Tampilkan postingan dengan label Pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

March 2012: The Longest Training Ever! #3


#3 : Farewell
HARI TERAKHIR. Pukul 15.00 WIB, pihak Premysis yaitu Bu Silfa mengajak kami semua untuk mengadakan perpisahan di sebuah tempat karaoke. Sebenarnya, saya pribadi malas untuk ikut karena 4 orang yang juga tidak ikut, ada urusan pekerjaan katanya. Tapi, saya tidak ada urusan apa-apa dan saya pun malas untuk mengada-adakan alasan. Terpaksalah saya ikut berkaraoke ria yang akhirnya diputuskan di tempat karaoke Family, Plaza Semanggi. Perkiraan saya adalah saya bakal mati gaya. No singing for me because of I was no comfortable to express myself amidst them. Benar saja. Saya hanya terbengong-bengong sambil berpura-pura menikmati. Padahal, nothing! I was so bored! Bayangkan saja, semua pemilihan lagu dimonopoli oleh kaum adam dengan genre rock, dangdut, dan lagu-lagu jawa serta sunda. OH I trapped  in a wrong path. That was NOT my type. Ditambah lagi beberapa hal yang tidak saya duga sebelumnya yaitu mereka merokok dalam ruangan AC; pesan minuman keras tanpa menghiraukan saya, sang minoritas; dan melewatkan waktu beribadah begitu saja. Tapi anehnya mereka biasa saja. Saya yang tidak biasa dengan sikap mereka. Ya, mau memberitahu pun sulit ya, kondisi saya terjepit. Untung saja ada teman sebangku saya yang bernama Pak Sentot, dia dijemput oleh supir kantornya. Kebetulan sekali, saya pun ikut sampai ke stasiun Cawang. Kami keluar dari “perangkap” tersebut pukul 18.00 WIB. Kami menunggu supir dan karena macet, supirnya pun baru sampai hampir jam 19.00 WIB. Kami pun tancap gas, namun kemacetan memerangkap kami di tengah lautan kendaraan. Kemacetan sudah menjadi suatu musibah bagi semua pengguna jalan. Bayangkan saja, waktu yang kata pepatah adalah uang, rela dibuang-buang secara cuma-cuma. 1 jam kami terperangkap hingga akhirnya pukul 20.00 WIB, kami tiba di Cawang dan setelah turun mobil, saya tancap gas membeli tiket dan masuk dengan penuh perjuangan ke dalam gerbong wanita. Rasanya sungguh WOW, campuran antara pegal di seluruh badan, sakit pinggang, sakit punggung, dan pusing ditambah saya berdiri sampai Bogor. Lelah? Pasti. Senang? Pasti, tidak. Farewell party yang tidak akan pernah saya lupakan dan keminoritasan saya yang terlupakan.
Yeah. Banyak hal yang saya dapat petik dari training 3 minggu ini diantaranya adalah saya menjadi semakin kaya akan pengetahuan dan cara menghadapi orang dengan berbagai karakter, apalagi gender laki-laki. Dalam suatu pertemanan, prinsip dasar kita tidak boleh tergoyahkan dan jangan sampai terpengaruh prinsip yang berseberangan, namun hal yang perlu dikembangkan adalah tetap baik, bersilaturahmi, dan saling berbagi informasi positif.
          Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan seseorang, suatu grup, atau kelompok. Tulisan ini hanya sebagai sharing ekspesif antara saya, tombol-tombol keyboard, layar laptop, modem, microsoft word 2007 version, dan tentu saja blogspot sebagai pilihan virtual diary pribadi saya. Mostly, my days will be SUPERB! 'cause of much stories among "strange" but funny and smart people. Hope we'll get the best for our next project ahead :)
 

March 2012: The Longest Training Ever! #2


#2: Being certified General OHS Expert (AK3)
3 minggu bukanlah waktu yang singkat. Namun, kami merasa sebaliknya. 3 minggu benar-benar telah membuat otak kami panas dan berasap. Bagaimana tidak? sehari kami bisa melahap 1 hingga 3 buku plus Undang-Undang serta tugas dan PR yang dikumpulkan keesokan harinya. Suatu beban mental yang cukup pelik ketika kami mengingat akan ujian post-test yang akan diadakan pada minggu terakhir dari training. Ujiannya tidak main-main. Ujian tersebut menentukan nasib kelulusan kami. Apakah kami akan membawa sertifikat kelulusan, lencana, dompet AK3, dan kartu kewenangan AK3 atau hanya membawa seonggok ucapan terima kasih dari Premysis Consulting karena telah “menyumbang” delapan setengah juta untuk kesuksesan training AK3? That’s a stressful matter for me and others of course after we heard an opening speech from the leader of department supervision of labor norms, Mrs. Elizabeth. mau dibawa kemana hubungan kita? oh buku-ujian-nilai-sertifikat..
Minggu pertama dan kedua kami disibukkan dengan mendengarkan ulasan, ceramah, serta menyelesaikan pertanyaan atau latihan dari trainer. Have you imagine that listening to the trainers or teachers would become so tired instead of boring? Yeah. itulah keluhan kami. Namun, trainer dibayar untuk berbicara ya mau boring kek ataupun asyik kek itu urusan mereka, kami kan cuma murid. Dari zaman dulu pun murid membayar untuk mendengarkan guru mengajar. Perkara bosan atau capek itu sudah konsekuensinya. Ya, membayar untuk bosan. But, everything have to be changed! trainer-trainer yang berasal dari Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengajar dengan baik dan sesuai ekspektasi yaitu semangat dan menarik namun, no body’s perfect. Ada satu trainer bergender wanita yang sudah menjadi ibu (expected from the face, hehe), beliau mengajar mengenai pengawasan K3 terhadap listrik, pemadam kebakaran, dan kosntruksi. First impression, she was so gorgeous, smart, and beautiful.  When she came to the class, our eyes esp. the males couldn’t take of off her. We waited for her presentation. First minutes, she is great. Second minute, she start kinds of a crunchy joking. Another minutes until last, her performance wasn’t as gorgeous as we expected before. She taught very rushing and the presentation was running from one file to another file. hmmm.. no body’s perfect. Thanks ma’am, I know the performance which could make audience unenthusiastic.
Minggu ketiga adalah minggu perjuangan panjang untuk mendapatkan kelulusan. Dimulai dengan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang diselenggarakan di Hotel Harris kemudian mencoba belajar kelompok dengan mengerjakan contoh-contoh soal tahun lalu serta menandai setiap bab Undang-Undang agar bila kepepet dapat langsung membuka buku tebal perundangan yang kemudian kami namakan “kitab”. Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami ujian. Post-test. WOW. Rasanya campur aduk antara tidak percaya diri dan merasa tidak pantas untuk lulus. Bayangkan saja. 9 buku plus 1 buku perundangan harus kami lahap dalam semalam. Jurus SKS pun dilancarkan. Kita lihat apakah SKS kita berhasil atau menguap. WOOHOO.
Saat pengawas membagikan soal, hatiku berdegub keras, sekeras ketika terlalu banyak mengonsumsi kafein dalam kopi instan segelas mug besar. WOW. 100 soal pertama 1,5 jam. 100 soal kedua 1,5 jam. istirahat. 10 soal essay 2 jam. Semua kami lahap habis bis bis. Di tengah-tengah ujian, ternyata Tuhan mendengar doa kami. Doa kami tidak muluk-muluk. Kami berharap, pengawas ujian mengantuk lalu keluar ruangan untuk sekedar mengobrol dengan tim Premysis atau ke toilet atau kemungkinan terburuknya ya tidur di ruangan. Hehehe. Doa yang buruk mengakibatkan hasil yang sangat buruk. Namun, kami melawan gravitasi. Kami pun melancarkan jurus terakhir untuk mempertahankan diri dari terinjaknya harga diri kami bila dinyatakan tidak lulus. Jurus anak sekolahan hingga jurus anak kuliahan pun berhasil. Tinggal menunggu hasilnya dibacakan besok, apakah kami lulus sehingga tidak perlu ikut tes perbaikan atau sebaliknya. Mari berdoa kembali.
Keesokan harinya…
12 orang = 6 orang lulus + 6 orang tidak lulus. Saya? Alhamdulilah saya lulus!! WOOHOO. Doa saya terkabul. Thanks Allah! Dengan hati dag dig dug serr ditambah tangan yang masih dalam keadaan dingin karena AC yang memang dingin plus kecemasan yang sangat, saya pun keluar ruangan dan mengerjakan tugas kelompok saya untuk presentasi PKL keesokan hari. Setelah istirahat, saya pun dibantu personil kelompok saya yang semuanya kecuali saya mengikuti ujian perbaikan.
Presentasi PKL.
Hari yang santai. Tinggal maju ke depan, mempresentasikan hasil PKL yang yaa seadanya, lalu pulang. WOOHOO. Namun, ternyata waktu berjalan sangat cepat. Pukul 14.00 WIB pihak kementrian baru mengumumkan hasil kelulusan secara formal. Walaupun saya bukan juara 1, namun saya sudah berusaha keras untuk mencapai kata LULUS sehingga tidak sia-sia saya berdesakan dan terombang-ambing dalam derasnya lautan orang di dalam tiap gerbong kereta. Mudah-mudahan kedepannya saya dan teman-teman bisa benar-benar mengimplementasikan semua bahan training dan perundang-undangan dengan baik dan sistematis sesuai amanah dan tanggung jawab yang telah digariskan dalam UU.No 1 tahun 1970, Permenaker No 3 tahun 1978, Permenaker No. 4 tahun 1987, dan Permenaker No. 2 tahun 1992.
“Jangan hanya menang di atas kertas, buktikan dong!” –Pak Rezzy: juara 1-

March 2012: The Longest Training Ever! #1


#1 : Training impression
Hello!! long time no write in my very own place on virtual world. Where have I been? Have I forgot about my own resolution as a new free blogger? Okay, let me answer the questions. First thing first, I would tell you about my activity last month. Well, since my boss told me to applied and joined Occupational Health and Safety training, my routine was totally changed. Because of the training was held at Hotel Harris, Tebet, South Jakarta, I decided to stay for awhile in Bogor. What a surprise! I could live in Bogor during my training. It was about 3 weeks I stayed in Bogor. Everyday, I went to Harris by train with track Bogor-Tanah Abang-Muara Angke which is left at 6 am. It was so great that I could wake up at 5 am and prepared everything nicely without rushing. But, as we knew the famous train condition, on every station stopped, people were so flooded and crowded. The crowded jostled people inside train-carriage, pushed on the other’s body which made them grumbled and mad. Hell yeah, that was one of morning disaster in every workdays. I got off the Tebet Station and you know, it needs special trick to struggle and being out of the train-carriage. Backpain and stiffness over my body.
OHS Training was held by Premysis Consulting at Hotel Harris, Jl Dr Sahardjo, Tebet, South Jakarta. This training was to produce certified General OHS Expert (Ahli K3 Umum) which will help ministry of labor and transmigration to implement OHS in their own company. My first day training was so wonderful. That was 12 trainees. 2 of them including me are female and 10 persons are male. I am the only one female who work on an FMCG corporation. Others have been working in a construction projects. Another female named Mrs. Novie has been married and her style was so boyish. I am the youngest girl among trainees and trainers. Again, I am the minority during 3 weeks training. Not a big deal but yeah felt like trapped in a man’s world doing and talking. The trainers were from ministry of labor and transmigration and Premysis Consulting, this training organizer. We had a leader in our batch. He has been working for decades and he is the oldest trainee among us. He’s name is Mr. Soenarto. Later, he always come late because he is a HRD manager in one of construction service and his boss push him to go to office before and after training. He’s the funniest trainee who always being crazy when talking and doing activities. He’s our favorite. We have a yel-yel to arouse our spirit : Safety First - yes..yes..yes.. Twice before and after training. 

What did we learned during 3 weeks? 9 training textbooks with 1 super-thick regulations book were being a “gift” from the trainers. First book is about the UU no. 1/1970, basic of OHS, and institutional of OHS. 2nd book is about OHS supervision of steam and pressure vessels, 3rd is about OHS supervision of mechanical, 4th is about OHS supervision of occupational health in work places, 5th is about OHS supervision of construction matters, 6th is about OHS supervision of fire extinguisher, 7th is about OHS supervision of electricity, 8th is about OHS supervision of work place environment, and the last is about OHS System and audit. Accepted many books and knowledge reminds me to being a student in a college again. There were so many active-teaching-methods with tasks and homework in almost everyday. There were a pre-test and post-test in 1st day and last day of training and we held internship at Hotel Harris to knowing about the implementation of OHS in hotel and comparing with all subjects that we’ve learned.
Everyday was like a roller coaster. I felt so busy to do all of the training process. 8 am to 5 pm with twice coffee break and once lunch break. Break time is our refreshing time. We always waiting for break time. 3 petite-four snacks with 3 choice of drinks: coffee, tea, or juice. We always joking or talking about each other OHS implementation then when the time’s over, we were into the classroom again. After 5 pm, the trainer gave us the soft-copies of current subjects then we went to home with a dizzy head condition. I always come back home with Mr. Soenarto. He brought a car and he droves thru the Tebet Station. It was really meant to me because I could catch an early train before much people flooded although I have to stand in front of person and wait her to sit me down. And after 1 hour, voila! Welcome home, Bogor. Sleep tight and wait me tomorrow, hey full-fighting-train!

Sabtu, 21 Januari 2012

WORKING : ATTENDING MUI EVENT


  World Halal Food Council (WHFC) MUI : January 16th 2012
         Pada tanggal 16 Januari 2012 kemarin, saya menghadiri salah satu event terbesar dalam sejarah percaturan halal dunia. Mengapa saya bisa bilang seperti itu? Yap karena acara tersebut adalah acara spesial yang melibatkan perwakilan kedutaan besar dunia yang tentu saja sangat concern kepada peredaran produk halal di dunia khususnya di Indonesia. Acara tersebut adalah First Annual General Meeting World Halal Food Council (WHFC) dan International Workshop “Indonesia’s Role for Strengtening Global Halal". Acara pertama adalah pembukaan general meeting WHFC oleh Wakil Presiden RI, Bapak Boediono yang bertempat di Istana Wapres Jl Medan Merdeka Selatan No 6 Jakarta Pusat. Sebelumnya, saya sempat nyasar juga nyari alamat tersebut. Bagian depan Istana tersebut sepi sekali dan salahnya saya adalah saya turun depan istana. Karena tidak ada aktivitas apa2 di depan istana maka saya pun berinisiatif bertanya ke penjaga disitu dengan tampang agak memelas, keringetan, dan ngos2an. Ternyata untuk tamu2 yang kurang penting seperti saya ini, kalau mau masuk istana ya harus lewat belakang-lah. Jiaaah. Tau gitu ga turun depan istana deh. Harus ongkosan lagi nih. Akhirnya saya pun menyetop sejenis bajaj tapi lebih bagus penampilannya di depan istana. Posisi istana bagian belakang itu memang agak jauh untuk jalan dan terlalu dekat untuk naik kendaraan. Saya pun ditipu oleh di supir. Untuk jarak sedekat itu harus membayar 10rebu. Tapi karena buru2 ya sudah dengan nada yang sebenarnya kurang ikhlas saya merelakan uang 10rebu untuk dia. Yaa itung2 amal deh *loh?* hehehe.
          Begitu saya masuk istana ya biasalah mesti dicek dulu tas danlainlainnya. Setelah itu saya bertemu dengan panitianya yang ternyata teman seangkatan tapi beda jurusan waktu kuliah. Saya pun dapat ID Card dan undangan lalu jalan deh ke gedung tempat acaranya yang agak jauh dari gerbang. Kesalahan kedua saya adalah saya lupa pake krim kaki dan kaos kaki karena sepatu saya berhak dan baru sekali pake ya jadi pas sampe gedung agak lecet2 dikit. Tapi semua terbayar setelah saya bertemu teman2 sejawat ketika kuliah. Ngobrol dan makan siang. Menu makan siangnya sebenarnya enak tapi semua makanan sudah banyak yang habis. Saya hanya kebagian sate, sambel, sop iga yang tinggal kacang merahnya, sama kerupuk. Menurut saya pelayanan cateringnya kurang bagus karena jumlah makanan yang disediakan tidak berbanding lurus dengan jumlah tamunya. Pelajaran untuk saya kalau sewaktu2 saya jadi panitia.
          Acara pembukaannya agak molor dan ngaret. Di jadwal acara jam 12.30 acara dimulai tapi pada kenyataannya karena menunggu wapres dan yang lainnya sehingga acara pun baru mulai jam 13.00. Acara pembukaan dimulai dengan sambutan presiden WHFC, penyerahan penghargaan oleh MUI kepada PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk sebagai national holding company, sambutan wapres, jabat tangan dengan wapres, dan ramah tamah. Acara yang paling berkesan untuk saya adalah jabat tangan dengan wapres karena ini kali pertama saya. Ya seenggaknya satu kali dalam hidup saya pernah berjabat tangan dengan salah satu tokoh penting yang berpengaruh di Indonesia. Acara selanjutnya adalah menghadiri workshop di hotel Gran Melia Kuningan. Karena saya sendiri maka saya pun ikut bis dari MUI untuk bersama2 ke Gran Melia. Di perjalanan ke parkiran, ga disangka ga diduga saya ketemu dengan teman seangkatan tapi beda jurusan lagi di acara tersebut. Dia bekerja di industri flavour di daerah cikarang. Alhamdulilah ada temen ngobrol dan jalan bareng ke Gran Melia. Sebelum naik ke bis, saya sempat berfoto dengan Habbiburahma El shirazy yang dikenal dengan panggilan kang Abik. Banyak diantara peserta acara dan panitia yang juga berfoto bersama dengan beliau. Ya kalo kata syahrini mah sesuatu banget ya. Hehehe. A great coincidence at all!! Selain bertemu dengan kang abik, saya pun banyak bertemu dengan dosen2 jaman kuliah. Ga ada istilah mantan dosen. Makanya saya selalu memposisikan diri saya sebagai murid beliau-beliau. Walaupun mereka tidak mengenal saya ketika kuliah karena saya tidak terlalu pintar2 banget, hehehe tapi di acara tersebut kami jadi lumayan akrab dan mudah2an bisa akrab terus amiin.
         Ketika sampai di Gran Melia, saya disuguhi oleh makan siang lagi. Ya karena di istana makan siangnya sudah tinggal sisa-sisa, maka saya pun makan lagi. Menunya lumayan tapi lagi-lagi menurut saya pelayanan cateringnya kurang sigap karena waitress membiarkan wadah lauk habis dan kosong begitu saja. Tidak ada penambahan lauk maupun nasi yang sudah tinggal seperempatnya. Setelah makan siang, saya dan teman saya solat zuhur dan registrasi. Kami diberi 2 tas penuh yang setelah dibuka isinya adalah workshop kit serta makanan dan minuman produk indofood sebagai sponsornya. Kemudian kami masuk ke dalam gedungnya. Mewah dan berkelas. Kami pun menghadiri international workshop tersebut yang banyak membahas mengenai peranan indonesia sebagai pusat halal dunia. Pembicara pertama adalah Dr Ir Bayu Krisnamurthi, MS dilanjutkan oleh Ir. Syukur Iwantoro MS, MBA, lalu Drs H Amidhan Shaberah dan testimoni perusahaan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur. Dari workshop tersebut dijelaskan mengenai alasan awal didirikannya WHFC yaitu karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar dan otomatis produk yang dipasarkan di indonesia pun harus produk yang halal. Hal ini merupakan suatu persyaratan yang wajib ditaati oleh setiap stake holder yang membidik pangsa pasar muslim di Indonesia.  Membicarakan tentang halal tidak hanya menyangkut soal bisnis dan ekonomi. Memproduksi dan mengkonsumsi produk halal merupakan kewajiban untuk umat muslim namun juga berdampak baik untuk penganut keyakinan lain karena halal tidak melulu soal agama. Halal is the way we do anything  and it’s for everybody, no matter who are they. Produk halal merupakan produk yang telah teruji menurut persyaratan Islam dari mulai bahan baku, proses, penyimpanan, transportasi, distribusi ke konsumen, hingga produk tersebut berada di tangan konsumen. Oleh karena itu, produk halal merupakan produk yang higienis dan sehat maka tidak heran negara-negara lain yang notabene memiliki penduduk muslim yang relatif sedikitpun lebih menyukai produk halal. Berdasarkan informasi dari presenter, 23% penduduk Jepang menyukai produk halal. Hal ini merupakan suatu peluang bagi para pengusaha untuk mengimpor dan mengekspor produk yang sudah jelas kehalalannya karena Halal is for everybody. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan Indonesia sebagai pusat halal dunia dan nantinya setelah konferensi WHFC berakhir akan disosialisasikan satu standar halal yang diakui oleh dunia. Acara WHFC ini dihadiri oleh pihak pemerintahan, kedutaan besar negara sahabat, organisasi masyarakat, perusahaan pemegang sertifikat halal, serta akademisi.
          Setelah selesai mendengarkan penjelasan dari tiap presenter, waktu telah menunjukkan pukul 16.30 yang menurut jadwal kami, para peserta, dipersilakan untuk menikmati coffee break dan sholat ashar. Saya dan teman saya memutuskan untuk sholat ashar. Ya karena keterbatasan dan kedaruratan maka pihak panitia hanya menyediakan tempat wudhu untuk wanita di wastafel kamar mandi yang artinya kami harus mengangkat kaki untuk membasuh bagian kaki. Apa boleh buat semua ibu-ibu pun melakukan hal yang sama. Sepintas terlihat lucu namun mengenaskan. Bagaimana untuk ibu-ibu yang menggunakan sarung atau rok? Idea always come on the tight condition. Setelah sholat, maka kami pun bergegas ke ruangan untuk menaruh mukena dan menikmati coffee break. Lagi-lagi pelayanan hotel yang nyantai dan terkesan tidak ter-manage dengan baik. Kami berkeliling untuk mencari sesuap kue dan hasilnya nihil. Kuenya habis dalam sekejap mata dan pelayanan masih duduk manis didepannya. Karena saya gemas melihat kerja mereka, maka saya datangi mereka dan meminta mereka mengisi wadah kue untuk coffee break karena saya lihat banyak ibu-ibu yang juga sholat bersama saya yang air mukanya kecewa tidak dapat kue. Setelah itu barulah 5 menit kemudian datang mbak-mbak waitress yang membawakan kue. Tidak banyak namun cukup untuk 20 orang apabila satu orang dapat jatah 2 kue. Hehehe. Saya dan teman saya pun mengambil jatah kami dan menikmatinya. Kue pastry isi setengah sosis sapi dan kue lapis surabaya yang saya yakin banyak pelembutnya pun habis kami lahap. Entah karena kedinginan atau kelaparan. Kemudian kami pun ke ruangan workshop. Workshop terakhir diisi oleh perwakilan kedutaan besar yaitu perwakilan dari IFANCA, HQC, dan AHCA. Kami mendengarkan dengan seksama penjelasan mereka. Native always make me feel awake. They have great pronounciation. I listened them carefully while I had learned about their type of speaking. I guessed some of them have a blood of India. They looks like Mahatma Gandhi both minds and looks.
       Workshop telah selesai dan ditutup dengan conclusion dan pembacaan doa. Setelah acara ditutup kami pun bergegas untuk sholat magrib dan mengambil sertifikat yang telah dijanjikan ketika registrasi sambil beramah tamah dengan para auditor, teman seperjuangan kala kuliah, pihak MUI, dan dosen. Waktu pun telah menunjukkan pukul 18.30, kami pun berjalan keluar mencari taksi ditengah kemacetan kuningan yang superb! Taksi yang kosong hanya satu akhirnya saya persilakan teman saya duluan dan karena tidak ada harapan untuk menunggu di pinggir jalan maka saya memutuskan masuk ke dalam hotel dan meminta bantuan petugas hotel. Saya dapat antrian nomor 2 dan dipersilakan menunggu di lobby. Saya menunggu hampir satu jam lamanya. Apabila genap satu jam saya tidak dapat taksi maka saya memutuskan untuk complain. 10 menit lagi genap 1 jam. Seakan tahu rencana saya, petugas taksi lari menghampiri saya dan membawakan tas saya. The taxy arrived on the right time finally. I came back to my kost safely. Great workshop, great journey, less catering service, and great dream that night. Hope we’ll see you guys again next time.