to get what we have always dreamed of”
        “Right here and now, you are beginning to wonder : is there really something wrong? Yes, there’s. But at this precise moment, you also realize that you can change your future by bringing the past into the present. Past and future exist only in our memory. It isn’t what you did in the past that will affect the present. It’s what you do in the present that will redeem the past and thereby change the future”
       “Wherever you are committed to going, find out what you have left unfinished, and complete the task. God will guide you, because everything you ever experienced or will experience is in the here and now. The world isbeing created and destroyed in this very moment. Whoever you met will reappear, whoever you lost will return. Don’t betray the grace that was bestowed on you. Understand what is going on inside you and you’ll understand what’s going on inside everyone else”
         Dalam perjalanannya, ia bertemu banyak hal yang baru. Salah satu yang mencuri perhatiannya sejak awal adalah seorang gadis, 21 tahun bernama Hilal. Hilal adalah seorang violinist yang memiliki masa lalu kelam, menjadi objek sexual-abuse oleh ayahnya sendiri. Suara hatinya makin nyaring mengumandangkan banyak sekali asumsi. “That’s what marks out the warrior : the knowledge that willpower and courage are not the same thing. Courage can attract fear and adulation, but willpower requires patience and commitment. Men and women with immense willpower are generally solitary types and give off a kind of coolness”. Hingga ketika ia tak sengaja membaca sebuah artikel mengenai Chinese bamboo, ia pun tertegun. “Chinese bamboo : it apparently spends 5 years as a little shoot, using the time to develop its root system. And then, from one moment to the next, it puts on a spurt and grows up to 25 meters high. That’s what I wanted.  If I believe I will win, then victory will believe in me. No life is complete without a touch of madness, or what I need to do is to re-conquer my kingdom. If I can understand what’s going on in the world, I can understand what’s going on inside myself”.
          Ia adalah penulis dengan karya membumi yang dinikmati oleh hampir jutaan pembaca. Perjalanan yang ia lakukan tak hanya untuk mendapatkan kembali kerajaan kehidupannya, namun juga untuk bertemu dengan para pembacanya. “No one can learn to love by following a manual, and no one can learn to write by following a course. I’m not telling you to seek out other writers but to find people with different skills from yourself, because writing is no different from any other activity done with joy and enthusiasm.
         Salah satu kata mutiara yang membuat saya bergidik adalah : “Writing is, above all, about discovering myself. If I had to give you one piece of advice, it would be this : don’t be intimidated by other people’s opinions. Only mediocrity is sure of itself, so take risks and do what you really want to do. Seek out people who aren’t afraid of making mistakes and who, therefore, do make mistakes. Because of that, their work often isn’t recognized, but they are precisely the kind of people who change the world and, after many mistakes, do something that will transform their own community completely” It’s all true. I am about to implement what I am dreamed of. And this quote arouse my mood to the sky.
          Interaksi intens, kedekatan dengan sosok Hilal, membawanya masuk ke dalam memori lama. Energi yang entah datang dari mana, bertemu dan menimbulkan sebuah gejolak dalam diri. Sepertinya, mereka ditakdirkan untuk saling mengisi, mengisyaratkan pertanda, dan berbagi firasat. ItulaH Aleph. “The small aleph always appears by chance. You’re walking down a street or you sit down somewhere and suddenly the whole universe is there. The first thing you feel is a terrible desire to cry, not out of sadness or happiness but out of pure excitement. You know that you are understanding something that you can’t even explain to yourself. The great aleph occurs when 2 or more people with a very strong affinity happen to find themselves in the small aleph. Their 2 different energies complete each other and provoke a chain reaction. Their 2 energies are the positive and negative poles you get in any battery; the power makes the bulb light up. They’re transformed into the same light. Planets that attract each other and end up colliding. Lovers who meet after a long, long time. The second aleph also happens by chance when two people whom destiny has chosen for a specific mission in the right place. The right place means either 2 people can spend their whole life living and working together or they can meet only once and say good bye forever simply because they didn’t pass through the physical point that triggers an outpouring of the thing that brought them together in this world. So they part without ever quite understanding why it was they met. However, if God so wishes, those who once knew love will find each other again”. Aleph terjadi pada siapapun juga, tak peduli ruang dan waktu. Saat dua insan bertemu, kedua energi tersebut bereaksi membentuk sebuah konklusi, apakah dapat dilanjutkan ataukah hanya lewat begitu saja. Bila dua hati mempercayai konklusi timbullah efek tarik menarik sehingga mau tak mau, dua hati berpadu satu. Inilah yang terjadi saat tokoh utama bertemu Hilal. The small Aleph, called love at the first sight happened and the great Aleph, also come irresistible.
         Setelah Aleph terungkap, sang tokoh utama mempertanyakan mengenai makna hidup dalam perjalanannya. Namun, semua berakhir pada satu titik dimana dalam sebuah perjalanan, pastilah ada pengalaman. Inilah yang menjadi ajang pendewasaan kita menghadapi berbagai masalah, baik kecil maupun besar. Tak peduli sedemikian terkenal dan sukses dirimu, saat kau memutuskan untuk melakukan perjalanan, jiwa sahaja akan muncul begitu saja dan memberitahu siapa sesungguhnya dirimu. Let God use your hands. You will be happy, even if right now you feel only despair.  “It takes a huge effort to free yourself from memory, but when you succeed, you start to realize that you’re capable of far more than you imagined. You live in this vast body called the Universe which contains all the solutions and all the problems. Visit your soul, don’t visit your past. The universe goes through many mutation and carries the past with it. We call each of those mutations a “life”, but just as the cells in your body change and yet you remain the same, so time doesn’t pass, it merely changes. Life is a train with many carriages. Sometimes we’re in one, sometimes we’re in another, and sometimes we cross between them. When we dream or allow ourselves to be swept away by the extraordinary”.
          Afterwards, Aleph adalah novel yang sarat muatan filosofis yang kental, penuh warna dalam tiap bab-nya, dan alur cerita yang menawan. Dalam perjalanan, ada saja kejadian yang dapat diambil hikmah, disandingkan dengan makna kebenaran pencarian manusia dalam dimensi hidup. Walaupun demikian, ada beberapa bagian yang membuat saya agak bingung. Tak seperti The Alchemist yang relatif ringan, dalam Aleph, Paulo Coelho memasukkan penjelasan mengenai ritual sekte agama yang sayangnya saya tidak tahu sama sekali sehingga membuat distorsi yang tajam terhadap pemahaman saya. Perlu dua hingga tiga kali, apalagi novel yang saya baca berbahasa inggris, untuk sekedar tahu arti dari diksi sekte yang lumayan njelimet. Ya, anggap saja, seperti menonton film thriller Hollywood dimana sekte selalu dijadikan suatu senjata atau penyimpangan. But, after all, Aleph membawa warna tersendiri dalam koleksi novel saya. Tak sabar rasanya untuk membaca karya kaliber Paulo Coelho berikutnya. Chiayo!
          I present this thought for the one who transformed to be an Aleph of my realm.
          Signs are an extremely personal language that we develop throughout our lives, by trial and error, until we begin to understand that God is guiding
           …Follow the signs! until we meet again for days..

The alcemist : a review

        Filosofis dan elegan dalam penyampaian. Demikianlah, Paulo Coelho, dengan banyak karya fenomenalnya mampu menyihir para pembaca dengan ide, imajinasi, dan plot cerita yang menawan. Dari belasan novel karyanya, baru dua novel yang saya baca. Pertama, The Alchemist yang merupakan novel terlaris dengan gaya bahasa metafora. Kedua adalah Aleph, masih dengan gaya bahasa filosofis yang sarat akan muatan moral dan bumbu imajinasi. Dua novel tersebut memiliki perbedaan baik ide cerita maupun plot, namun tetap memiliki benang merah yang sama yaitu sebuah perjalanan mencari makna kehidupan dengan perang batin yang menggelora di tiap babnya.
        The Alchemist, menceritakan perjalanan sang tokoh utama bernama Santiago, seorang penggembala domba, dari Andalusia menuju ke Mesir, tempat Pyramid dibangun. Awalnya, Ia sangat bingung dengan kehidupannya. Ia adalah seorang penggembala yang senang berkelana. Namun, bila Tuhan tak mengizinkan ia menjadi pengelana, ia akan terus hidup bersama domba-dombanya. Toh, ia sudah senang. Keinginan melakukan perjalanan panjang kian membuncah ruah tatkala ia bertemu dengan Raja Tua. Dengan arif dan bijak, beliau membisikkan kalimat-kalimat penyemangat :
        “Satu-satunya kewajiban sejati manusia adalah mewujudkan takdirnya. Semuanya satu adanya. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya. Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka. Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai menyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu. Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudka takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu sebab ada satu kebenaran mahabesar di planet ini, siapa dirimu, apapun yang kamu lakukan, kalau engkau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tersebut bersumber dari jiwa jagat daya. Itulah misimu di dunia ini”
Dan beliau pun memberikan dua batu, Urim dan Tumim. Dimulailah pergulatan dalam pencarian takdir diri. Ia menyebutnya harta karun. “Supaya menemukan harta karun itu, kau harus mengikuti pertanda-pertanda yang diberikan. Tuhan telah menyiapkan jalan yang mesti dilalui masing-masing orang. Kau tinggal membaca pertanda-pertanda yang ditinggalkan-nya untukmu. Dan teruslah memperhatikan pertanda-pertanda. Hatimu masih bisa menunjukkan padamu dimana harta karunmu berada. Yang masih perlu kau ketahui adalah sebelum mimpi bisa terwujud, Jiwa Dunia menguji segala sesuatu yang telah kita pelajari sepanjang jalan. Bukan karena dia jahat, melainkan agar selain mewujudkan impian kita, kita juga menguasai pelajaran-pelajaran yang kita peroleh dalam proses mewujudkan impian itu. Dan di titik inilah kebanyakan orang biasanya menyerah. Seperti biasa kita katakana dalam bahasa padang pasir, di titik inilah orang biasanya mati kehausan, padahal dia sudah melihat pohon-pohon kurma di kejauhan. Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si pemula. Dan setiap pencarian, diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang”
         Perjalanan panjang nan pelik membuahkan pertanyaan sepanjang jalan. Dari mulai bertemu dengan penipu ulung hingga keberuntungan yang tak kunjung padam. Dari pemuda yang tidak memiliki harta sepeser pun hingga menjadi saudagar-wanna-be dengan tabungan melimpah ruah. Seringkali ia merenungi takdirnya. Hingga ia pun bertemu dengan banyak orang yang tanpa sadar mempengaruhi pola pikirnya. Simak saja tuturan dari suara hatinya sendiri yang terinspirasi dari perkataan Raja Tua, guru bijaknya, serta ketika ia akhirnya bertemu dengan The Alchemist, sahabat setengah perjalanan mencari harta karun abadinya : “Manusia tidak perlu takut akan hal-hal yang tidak diketahui, kalau mereka sanggup meraih  apa yang mereka butuhkan dan inginkan”. Pula ketika ia ragu mengenai masa depan yang ia ingin raih : “Masa depan adalah milik Tuhan dan hanya Dia-lah yang bisa mengungkapkannya dalam keadaan-keadaan tertentu. Bagaimana caraku menebak masa depan? Berdasarkan pertanda-pertanda yang ada sekarang ini. Rahasianya ada pada saat sekarang ini. Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang, kau bisa memperbaikinya. Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini, apa yang akan datang juga akan lebih baik”
       “Apapun yang kita amati, kita bisa menemukan kaitannya dengan pengalaman kita sendiri pada saat itu. Sebenarnya bukan hal-hal yang kita lihat itu yang menjadi pengungkap sesuatu, melainkan karena manusia, saat melihat apa-apa yang terjadi di sekitar mereka, bisa menemukan cara untuk menembus Jiwa Dunia. Kalau kau menginginkan sesuatu sepenuh hatimu, saat itulah  kau berada amat dekat dengan Jiwa Dunia. Dan ini selalu merupakan daya positif”
Ketika ia tersadar mengenai sebuah firasat yang ia dapat dari suara hati, ia pun bertanya pada diri. Disitulah gejolak perang batin muncul kembali dan Sang Alkemis pun berperan penting dalam pengambilan keputusan : “Intuisi sebenarnya adalah peleburan jiwa dengan begitu saja ke dalam arus kehidupan universal, dimana sejarah semua manusia saling terkait dan kita bsia mengetahui segalanya, sebab segalanya telah tertulis disana. Maktub. Mengambil keputusan barulah permulaannya. Saat orang mengambil keputusan berarti dia menceburkan diri dalam arus deras yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dibayangkannya ketika dia pertama-tama mengambil keputusan tersebut”. Dan Santiago akhirnya sampai pada harta karunnya, pada takdirnya.
         Banyak hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran di tiap bab-nya. The Alchemist memiliki plot cerita yang mudah dimengerti sekalipun oleh pembaca pemula yang awam pada novel filosofis sekaliber Paulo Coelho. Ceritanya mengalir apa adanya dengan fluktuasi emosi yang tak terlalu menggebu, namun terasa syahdu dalam hati;   bahasa metafora nan menawan, simpel namun tetap elegan, tak meninggalkan ciri khas dari tiap karya Paulo Coelho. Tokoh Sang Penggembala, Santiago, pun digambarkan dengan lugas walau tak terlalu detil, Raja Tua dengan arif bijaksana, dan Sang Alkemis dengan penggambaran yang kuat membawa pembaca terhanyut dalam jalinan frasa bermakna. Kata-kata mutiara, seperti yang saya tuliskan di atas, adalah kekuatan terbesar dalam novel ini. Paulo Coelho dengan sukses memasukkan pemahaman budi pekerti yang juga terdapat di agama Islam dalam tiap nafas cerita. Tak terlalu dalam memang, namun tak dangkal pula. Beberapa kali saya termenung, saat Santiago ditipu dalam perjalanan, kemudian ia memasrahkan diri, mengikhlaskan, dan sibuk bekerja keras, tak pula menabung. Perjuangannya dibalas dengan tabungan yang berlipat ganda sehingga membuka kesempatan emas untuk melanjutkan perjalanan menuju harta karunnya. Menuju Pyramid. Apa yang kau tanam, itu pula yang kau tuai. Tawakal dan bersyukur adalah kunci kesuksesan hakiki. And The Alchemist has explained it very well.

Senin, 31 Desember 2012

Habibie-Ainun : Antara Nasionalisme dan Cinta Sejati

Satu lagi film lokal yang membuat bulu kuduk merinding disko. Bukan karena horror yang sedang hits menjamur di bioskop kesayangan tiap kota, namun karena judul film karya sineas muda tanah air yang membawa angin segar bagi perkembangan perfilman Indonesia. Ide yang diangkat pun tak muluk-muluk. Biografi tokoh besar, sang jenius pencetus industri pesawat terbang pertama di Indonesia, Prof. DR (HC) Ing. Dr. Sc. Mult Bacharuddin Jusuf Habibie, Bapak Teknologi Indonesia. Film tersebut diadaptasi dari buku biografi best-seller dengan judul yang sama. Walaupun (lagi-lagi) saya belum berkesempatan untuk membaca sebelum menontonnya, namun saya yakin ceritanya pun pasti hidup. Lha wong biografi tokoh besar, masa dibuat-buat? Namun (lagi-lagi) satu yang pasti bahwa apabila kita ingin mengetahui detail kisahnya, maka bukulah jawabannya. No other things can replace the power of book, even more the movie. It just can visualize the story into reality setting, not your imagination.
          Film ini berkisah tentang perjalanan hidup Habibie dari masa muda hingga masa lanjutnya. Adegan awal dibuka dengan flash-back tentang masa sekolah seorang Habibie dan awal pertemuannya dengan Ainun. Mereka satu SMA dan sama-sama memiliki otak encer. Mereka melanjutkan perkuliahan di universitas dan jurusan yang berbeda. Habibie muda memilih jurusan Teknik Mesin di ITB dan melanjutkan hingga jenjang S3 di Jerman sedangkan Ainun muda memilih mengabdi menjadi dokter. Mereka bertemu muka kembali setelah sekian lama. Habibie muda berniat melamar Ainun dan menikahinya. Rencana beliau berjalan mulus. Ainun dipersunting Habibie dengan adat jawa bernafas islami. Kehidupan awal pernikahan, mereka jalani di Jerman. Habibie yang kala itu sedang dalam proses menyelesaikan kuliah S3-nya pun harus bahu membahu menafkahi keluarga kecilnya, dengan proyek dan mengajar. Bermodalkan kejeniusan dan kerja keras, mereka dapat bertahan hidup di Jerman. Kesederhanaan dan saling menghargai adalah kunci kelanggengan kehidupan di negeri seberang. Setelah dikaruniai dua anak, Ainun memutuskan untuk bekerja kembali, mengabdi menjadi dokter di Jerman. Pada saat yang bersamaan, Habibie yang pada saat itu telah merampungkan S3-nya menyurati Pemerintah Indonesia. Beliau berniat untuk pulang ke Indonesia, mengabdikan diri dengan memajukan infrastruktur Indonesia yang saat itu menjadi fokus utama pemerintah. Namun nihil, penawarannya ditolak. Ia pun memutuskan untuk mencari pengalaman bekerja di sebuah industri di Jerman. Hingga akhirnya, doanya pun terkabul. Ia diminta oleh pemerintah Indonesia untuk mendarmabaktikan ilmunya di Indonesia. Jiwa nasionalisme yang ia pendam dalam hati, menyeruak keluar, menggebukan tiap degub jantung menjadi semangat yang menderu. Bermodalkan tekad membara dan ide brilian, ia pulang ke Indonesia disusul oleh Ainun dan anak-anaknya. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) di Bandung adalah awal mula implementasi kejeniusan seorang Habibie. Kerja keras, pantang menyerah, dan dedikasi tinggi terhadap bangsa adalah modal utama yang membuat pesawat N250, pesawat pertama karya anak bangsa diluncurkan pertama kali pada tanggal 10 Agustus 1995. “Saya berjanji suatu hari nanti, saya akan membuatkanmu truk yang bisa terbang” Janji Habibie pada Ainun terbayarkan sudah. Setelah mendulang sukses dengan pesawat N250, Habibie pun dipercaya menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi merangkap sebagai kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yaitu membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Dibawah kepemimpinannya, Indonesia memiliki industri strategis seperti IPTN, Pindad, dan PAL. Selama 20 tahun menjadi Menristek, melalui Sidang Umum MPR, Habibie terpilih menjadi Wakil Presiden Indonesia ke-7 pada tanggal 11 Maret 1998. Tak lama dari itu, Soeharto mundur dan digantikan oleh Habibie sebagai Presiden RI. Bertepatan dengan momen tersebut, Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, lama-lama akan tercium juga. Demikian kiasan yang menggambarkan kondisi Indonesia era 1998. Eksklusifisme, otoriterisasi, bercampur dengan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dibungkus dalam kemasan apik nan menawan sehingga menipu para insan yang merasakan. Semua terasa murah dan murah. Dibalik itu semua, hutang menggunung. Politik seakan permainan berduit yang menjanjikan. Demikianlah, pemerintahan selanjutnyalah yang menjadi korban. Reformasi pun membuncah hebat bagai luka bisul yang tiba-tiba pecah dan bernanah. Banyak pro dan kontra dalam kebijakan yang dibuat semasa pemerintahan Habibie. Carut marut sendi pemerintahan Indonesia baru terungkap. Pada putaran pemilihan presiden berikutnya, Habibie tak mencalonkan diri. Beliau memilih untuk menghabiskan masa hidupnya di Jerman. Bulan madu kembali sambil mengenang masa muda di Jerman bersama Ainun. Pada masa inilah, Habibie ingin menghabiskan detik demi detik bersama Ainun, istri yang telah dengan setia mendampingi, menjaga, dan mendukung tiap langkahnya. Namun, ternyata ada hal yang selama ini Ainun tutupi dari Habibie yaitu mengenai kesehatannya. Ia divonis dokter mengidap kanker ovarium stadium 4. Hal ini membuat Habibie merasa bersalah. Beliau habiskan puluhan tahun untuk mengurusi karier dan mengabdi untuk bangsa, Ainun pun dengan telaten mengurus dirinya, tak pernah lupa mengingatkannya untuk minum obat dan menjaga kesehatannya. Ainun tak pernah mengeluh walaupun ternyata ia dalam keadaan sakit. Menghadapi kenyataan tersebut, Habibie tak mau membuang waktu. Beliau bawa Ainun ke Jerman untuk pengobatan. 9 kali operasi dan puluhan obat yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Kanker telah menyebar ganas. Manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Pada tanggal 22 Mei 2010, 10 hari setelah ulang tahun pernikahan mereka, Hasri Ainun Besari Habibie meninggal dunia di LMU Klinikum Munchen, Jerman. Ainun Habibie memang sudah tiada, namun kesetiaannya mendampingi suaminya di tiap kondisi kehidupan menjadi pelajaran yang patut dicontoh oleh setiap istri dimanapun. Beliau adalah manifestasi dari sebuah pepatah kuno, dibalik kesuksesan pria ada wanita hebat dan sabar dibelakangnya.
            Film yang berdurasi kurang lebih 140 menit ini menyedot perhatian sebagian besar warga khususnya masyarakat kota kecil seperti Bogor untuk menontonnya. Kenapa saya bisa bilang begitu? Menurut survey kecil-kecilan yang saya buat sendiri bahwa di salah satu bioskop 21 termurah di Bogor, untuk jadwal tayang pukul 17.05 tiketnya telah habis terjual dari jam 13.30. Ini bukan pada saat premier saya menyurveinya, bukan pula  saat tanggal merah, namun pada hari Sabtu 3 hari menjelang pergantian tahun. Dalam hati kecil, saya heran dengan membludaknya jumlah penonton. Namun, ketika saya analisa kembali, mungkin salah satu alasannya adalah masyarakat urban sudah bosan dengan deretan pilihan film Indonesia yang ditawarkan di bioskop. Dari semua genre, film horror dan humor berbalut adegan seksi para artis wanitanyalah yang mendominasi, menduduki peringkat wahid. Rasanya terlalu rugi mengeluarkan kocek 25 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah untuk menonton film demikian. Hello, Movie Crew! The audiences need inspirational and educational movie. Habibie-Ainun is an answer. We want more!
Kisah Habibie dan Ainun merupakan perjalanan hati menapaki sebuah cinta sejati. Rasa nasionalisme yang memang ada di dalam jiwa Habibie menjadikan cinta sejati tersebut menyebar bagai virus ke dalam sendi tiap insan yang menyaksikan. Kisah mereka pun memberikan pelajaran yang berharga bagi siapa pun. Beliau bersekolah dan meniti karier dari bawah di negeri seberang, tanpa beasiswa. Namun, ia tak lekas balas dendam dengan kalap mencari materi berlimpah dan tahta menggiurkan. Memang, kekurangan pemerintah Indonesia adalah kurangnya penghargaan bagi anak bangsa  brilian seperti Habibie sehingga tak sedikit diantara mereka yang memilih untuk berkarya dan menetap di luar negeri, lupa akan tanah airnya. Namun, mengeluh sebelum menghasilkan karya hanya akan mematikan kesempatan dan bertransformasi menjadi kesempitan. Contohlah semangat nasionalis Habibie, panutlah setia dan sahaja Ainun.
Film garapan Hanung Bramantyo, Habibie dan Ainun, berhasil menutup tahun 2012 ini dengan sebuah inspirasi nasionalis nan mendidik. Habibie dan Ainun telah membawa semangat juang baru bagi kita semua untuk menyongsong awal tahun 2013. “Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapun” -B.J.Habibie
Habibie-Ainun : Cinta sejati memang tak akan pernah mati.